PDPI: Riskan jika gunakan vaksin yang belum terbukti efikasinya

PDPI: Riskan jika gunakan vaksin yang belum terbukti efikasinya

Dr. Erlina Burhan berbicara dalam sebuah acara PDPI secara virtual, dari Jakarta. ANTARA/Katriana

Jakarta (ANTARA) - Ketua Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) Cabang Jakarta Dr. dr. Erlina Burhan, M.Sc, Sp.P(K) mengatakan menjadi riskan jika menggunakan vaksin yang belum terbukti efikasi dan keamanannya berdasarkan kaidah ilmiah.

"Seperti vaksin-vaksin yang lain juga sampai fase 3 baru bisa boleh dipakai untuk masyarakat, nah ini (vaksin Nusantara) kan belum, jadi menurut saya sangat riskan ya memakai suatu vaksin yang belum jelas bukti efikasinya dan juga keamanannya," kata Erlina saat dihubungi ANTARA, Jakarta, Rabu.

Pernyataan Erlina itu menanggapi kesediaan anggota DPR untuk menggunakan vaksin Nusantara.

Sementara Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) belum memberikan izin Persetujuan Pelaksanaan Uji Klinik (PPUK) uji klinis fase II untuk vaksin Nusantara karena ada beberapa syarat terkait kaidah ilmiah yang belum terpenuhi diantaranya cara uji klinik yang baik (Good Clinical Practical), Proof of Concept, Good Laboratory Practice dan cara pembuatan obat yang baik (Good Manufacturing Practice).

Baca juga: Ketua F-PAN DPR RI ungkap alasan ikut Vaksin Nusantara
Baca juga: DPR RI dukung produksi Vaksin Nusantara buatan dalam negeri


Erlina menuturkan jika vaksin Nusantara ingin lanjut ke uji klinis fase 2, maka harus memenuhi kriteria atau persyaratan tersebut sesuai kaidah ilmiah, sebagaimana juga dilewati semua vaksin-vaksin lain.

"Kalau vaksin Nusantara mau lanjut ke fase 2 ya harus memenuhi kriteria itu, harus berusaha, karena vaksin-vaksin yang lain juga melewati semua ini, jadi kalau tidak melewati tapi langsung dipakai menurut saya sih kasihan ya orang-orang yang tidak mengerti lalu menjadi sukarelawan untuk disuntik, padahal dia tidak tahu apakah memang efektifitasnya baik berapa persen kita tidak tahu safety-nya (keamanan) juga kita tidak tahu karena belum selesai kan," ujarnya.

Menurut Erlina, suatu produk baru termasuk vaksin bisa dipakai untuk pelayanan medis jika sudah melewati uji klinis fase 3.

"Kalau belum melewati uji klinis fase 3, seharusnya jangan digunakan demi keamanan dan keselamatan pengguna vaksin," ujarnya.

Baca juga: BPOM tidak pilih kasih terkait uji klinis vaksin Nusantara
Baca juga: Kemristek siap mengakomodasi pengembangan vaksin Nusantara
Baca juga: Presiden : Vaksin Merah Putih-Nusantara harus ikuti kaidah saintifik

 

Pewarta: Martha Herlinawati Simanjuntak
Editor: Budhi Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Kilas NusAntara Edisi COVID-19

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar