Rupiah menguat dipicu turunnya obligasi dan melonjaknya ekonomi China

Rupiah menguat dipicu turunnya obligasi dan melonjaknya ekonomi China

Karyawan menghitung uang di salah satu gerai penukaran uang asing di Jakarta, Jumat (6/11/2020). ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/wsj.

imbal hasil obligasi AS sedang mengalami penurunan dan berada di level terendah satu bulan yaitu 1,53 persen. Ini bisa memicu terjadinya capital inflow bagi Indonesia yang dapat menjadi tenaga bagi rupiah
Jakarta (ANTARA) - Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar AS yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada akhir pekan, dipicu turunnya imbal hasil (yield) obligasi AS dan melonjaknya ekonomi China.

Rupiah ditutup menguat 50 poin atau 0,34 persen ke posisi Rp14.565 per dolar AS dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan sebelumnya Rp14.615 per dolar AS.

Analis HFX International Berjangka Ady Phangestu di Jakarta, Jumat, mengatakan sentimen positif terlihat dari penguatan Wall Street hingga mencetak rekor tertinggi sepanjang masa yang diikuti bursa Asia pagi ini.

"Selain itu, imbal hasil obligasi AS sedang mengalami penurunan dan berada di level terendah satu bulan yaitu 1,53 persen. Ini bisa memicu terjadinya capital inflow bagi Indonesia yang dapat menjadi tenaga bagi rupiah," ujar Ady.

Dalam sepekan terakhir, lanjut Ady, rupiah masih menguat sekitar 0,11 persen dalam perdagangan yang mendatar, mesti sempat melemah hingga Rp14.645 per dolar AS. Harga Rp14.500 per dolar AS masih menjadi harga acuan untuk sementara waktu sebagai harga tengah.

"Posisi hari ini berada di kisaran Rp14.560. Rentang harga untuk pekan depan diperkirakan akan berada di 14.500-Rp14.750," kata Ady.

Analis Valbury Asia Futures Lukman Leong mengatakan selain penurunan imbal hasil obligasi AS, penguatan rupiah didukung neraca perdagangan Maret 2021 yang mengalami surplus.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan RI mengalami surplus 1,57 miliar dolar AS pada Maret 2021 dengan total nilai ekspor 18,35 miliar dolar AS dan impor 16,79 miliar dolar AS.

"Data perdagangan ekspor impor sangat bagus. Selain itu, GDP China juga meningkat. Sentimen positif bagi pemulihan ekonomi global menguatkan rupiah," ujar Lukman.

Ekonomi Negeri Tirai Bambu kembali melanjutkan momentum pertumbuhan di mana pada kuartal I 2021 mencapai 18,3 persen setelah pada kuartal IV 2020 lalu tumbuh 6,5 persen.

Rupiah pada pagi hari dibuka melemah ke posisi Rp14.619 per dolar AS. Sepanjang hari rupiah bergerak di kisaran Rp14.555 per dolar AS hingga Rp14.620 per dolar AS.

Sementara itu, kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia pada Jumat menguat menjadi Rp14.592 per dolar AS dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan sebelumnya Rp14.646 per dolar AS.


Baca juga: Rupiah akhir pekan menguat tipis, di tengah turunnya yield obligasi AS
Baca juga: Rupiah Jumat pagi menguat 5 poin
Baca juga: Rupiah melemah seiring penurunan imbal hasil surat utang AS

Pewarta: Citro Atmoko
Editor: Faisal Yunianto
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Polda Sumut sita aset bernilai miliaran rupiah dari bandar narkoba

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar