Badai siklon Surigae berpotensi menjadi super taifun

Badai siklon Surigae berpotensi menjadi super taifun

Ilustrasi Siklon Tropis Surigae yang terbentuk di sekitar Pasifik Barat sebelah utara Papua, Rabu (14/4/2021). ANTARA/HO-BMKG

kini semakin menguat
Jakarta (ANTARA) - Peneliti di Pusat Sains dan Teknologi Antariksa (PSTA) Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) Erma Yulihastin mengatakan badai siklon Surigae berpotensi menjadi super taifun atau badai siklon raksasa sehingga harus diwaspadai.

"Badai siklon tropis Surigae yang terbentuk di utara Papua sejak 14 April lalu kini semakin menguat," kata Erma saat dihubungi ANTARA di Jakarta, Jumat.

Erma menuturkan meskipun pergerakan Surigae sudah mulai menjauhi Indonesia, yaitu ke arah barat laut menuju Filipina, namun pergerakan angin dari ekor badai tersebut menjangkau wilayah-wilayah di bagian utara Indonesia seperti Pulau Halmahera dan Sulawesi bagian utara, dan menimbulkan angin kencang sekitar 2-4 meter per detik di atas darat, dan 8-10 meter per detik di atas laut.

Selain Sulawesi dan Halmahera, wilayah yang akan mendapat pengaruh secara langsung dari keberadaan Surigae tersebut adalah sebagian besar Papua, khususnya di wilayah kepala burung atau Papua barat.

Itu menyebabkan Papua selama tiga hari mendatang akan mengalami peningkatan konvergensi dan aktifitas konvektif yang tinggi, sehingga dapat menimbulkan hujan deras dan angin kencang di Papua bagian utara pada 18-19 April 2021.

Baca juga: Siklon Surigae diperkirakan pengaruhi cuaca sebagian wilayah Indonesia
Baca juga: Siklon Surigae bergerak menjauhi wilayah Indonesia


Berdasarkan pantauan Satellite-based Disaster Early Warning System (SADEWA) milik LAPAN, terdapat bibit badai baru di timur-utara Papua dekat siklon Surigae yang saat ini telah bergabung sehingga semakin memperkuat Surigae.

Sementara itu, berdasarkan prediksi yang dirilis oleh Joint Typhoon Warning Centre Amerika Serikat, Surigae juga berpotensi kuat menjadi badai siklon raksasa atau super taifun dengan kekuatan angin tertinggi mencapai 145 knots atau sekitar 260 kilometer/jam pada 19 April 2021 saat menyentuh kawasan pesisir timur Filipina bagian utara.

Kondisi itu berdampak menimbulkan remote effect atau efek jarak jauh untuk wilayah Indonesia sehingga dapat membangkitkan hujan-hujan sporadis di sebagian Kalimantan, Sumatera, dan Jawa.

Hujan sporadis ditandai dengan hujan intensitas sedang hingga tinggi yang terjadi secara singkat pada sore-malam hari.

Hujan sporadis di sebagian Jawa juga terjadi karena aktifitas angin monsun timuran yang seharusnya mulai terbentuk di Jawa mengalami pelemahan karena eksistensi badai siklon Surigae itu.

Kondisi itu menyebabkan penguatan aktifitas diurnal yang dibangkitkan oleh angin darat-laut sehingga hujan yang terjadi selama 3-5 hari mendatang di Jawa lebih banyak dikontrol oleh pengaruh diurnal tersebut.

Baca juga: BPBD Papua Barat siagakan 13 kapal antisipasi Siklon Tropis Surigae
Baca juga: BMKG prediksi Siklon Tropis Surigae berkembang jadi topan


 

Pewarta: Martha Herlinawati Simanjuntak
Editor: Budhi Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Puluhan bangunan di Ternate alami kerusakan akibat angin kencang

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar