Fadjroel Rachman raih gelar Doktor Ilmu Komunikasi UI

Fadjroel Rachman raih gelar Doktor Ilmu Komunikasi UI

Jubir Presiden Fadjroel Rachman. (ANTARA/Foto: Humas UI)

menetapkannya sebagai Doktor ke-119 di Program Studi (Prodi) Ilmu Komunikasi jenjang doktoral
Depok (ANTARA) - Juru Bicara Presiden Fadjroel Rachman meraih gelar Doktor Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (FISIP UI) dengan predikat sangat memuaskan, setelah menjalani sidang terbuka secara daring pada Rabu.

Kepala Biro Humas dan KIP UI Dra. Amelita Lusia, Rabu, menjelaskan Fadjroel menyampaikan penelitian disertasi dengan judul Distingsi Pemilih di Indonesia (Studi Interpretative Phenomenological Analysis Habitus Kelas dan Perilaku Memilih dengan Pendekatan Strukturalisme Genetik Pierre Bourdieu.

FISIP UI mengadakan sidang terbuka Promosi Doktor Ilmu Komunikasi dengan promovendus atas nama M. Fadjroel Rachman dan menetapkannya sebagai Doktor ke-119 di Program Studi (Prodi) Ilmu Komunikasi jenjang doktoral.

Baca juga: Fadjroel: Vaksinasi kedua bergulir di seluruh Indonesia

Sidang promosi doktor ini diketuai oleh Dr. Arie Setiabudi Soesilo, M.Sc. (Dekan FISIP UI), dengan promotor Prof. Dr. Ilya R. Sunarwinadi, M. Si. dan ko-promotor Dr. Pinckey Triputra, M. Sc.

Penguji dalam sidang ini adalah Prof. Dr. Alois Agus Nugroho, Ph.D.; Prof. Effendi Gazali, MPS ID., Ph.D.; Sirojuddin Abbas, Ph.D.; Prof. Dr. Billy K. Sarwono, M.A.; Dr. Eriyanto, M.Si.; dan Inaya Rakhmani, M.A., Ph.D.

Disertasi Fadjroel adalah penelitian komunikasi politik khususnya perilaku memilih (voting behavior) yang bertujuan menemukan bagaimana pemilih berdasarkan distingsi (distinction) kelas sosial dan habitus kelas sosial tertentu, melakukan pemrosesan informasi untuk memproduksi opini politik dan pilihan politik pada Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden pada 17 April 2019.

Baca juga: Jubir: Presiden menghendaki jajarannya lakukan komunikasi blusukan

Kelas sosial, distingsi kelas sosial, dan habitus kelas sosial pemilih dalam formasi sosial masyarakat kontemporer Indonesia (historical situatedness) tersebut, dianalisis memakai model kelas sosial baru berdasarkan pendekatan strukturalisme genetik Pierre Bourdieu.

Metode yang digunakan adalah convergent parallel mixed method, pendekatan kuantitatif dengan analisis kluster digunakan untuk mengidentifikasi dan mendeskripsikan kelas-kelas sosial di Indonesia, sedangkan pendekatan kualitatif melalui wawancara mendalam dengan para informan kunci digunakan untuk mendapatkan pemahaman tentang habitus kelas dan modus produksi opini politik masing-masing kelas sosial dengan menggunakan the modes of production of opinion Bourdieu.

Baca juga: Kehadiran peserta UTBK gelombang I di UI capai 95.53 persen

Fadjroel, yang juga Staf Khusus Presiden Republik Indonesia Joko Widodo di bidang komunikasi sekaligus Juru Bicara Presiden tersebut, melalui analisis kuantitatif dan kualitatif dengan interpretative phenomenological analysis berhasil mengidentifikasi empat kelas sosial di Indonesia lengkap dengan habitus kelas masing-masing, yakni kelas elite, kelas menengah profesional, kelas menengah tradisional dan kelas marhaen.

'Bisakah kelas sosial dan habitus kelas sosial berubah? Bisa! Konsep habitus yang menyatakan bahwa individu adalah produk sosial melalui dialektika struktur mental dan struktur sosial atau dialektika internalisasi eksternalitas (structured structure) dan eksternalisasi internalitas (structuring structure) memberikan peluang untuk perubahan sosial,' ujar Fadjroel.

Baca juga: Dosen dan mahasiswa UI pilih metode pembelajaran bauran

Baca juga: Pekan Komunikasi UI bahas optimalisasi penggunaan teknologi

Pewarta: Feru Lantara
Editor: Agus Salim
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Terima vaksin kedua, Presiden kembali pastikan vaksin Sinovac halal dan aman

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar