Istri Bupati Siak: Permaisuri SSK II buka Sultanah Latifah School

Istri Bupati Siak: Permaisuri SSK II buka Sultanah Latifah School

Istri Bupati Siak, Provinsi Riau Rasidah Alfedri. ANTARA/HO-Pemkab Siak

Siak (ANTARA) - Istri Bupati Siak, Provinsi Riau, Rasidah Alfedri, berharap kaum perempuan mengenang dan meneladani perjuangan Tengku Agung Sultanah Latifah, sang permaisuri Sultan Syarif Kasim (SSK) II yang mendirikan Sultanah Latifah School, sekolah perempuan saat penjajahan Belanda.

"Kami berharap kaum perempuan di Kabupaten Siak mampu mencontoh sosok Kartini maupun Tengku Agung Syarifah Latifah," kata Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga Kabupaten Siak, Rasidah Alfedri, terkait peringatan Hari Kartini di Siak, Rabu.

Menurutnya, sosok permaisuri Sultan itu sebagai pejuang pendidikan harus diteladani oleh generasi milenial saat ini. Oleh karena itu kata dia, kaum hawa di Siak bisa meniru perjuangan dari Syarifah Latifah, agar sejajar dengan pria tapi tidak lantas melupakan kodratnya.

Dr Wilaela M.Ag, Dekan Fakultas Ushuluddin Universitas Sultan Syarif Kasim II dalam bukunya berjudul "Potret Pendidikan Perempuan di Riau Sebelum Kemerdekaan", Syarifah Latifah merasa terpanggil untuk mendirikan sekolah perempuan pertama di Siak bahkan Riau tersebut tak hanya untuk perempuan istana, tapi juga untuk warga dari kampung-kampung yang ingin bersekolah.

Baca juga: Pengusaha perempuan sambut Ramadhan dengan bantuan teknologi
Baca juga: Sosok Kartini muda di balik Tokopedia Play


Di Siak saat itu, Pemerintah Hindia Belanda hanya mendirikan sekolah yang mengajarkan Bahasa Belanda, yaitu Hollandsch Inlandsche School (HIS) 2 atau sekolah Melayu berbahasa Belanda di Siak Sri Indrapura tahun 1915. Murid-muridnya tidak hanya berasal dari ibu kota Kerajaan Siak, melainkan juga datang dari berbagai daerah di wilayah kerajaan dan sangat sedikit yang perempuan.

Apalagi di HIS anak-anak bumiputera yang diterima umumnya dari golongan bangsawan, orang terkemuka, dan orang kaya. HIS Siak Sri Indrapura mengecewakan Sultan Syarif Kasim II, karena tidak dapat menampung sebagian besar anak di Siak dan kurikulum tak ada agama dan nasionalisme.

Kemudian itulah Sultan membuka Madrasah Taufikiyah Al-Hasyimiah pada 1917. Madrasah ini khusus diperuntukkan bagi murid laki-laki saja. Selanjutnya, istrinya juga mendirikan Sultanah Latifah School.

Baca juga: Esther Gayatri, dari fotografer Istana jadi pilot uji
Baca juga: LIPI: Perjuangan Kartini menginsipirasi dunia riset Indonesia

Pewarta: Bayu Agustari Adha
Editor: Budhi Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Ini Kisah inspiratif wartawati LKBN ANTARA dalam menjalankan tugas Jurnalis 

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar