SPH lakukan persiapan terkait melonjaknya kasus COVID-19

SPH  lakukan persiapan terkait melonjaknya kasus COVID-19

Semen Padang Hospital. ANTARA/HO-SPH.

Padang (ANTARA) - Semen Padang Hospital (SPH) melakukan sejumlah persiapan terkait dengan melonjaknya kasus baru positif COVID-19 di Sumatera Barat agar bisa melayani pasien dengan maksimal.

"Beberapa pekan lalu pasien COVID-19 yang dirawat hanya berkisar 15 sampai 25 orang per hari, namun dalam beberapa hari terakhir mengalami peningkatan signifikan mencapai 34 orang saat ini," kata Direktur Semen Padang Hospital dr Selfi Farisha di Padang, Rabu.

Menurutnya, upaya yang dilakukan mulai dari pengoptimalan jumlah tempat tidur untuk penanganan pasien COVID-19.

"Sebelumnya, karena seiring menurunnya jumlah kasus positivity rate di Sumbar, jumlah tempat tidur yang berjumlah 95 unit dikurangi menjadi 70 tempat tidur dengan rincian 55 tempat tidur siap pakai dan 15 lagi dalam kondisi siap pakai," kata dia.

Baca juga: Positivity Rate (PR) COVID-19 Sumbar 16 persen terburuk sejak pandemi

Baca juga: Mahasiswa demo Polda Sumbar tuntut ungkap penyelewengan dana COVID-19


Selain itu, kesiapan dari sisi tenaga medis dan non medis juga dilakukan kembali. Sebelumnya, pihaknya melakukan peralihan tenaga yang merawat pasien COVID-19 ke bidang lain yang lebih membutuhkan.

"Namun, kini tenaga kesehatan akan kembali disiagakan. Kemudian SPH juga akan memastikan sarana dan prasarana dalam kondisi yang baik secara fisik dan fungsi sehingga dapat digunakan secara optimal," kata dia.

Kesiapan dari ruang penanganan pasien COVID-19 yang terletak di lantai empat gedung SPH juga dilakukan dengan maksimal.

Saat ini ada 55 tempat tidur yang siap pakai terletak di 4 sayap barat dan 4 sayap timur.

"Nanti 5 sayap timur akan diaktifkan kembali sehingga 70 tempat tidur dapat tersedia. Kami juga akan menyiapkan tenaga medis dan memastikan sarana dan prasarananya dalam kondisi yang bagus," katanya.

Di sisi lain, SPH mengalami permasalahan terkait kesiapan dalam penanganan kasus berat pasien COVID-19 yang harus menggunakan ventilator, karena selama ini, untuk pasien dengan kondisi tersebut dilakukan rujukan ke Rumah Sakit Umum Pusat M Djamil.

"Saat ini kondisinya di M.Djamil juga tengah kewalahan menerima pasien dengan kasus berat. Selain itu sebelumnya, SPH juga harus ikut dalam antrean untuk mendapatkan penanganan di RSUP M.Djamil. Jadi sebelum mendapat giliran tersedianya kamar, pasien kasus berat akan dirawat dulu di SPH," kata dia.

Selain itu, di internal SPH, telah melakukan sosialisasi ulang untuk penerapan penaatan prokes agar para nakes tidak terpapar dan menerapkan prokes ketat tidak hanya di rumah sakit, tapi juga saat di luar rumah sakit.

Sebelumnya Kepala Laboratorium Diagnostik dan Riset Terpadu Penyakit Infeksi Kedokteran Universitas Andalas (Unand) Padang Dr Andani Eka Putra menyampaikan tingkat positivity rate di Sumbar mencapai 16 persen dari sebelumnya hanya 5 hingga 8 persen.

"Ini artinya ada 16 orang positif dari setiap 100 orang yang diperiksa, dan merupakan angka terbesar di Sumbar sejak era pandemi," ujarnya.

Ia melihat ketika menghadapi Ramadhan terutama kebiasaan buka bersama dan pelaksanaan protokol yang lemah, ditambah capaian vaksin umum yang rendah maka akumulasi ini berisiko besar jika tidak dilakukan antisipasi.

Ia mengingatkan gubernur, wali kota dan bupati, dan semua masyarakat agar menjaga keseimbangan antara pengawasan kesehatan dan aktivitas ekonomi masyarakat.*

Baca juga: Pasien sembuh COVID-19 di Kabupaten Solok bertambah jadi 967 orang

Baca juga: Jelang Ramadhan, positif COVID-19 di Pasaman Barat tambah 15 kasus

Pewarta: Ikhwan Wahyudi
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Melihat razia prokes pengunjung kafe di Lhokseumawe

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar