Artikel

Rajah di batik Kaji Habeb

Oleh M. Hari Atmoko

Rajah di batik Kaji Habeb

Seorang pekerja menyelesaikan batik rajah di Galeri-Studio Batik Rajah yang dikelola seniman dan pembatik Kaji Habeb di Perumahan Bima Sakti Regency Kota Magelang, Jawa Tengah. ANTARA/Hari Atmoko.

Yang dieksplorasi sudut spiritualitas rajah sebagai inspirasi simbol kekuatan spiritual yang dikreasi, bisa dipakai kalangan siapa pun...
Magelang (ANTARA) - Dalam jagat kreativitas Kaji Habeb (52) yang dilakoni lebih dari tiga dasa warsa terakhir, sudah tak terhitung lagi tuangan karya dan produk kebudayaan batik bermandikan siraman inspirasi khazanah rajah.

Pemesan batik rajahnya pun, bahkan ketika pandemi COVID-19 menerpa hingga lebih dari setahun terakhir, seakan tak surut berdatangan. Baik sebelum maupun selama pandemi ini, ia tetap beroleh pasar yang rata-rata 5-7 pembeli per bulan.

Dalam beberapa hari terakhir, di Galeri-Studio Batik Rajah yang dikelola di Kompleks Perumahan Bima Sakti Regency Kota Magelang, Jawa Tengah, dia bersama dua pekerjanya asyik menggarap 40 lembar kain batik motif rajah.

Pemesanan produknya kali ini datang dari Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kota Magelang. Batik rajah untuk mereka diberi nama "Armylook", mirip-mirip kain bermotif doreng-doreng ala militer namun paduan pewarnaan dan gradasinya terkesan lebih cerah dan berdaya pikat khas.

Dengan mudah bisa dipahami tentang batik rajah bernama "Armylook" itu. Idenya tidak lepas dari salah satu identitas Magelang sebagai kota militer karena keberadaan Akademi Militer dan sejumlah kesatuan TNI lainnya.

Kota Magelang masuk kategori daerah kecil, luasnya sekitar 18 kilometer persegi dengan berpenduduk sekitar 121 ribu jiwa tersebar di 17 kelurahan di tiga kecamatan.

"Yang dieksplorasi sudut spiritualitas rajah sebagai inspirasi simbol kekuatan spiritual yang dikreasi, bisa dipakai kalangan siapa pun. Rajah itu universal, setiap kebudayaan di dunia ada," kata pemilik nama asli Kholil Habiballoh itu.

Baca juga: Batik tulis "ready to wear" hiasi panggung MUFFEST 2021

Asal usul Kaji Habeb dari keluarga salah satu pondok pesantren di Mranggen, Kabupaten Demak, Jateng. Ia mengenyam Jurusan Seni Lukis di Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) --sekarang Institut Seni Indonesia (ISI)-- Yogyakarta pada 1991-1996, tetapi juga santri di Ponpes Krapyak Yogyakarta (1989-1997) dan tandem kuliah di Jurusan Filsafat Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Kalijaga --sekarang Universitas Islam Negeri (UIN)-- Yogyakarta hingga lulus pada 1997.

Selama di Yogyakarta, Kaji Habeb antara lain juga menjadi pendesain grafis untuk penerbitan buku dan novel, serta produk batik melalui olah komputer.

Sebelumnya, sejak masa puasa Ramadhan hingga musim haji rampung pada 1985, ia juga pernah mengikuti perjalanan abahnya ke Arab Saudi.

"Sepulang dari Arab, kawan-kawan menyebut saya haji. Nama itu saya pakai sampai sekarang menjadi Kaji Habeb," ujar suami Ruqiyah (berasal dari Temanggung) dengan beroleh karunia tiga anak yang sejak 2009 tinggal di Kota Magelang itu.

Latar belakang kehidupannya melekat dalam wujud karya dan produk kreatif kekinian bernilai spiritualitas dengan jenama rajah batiknya. Batik karya Kaji Habeb itu seakan-akan menghadirkan secara elegan pemakainya sebagai sosok berpengharapan, rendah hati, bergembira, berdoa, menjalani permohonan, atau kedekatannya dengan kearifan dan tradisi budaya lokal.
Kaji Habeb, pengelola Galeri-Studio Batik Rajah di Perumahan Bima Sakti Regency Kota Magelang, Jawa Tengah. (ANTARA/Hari Atmoko)


Karya rajah yang sudah tak terhitung lagi bukan hanya dalam wujud kain batik untuk fesyen, tetapi juga batik potret wajah dan karya "fine art", sedangkan harga batik fesyennya untuk pemakaian pribadi maupun seragam bervariasi antara Rp300 ribu hingga Rp3 juta, batik potret sekitar Rp500 ribu (ukuran 50x60 sentimeter), dan karya "fine art" Rp5 juta.

Baca juga: Disparekraf DKI gandeng hotel beri ruang untuk UMKM promosi batik

Fasilitasi sejumlah instansi di pemerintah kota setempat serta keikutsertaan di komunitas perajin dan seniman, serta jejaringnya, membuat ia beroleh banyak kesempatan memajang produknya di berbagai tempat pameran, baik tingkat lokal maupun luar daerah, seperti Magelang, Jakarta, Yogyakarta, Semarang, Solo, Purworejo, Lombok, Palembang, dan Medan.

Ia juga memanfaatkan program-program terkait peningkatan usaha industri kreatif lainnya diselenggarakan pemkot setempat, seperti pengayaan cara membatik, pengembangan desain, pemasaran elektronik, dan studi banding, untuk memperluas wawasan pengetahuan, kemampuan, dan keterampilan.

Ihwal yang juga disadari, tentang pentingnya bergaul dengan berbagai kalangan, terutama sesama pembatik, pelaku seni, dan budayawan. Ia menjadi anggota salah satu peguyuban pembatik di Kota Magelang, "Mekar Moncer".

Pada akhir 2018 hingga awal 2019, ia beroleh fasilitasi Kedutaan Besar RI di Riyard, Arab Saudi dengan membawa 50-an karya batik rajah untuk ikut pameran dalam pergelaran tahunan seni dan budaya terbesar di Timur Tengah, Festival Janadriyah, di ibu kota Arab Saudi itu.

Dalam ajang itu, Indonesia sebagai tamu utama. Sekitar 80 persen produk batik fesyen dengan narasi tentang rajah terjual dalam festival tersebut.

Sejumlah akunnya di media sosial juga dimanfaatkan untuk memamerkan produknya sehingga batik rajah merambah publik yang semakin luas.

Salah satu keutamaan proses pembuatan batiknya, yakni penggunaan malam (lilin untuk membatik) panas, dipahami dengan baik sebagai tak bisa tergantikan, namun dipakai juga kuas untuk pembatikan dan kompor listrik untuk memanaskan malam.

Sejumlah cara konvensional membatik yang biasanya satu lembar kain butuh dua minggu, diinovasi menjadi proses rampung dengan waktu sepertiganya, dengan tingkat kerumitan dan pewarnaan yang cukup banyak dan beragam pula.

Sebagaimana pembatik setempat lainnya, Kaji Habeb juga menghadirkan wajah sejumlah ikon daerah setempat, seperti Gunung Tidar, Water Torn, Pelengkung, Mantyasih, Gelatik, Tugu Aniem (Titik Kilometer Nol Kota Magelang), dalam produknya.

Ikon-ikon tersebut untuk menunjukkan bahwa produk itu dari Kota Magelang. Namun, ragam narasi tentang universalitas rajah yang diulik dalam simbol-simbol berupa garis, tanda, guratan, cacahan, dan bagan, menjadikan batik rajah sebagai unikum Kaji Habeb.

Baca juga: Pamekasan Promosikan Batik Tulis di Ajang Miss Universe 2021

Wali Kota Magelang Muchamad Nur Aziz juga memandang pentingnya narasi khas, mendalam, dan kreatif dihadirkan atas suatu produk, termasuk batik, untuk meraih pasar yang luas dan menarik minat orang mendatangi.

"Narasi yang kuat dibuat para seniman, akan membuat orang berbondong-bondong," katanya dalam bincang wicara secara "live" di kanal Youtube PWI (Persatuan Wartawan Indonesia) Kota Magelang, beberapa waktu lalu.

Selain itu, tentunya kecintaan setiap warga setempat terhadap produk daerahnya sendiri, menjadikan secara komunal dan personal percaya diri untuk menjadi pelopor memperluas jangkauan kehadiran jenama suatu produk.

Kaji Habeb telah membuktikan. Kalau yang namanya batik rajah, itu inheren dirinya.

Oleh M. Hari Atmoko
Editor: Nusarina Yuliastuti
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Mendekatkan perajin batik Malang dengan pembeli

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar