Swasta bantu jual makanan berlebih layak konsumsi dari industri

Swasta bantu jual makanan berlebih layak konsumsi dari industri

Founder dan CEO Surplus Indonesia M Agung Saputra berbicara dalam Indonesia Green Tech Forum "Mempercepat Transformasi Menuju Dunia yang Berkelanjutan Dengan Teknologi Hijau", Jakarta, Kamis (22 April 2021). (ANTARA/Martha Herlinawati Simanjuntak)

ranking kita negara kedua penghasil limbah makanan terbesar di dunia
Jakarta (ANTARA) - Sebuah perusahaan swasta menyediakan platform dalam jaringan (online) untuk membantu menjual makanan berlebih dari industri makanan yang layak dikonsumsi dalam rangka mencegah terciptanya sampah makanan dan menjaga ketahanan pangan.

"Kita sebagai marketplace untuk makanan berlebih atau produk lebih agar makanan-makanan yang lebih yang sebenarnya masih layak konsumsi dan yang tidak tersentuh yang seharusnya dikonsumsi," kata Founder dan CEO Surplus Indonesia M Agung Saputra dalam Indonesia Green Tech Forum "Mempercepat Transformasi Menuju Dunia yang Berkelanjutan Dengan Teknologi Hijau", Jakarta, Kamis.

Dengan kondisi pandemi COVID-19 saat ini, daya beli turun dan jam tutup restoran dan sejenisnya lebih cepat sehingga jumlah pembeli makanan menjadi turun, dan sehingga makanan tersebut berpotensi mubazir di keesokan harinya dan akan terbuang.

Oleh karena itu, melalui platform online Surplus.id, Surplus Indonesia membantu menjual makanan tersebut dengan memberikan potongan harga 50 persen. Harapannya, makanan tersebut dapat segera dikonsumsi sehingga tidak ada makanan yang terbuang.

"Agar makanan-makanan tersebut bisa terselamatkan atau bisa dijual cepat," ujar Agung.

Baca juga: MUI: Sahur dan iftar secukupnya agar sampah organik tak menumpuk

Baca juga: Tiga tips kurangi limbah makanan

Banyaknya sampah makanan tidak hanya mempengaruhi ketahanan pangan tapi juga berdampak pada pencemaran lingkungan dan perubahan iklim.

Limbah makanan yang berada di tempat pemrosesan akhir (TPA) menghasilkan gas metana dalam jumlah yang sangat besar.

Gas metana merupakan gas yang mempunyai efek rumah kaca beberapa kali lipat dibanding karbon dioksida sehingga berdampak signifikan pada perubahan iklim. Gas metana mempunyai nilai emisi 21 kali dibanding gas karbon dioksida.

Perlu diketahui, 13 juta ton makanan terbuang per tahun di Indonesia. Bahkan Indonesia merupakan negara kedua penghasil limbah makanan terbesar di dunia setelah Arab Saudi.

Dari makanan berlebih di restoran, sebanyak 35 persen dibuang, 40 persen diberikan ke orang lain, 8 persen diolah kembali, dan 8 persen dijadikan pakan ternak.

Populasi penduduk Indonesia ke depan akan semakin bertambah, dan diprediksi penduduk yang tinggal di daerah perkotaan pada 2025 akan mencapai 65 persen dari populasi. Ketahanan pangan akan menjadi masalah besar ketika banyak makanan yang terbuang menjadi limbah saat ini.

"Populasi semakin bertambah, ranking kita negara kedua (penghasil limbah makanan terbesar di dunia), bagaimana kita bisa mencapai ketahanan pangan di 2025 di 2030 sementara kita membuang makanan mubazir setiap hari," ujarnya.

Selain itu, Surplus Indonesia memiliki misi untuk mengurangi food waste dan food loss sekitar 20 persen di Indonesia pada 2030.

Dari gerakan dan kegiatan yang dilakukan Surplus Indonesia, hingga 28 Februari 2021 ada sebanyak lebih dari 1.600 paket makanan atau 260 kilogram makanan terselamatkan, dan itu mencegah lebih dari 10 ribu kilogram karbon dioksida dari TPA sampah jika sampai makanan itu berakhir di TPA.

Selain itu, Surplus juga bergerak untuk mendorong komunitas membagikan makanan berlebih kepada yang membutuhkan.

Baca juga: Praktisi: Hindari makan berlebih di rumah dengan disiplin rutinitas

Baca juga: PB NU: Muslim dengan makanan berlebih wajib berzakat

Pewarta: Martha Herlinawati Simanjuntak
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar