Artikel

Masyarakat Rantau Kermas jaga hutan kini nikmati listrik

Oleh Nanang Mairiadi

Masyarakat Rantau Kermas jaga hutan kini nikmati listrik

Pembangkit Litrik Mikro Hidro (PLTMH) sistem 'open flume', yang membuat masyarakat Desa Rantau Kermas menikmati listrik dan menjaga hutan mereka untuk tetap lestari termasuk aliran air sungainya.(ANTARA/HO/KKI Warsi)

hutan menjaga pasokan air bersih, menggerakkan turbin
Jambi (ANTARA) - "Hutan Tejago Lampu Nyalo," demikian tulisan yang tertancap di samping Dam Sungai Batang Langkup yang dipecah dua, dimana sebagian aliran sungai yang masuk dam itu menuju ke gedung sederhana yang di dalamnya terdapat mesin Pembangkit Litrik Mikro Hidro (PLTMH) sistem open flume.

Hal ini yang kini disarankan oleh masyarakat Desa Rantau Kermas, Kacamatan Jangkat, Kabupaten Merangin, Provinsi Jambi yang sudah menikmati aliran listrik 24 jam 7 hari dalam seminggu dan mereka sekaligus menjaga hutan mereka dari aksi penjarahan dan perusakan.

Listrik yang dinikmati masyarakat Rantau Kermas ini, berasal dari upaya keras masyarakat menjaga sumber daya hutannya. Dengan sistem ini, listrik yang dihasilkan tidak perlu melalui terjunan tapi cukup dengan aliran air yang datar saja.

Dengan teknologi ini sejak 2018, hutan adat di sekeliling desa itu berfungsi sebagai penjamin sumber mata air Sungai Batang Langkup. Dari air yang mengalir inilah masyarakat menikmati listrik murah mereka.

Masyarakat Rantau Keras, sejak lama mendambakan listrik. Desa yang berjarak tiga jam perjalanan dari ibu kota Bangko Kabupaten Merangin itu.

"Kami telah berjuang banyak cara untuk mendapatkan penerangan listrik ini dan awal dulu orang tua kami sudah menggunakan pembangkit listrik tenaga kincir air, berganti dengan disel, tidak kuat membeli bahan bakarnya, berhenti dan kemudian baru dibangun PLTMH sejak 2012," kata Ketua Pengelola PLTMH Desa Rantau Kermas, Mustera Wandi kepada petugas pendamping dari KK Warsi.

Awaknya PLTMH di Rantau Kermas kapasitasnya kecil, hanya mencukupi untuk penerangan, hidup dari jam 6 sore sampai jam 6 pagi, juga sering mengalami kerusakan dan barulah pada 2017 dengan dukungan KKI Warsi dan MCAI-Indonesia dilakukan pembangunan ulang PLTMH dengan kapasitas yang lebih besar yaitu 41 ribu watt.

Listrik yang didapatkan merupakan hibah atas kesungguhan masyarakat menjaga hutan adat mereka. Masyarakat desa yang berada di lingkungan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) itu kini sudah bersuka ria menyambut kehadiran PLTMH.

Namun ternyata diawal kehadiran mesin berkapasitas besar ini juga tidak semudah dibayangkan. Usai pemasangan alat turbin beberapa kali mengalami pecah kelahar, piringan di bawah mesin turbin yang buatan pabrik itu.

"Baru dua minggu pakai sudah pecah, terpaksa bongkar lagi," kata Mustera.

Setelah dipasang yang baru, satu bulan berikutnya pecah lagi. Piringan yang pecah tidak tersedia di Bangko sebagai kota terdekat dengan Desa Rantau Kermas. Alat harus di pesan ke Bandung. Butuh waktu lama untuk penggantian.

Dari proses ini, Mustera Wendi yang tamantan SMA itu mulai untuk berinisiatif mencari penyebab kerusakan. Diamati rangkaian mesin-mesin itu, plus perhitungan tekanan terhadap piringan yang pecah, ada sekitar 700 kg.

"Kalau ada tekanan seberat itu pantas saja piringannya tidak kuat, saya pikir lagi, bagaimana cara mengatasinya dan akhirnya dibongkar lagi, saya bawa alatnya ke Bangko saya minta bengkel modifikasi sedikit alatnya dan tiga hari saya memperbaiki alat itu yang kemudian di pasang lagi," kata Mustera.

Alhamdulillah kini sudah tiga tahun tidak ada lagi pecah kelahar. Masyarakat Rantau Kermas pun berlimpah listrik. Listrik yang dihasilkan sebanyak 39 KWh, di serap oleh 127 rumah dengan beban puncak hanya 25, siang hari hanya butuh 16 di desa itu.

Kini listrik di setiap rumah mampu menggerakkan aneka peralatan elektronik, mesin cuci, memasak, kulkas dan lainnya. Seperti layaknya orang kota.

"Yang senangnya itu listrik kami tidak ada kenal mati lampu, sebagaimana di kota," kata Mustera.

Selain itu juga, kelebihan listrik PLTMH, biaya yang harus dibayarkan sangat murah dimana masing-masing rumah tangga ditarik iuran sebesar Rp50 ribu untuk satu amper, dua amper Rp60 ribu, paling bes ar10 amper ke atas hanya Rp150 ribu.

Pemasangan satu amper setara 450 watt PLN, dua amper setara dengan daya listrik 900, 4 amper 1300 watt sedangkan 10 amper sudah mampu mengoperasikan mesin-mesin pengolah kopi yang dikelola rumah kopi serampas, badan usaha milik desa Rantau Kermas, kata Mustera.

Dengan adanna badan usaha milik desa tersebut, secara tidak langsung juga membantu perekonomian warga atau masyarakat Desa Rantau Kermas, Merangin dari bidang perkebunan kopi.

Baca juga: Gandeng UNDP, Ditjen EBTKE bangun PLTMH di Jambi

Baca juga: Desa Terisolasi di Jambi Siapkan Listrik Mandiri


Listrik dan Pelestarian Hutan

Model pelestarian hutan berbasis adat sebagaimana yang dijalankan masyarakat Rantau Kermas, Merangin tersebut merupakan contoh nyata bagaimana alam itu berbaik hati ketika dikelola dengan baik.

"Banyak manfaat yang dapat dikembangkan lewat kearifan lokal menjaga hutan, salah satunya adalah PLTMH dimana hutan menjaga pasokan air bersih, menggerakkan turbin dan kemudian memenuhi kebutuhan listrik masyarakat, harmoni yang sangat baik yang dinikmati manusia yang menjaganya," kata Direktur Komunitas Konservasi Indonesia Warsi, Rudi Syaf saat diwawancari.

Dikatakannya masyarakat desa yang bergantung pada pasokan PLTMH swadaya tersebut, juga mengetahui bahwa air merupakan sumber daya yang bermanfaat dalam mencukupi kebutuhan listrik. Apalagi aturan adat mereka sangat konsisten dalam menjaga keberadaan hutan tetap lestari dan pengelolaan hutan dan lahan di tata dengan nilai adat.

Pembagian area adat seperti 'Hulu Aik, Tanah Ngarai, Padang Berbatu, Tanah Negeri dan Tanah Ladang telah diatur dalam 'Ajum Arah' menggunakan kearifan lokal yang menjadi warisan turun temurun warga Desa Rantau Kermas tersebut.

Kebijakan tersebut merupakan kebijakan adat dari 'Depati Sri Bumi Putih Pemuncak Alam Serampas', marga tempat bernaungnya masyarakat Desa Rantau Kermas.

Dalam Ajum Arah hak pemakaian lahan terbagi menjadi dua yakni hak tanah perladangan dan tanah laboh rumah atau perumahan. Tanah laboh rumah merupakan hak adat sedangkan, tanah perladangan merupakan tanah atas nama pribadi yang komoditas pertaniannya ditentukan oleh depati.

Jaminan akan kelestarian alam dan hutan lewat aturan adat di Rantau Kermas inilah yang wajib didukung pada dorongan perbaikan infrastruktur penunjang seperti PLTMH dan lewat PLTMH, perbaikan ekonomi dapat dilakukan dari desa ini seperti pengembangan bisnis kopi Serampas, usaha masyarakat Rantau Kermas.

Dengan menggunakan listrik PLTMH ini rumah kopi bergerak memproduksi kopi premium dengan harga yang baik. Pola pengelolaan hutan yang dilakukan Rantau Kermas dapat menjadi contoh pola pembangunan desa yang maksimal, konservatif, sistematis, berkelanjutan dan berbudaya.

KK Warsi akan terus berupaya mengembangkan inovasi lainnya untuk pelestarian hutan di Provinsi Jambi dengan model lainnya agar hutan di Jambi bisa tetap terjaga dan lestari, kata Rudy Syaf.

Perbaikan konsep pembangunan berkelanjutan tidak hanya terjadi di Rantau Kermas saja, melainkan di desa-desa mikro hidro lainnya di Indonesia demi menjaga kelestarian hutan warisan bagi generasi mendatang.

Baca juga: Jambi-Baznas kerja sama bangun pembangkit mikro hidro

 Baca juga: KPHP programkan PLTMH untuk desa penyangga hutan

Oleh Nanang Mairiadi
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar