Alex Noerdin kembali tak penuhi panggilan Kejati Sumsel

Alex Noerdin kembali tak penuhi panggilan Kejati Sumsel

Arsip-Gubernur Sumsel Alex Noerdin (ANTARA/HO/18)

Tim penyidik akan menjadwalkan kembali kapan waktu yang tepat untuk pemeriksaannya (Alex)
Palembang (ANTARA) - Mantan Gubernur Sumatera Selatan Alex Noerdin kembali tidak memenuhi panggilan Kejaksaan Tinggi Sumsel sebagai saksi dalam pemeriksaan kasus dugaan korupsi Masjid Sriwijaya.

Kasipenkum Kejati Sumsel Khaidirman, Kamis, mengatakan Alex Noerdin yang sudah dua kali dipanggil tersebut mengirimkan surat permohonan meminta penundaan pemeriksaan karena harus memenuhi tugas di DPR RI.

"Tim penyidik akan menjadwalkan kembali kapan waktu yang tepat untuk pemeriksaannya (Alex)," ujarnya.

Sebelumnya Alex tidak memenuhi panggilan pertama Kejati Sumsel pada 6 April, sedangkan beberapa saksi yang dipanggil bersamaan seperti Kadis Pariwisata Kota Palembang Isnaini Madani dan panitia lelang pembangunan masjid Toni Aguswara memenuhi panggilan.

Baca juga: Kejati Sumsel agendakan pemanggilan Jimly Asshiddiqie

Baca juga: Pembangunan Masjid Sriwijaya ditunda karena kasus korupsi


Selain Alex Noerdin, tim penyidik Kejati Sumsel juga pada pekan ini memanggil Ketua Yayasan Masjid Sriwijaya yang juga Ketua ICMI, Jimly Asshiddiqie dan pemeriksaanya sudah dilakukan pada 12 April 2021 di Kejaksaan Agung

Kejati Sumsel telah memanggil berbagai pihak pada kasus tersebut, termasuk beberapa mantan pejabat saat Alex Noerdin menjadi Gubernur Sumsel periode 2013-2018.

Saksi-saksi sudah banyak yang memenuhi panggilan, sebagian ada yang diperiksa dua kali, kata dia.

Penyidik Kejaksaan Tinggi Sumatera Selatan sendiri telah menahan empat tersangka kasus dugaan korupsi pembangunan Masjid Sriwijaya yang diduga merugikan negara hingga Rp130 miliar.

Keempatnya masing-masing mantan Ketua Pembangunan Masjid Sriwijaya Edi Hermanto, KSO PT Brantas Abipraya Ir. Dwi Kriyana, Ketua Divisi Pelaksanaan Lelang Syarifudin dan kuasa KSO Adipraya-PT Yodyakarya Yudi Wahyoni.

Masjid Sriiwjaya yang digadang-gadang menjadi masjid terbesar tersebut mulai dibangun pada 2009 dan telah menyerap dana hibah yang bersumber dari APBD Sumsel total Rp130 miliar pada 2015-2017.

Masjid yang dibangun di atas lahan Pemprov Sumsel seluas sembilan hektare itu membutuhkan dana hingga Rp668 miliar, namun pembangunannya baru menyelesaikan pondasi dasar dan kini mangkrak.

Baca juga: Kejati Sumsel tahan 4 tersangka kasus korupsi Masjid Sriwijaya

Baca juga: Kejati Sumsel periksa saksi panitia pembangunan Masjid sriwijaya

Pewarta: Aziz Munajar
Editor: Chandra Hamdani Noor
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Sosok Kapten Afwan, penyayang keluarga hingga pengurus masjid

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar