Pasien COVID-19 disarankan rehat dulu berolahraga, mengapa?

Pasien COVID-19 disarankan rehat dulu berolahraga, mengapa?

Petugas medis (kiri) memimpin senam pagi bersama pasien COVID-19 berstatus Orang Tanpa Gejala (OTG) di Stadion Patriot Chandrabhaga, Bekasi, Jawa Barat, Senin (28/9/2020). Olahraga pagi yang dilakukan rutin setiap hari oleh 25 pasien tersebut untuk meningkatkan imunitas tubuh selama menjalankan isolasi. ANTARA FOTO/Fakhri Hermansyah/pras.

Jakarta (ANTARA) - Pasien COVID-19 tak bergejala atau bergejala ringan saat ini tidak disarankan dulu berolahraga, menurut dokter spesialis kedokteran olahraga dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Andhika Raspati.

Merujuk pada literatur salah satunya dalam British Journal of Sport Medicine, melakukan latihan fisik termasuk berolahraga pada pasien COVID-19 berpotensi cedera jantung termasuk miokarditis. Hal ini penting, karena berolahraga dengan miokarditis berhubungan dengan peningkatan morbiditas dan mortalitas.

"Menurut literatur, semakin banyak pakar kesehatan yang menganjurkan saat orang positif COVID-19 meskipun dia tanpa gejala (OTG) atau gejala ringan, rest dulu karena ada satu ancaman yaitu miokarditis," kata Andhika yang juga dokter KONI DKI Jaya itu dalam sebuah diskusi awam secara daring, ditulis Rabu.

Baca juga: Maracana dipakai jadi rumah sakit darurat tangani pasien COVID-19

Menurut dia, untuk tetap aktif, pasien bisa melakukan latihan peregangan atau pernapasan. Sebaliknya, dia sementara waktu tidak perlu melakukan latihan kardio, jogging santai, berlari di atas treadmill walau dengan kecepatan lambat karena dikhawatirkan bila ada miokarditis maka akan semakin berat.

Setelah selesai masa isolasi mandiri selama sekitar dua pekan pasien baru bisa perlahan melakukan latihan, namun sebatas berjalan kaki selama 10 menit sebagai upaya test drive di pekan pertama.

Sembari bergerak, cobalah evaluasi apakah ada gejala seperti sesak napas, nyeri dada atau pusing. Bila gejala ini dialami, maka pertanda tubuh belum siap.

Sebaliknya, apabila tak ada gejala, penyintas COVID-19 bisa perlahan meningkatkan durasi latihan menjadi 10 menit, 15 menit hingga 20 menit. Tingkatkan kecepatakan perlahan, dari jalan pelan menjadi jogging santai dan diharapkan lambat laun latihan akan kembali seperti semula baik dari sisi durasi dan kecepatannya.

Miokarditis, menurut dokter spesialis jantung dan pembuluh darah dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dan Junior Doctor Network (JDN), Vito A. Damay, merupakan bentuk peradangan pada otot jantung. Saat otot mengalami peradangan, maka fungsi jantung untuk memompa darah menjadi terganggu.

Hanya saja, merujuk pada studi dalam jurnal the BMJ, angka kejadian miokarditis pada mereka yang tidak bergejala atau memiliki penyakit ringan hingga sedang belum diketahui.

Menurut Vito, olahraga pada pasien COVID-19 dikhawatirkan memperberat kondisinya sehingga rentan masuk ke penyakit lebih berat.

"Saat berolahraga takutnya memperberat kondisi yang berat (akibat sakit), sehingga rentan masuk ke penyakit lebih berat. Walau demikian kita masih belajar (mengenai olahraga pada pasien COVID-19). Lakukan stretching ringan, jangan bedrest juga kalau Anda OTG," kata Vito.

Baca juga: Waktu terbaik pasien COVID-19 bisa kembali berolahraga

Baca juga: Pasien COVID-19 gejala ringan perlu tetap berolahraga, tapi ada syarat

Baca juga: Olimpian turun tangan rawat pasien COVID-19 di garda terdepan

Pewarta: Lia Wanadriani Santosa
Editor: Maria Rosari Dwi Putri
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Melihat enam pasien COVID-19 olahraga di ruang isolasi

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar