Epidemiolog ingatkan PTM terbatas harus dengan kehati-hatian

Epidemiolog ingatkan PTM terbatas harus dengan kehati-hatian

Ahli Epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia Prof. dr. Pandu Riono, MPH, Ph.D. saat menjadi narasumber webiner bertema "Vaksinasi COVID19 : Perspektif Klinis, Epidemiologis dan Etis" yang digelar Rotary Club of Surabaja dan Indonesia Bioethics Forum (IBF), Sabtu (16/1/2021). ANTARA/Abdul Hakim.

Jangan sampai kita mencegah terjadinya 'earning loss' tetapi terjadi malah 'totally loss' 
Jakarta (ANTARA) - Epidemiolog Universitas Indonesia Pandu Riono mengingatkan pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas harus dilakukan dengan kehati-hatian.

“Jangan sampai kita mencegah terjadinya 'earning loss' tetapi terjadi malah 'totally loss' karena banyak anak yang jatuh sakit karena COVID-19,” ujar Pandu di Jakarta, Senin.

Dia menjelaskan pandemi saat ini berbeda dengan pandemi tahun 2020 lalu, karena virus COVID-19 telah bermutasi menjadi virus baru yang penularannya lebih cepat dan menyerang remaja. Saat ini di Indonesia, keberadaan virus baru tersebut belum cukup banyak sehingga belum terlalu berdampak.

Baca juga: Epidemiolog: PTM terbatas harus dipersiapkan dengan matang

“Jika sudah penularannya sudah banyak maka peningkatan kasus COVID-19 meningkat cepat sekali,” tambah dia.

Pandu mengingatkan bahwa sampai sekarang, Indonesia belum berhasil mengendalikan pandemi COVID-19 karena kasusnya masih tinggi. Meskipun dalam dua bulan terakhir mengalami penurunan, tetapi penurunan bersifat sementara.

Mutasi virus COVID-19 tersebut lebih banyak menyerang remaja dibandingkan orang tua. Pandu khawatir dengan PTM terbatas jika tidak dilakukan dengan kehati-hatian maka akan banyak anak dan remaja yang masuk rumah sakit.

Baca juga: Kemendikbud sebut daftar periksa PTM terbatas terlalu panjang

Baca juga: Gresik mulai sekolah tatap muka untuk SD dan SMP


“Ini beberapa negara sudah mengalaminya, yang mana rumah sakit kewalahan. Kita bisa mencegah itu dengan vaksin yang cukup,” tambah dia.

Dia menjelaskan dalam PTM terbatas, tidak bisa seperti dulu lagi. Kemendikbud hendaknya membuat kurikulum yang dipakai dua hingga tiga tahun ke depan atau selama pandemi berlangsung. Kurikulum yang hibrid, yang mana PTM hanya berlangsung dua kali dalam seminggu dan sisanya PJJ.

Pandu menjelaskan dalam PTM terbatas, yang perlu disiapkan adalah kesiapan dari Unit Kesehatan Sekolah (UKS) yang menjembatani sekolah dan dinas kesehatan daerah.

“Jika sebelumnya UKS berperan dalam mewujudkan sekolah yang sehat, tetapi sekarang tugasnya bertambah yakni mewujudkan sekolah yang sehat dan juga aman. Sekolah harus melakukan revitalisasi peran dari UKS,” kata Pandu lagi.

Baca juga: Kemendikbud: Sekolah harus miliki gugus tugas sebelum PTM terbatas

Baca juga: PTM terbatas fokus pada perbaikan psikologis siswa


Pewarta: Indriani
Editor: Agus Salim
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Sekolah harus tawarkan kesediaan orang tua untuk belajar tatap muka

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar