Menteri PPPA: Perempuan dituntut terampil teknologi

Menteri PPPA: Perempuan dituntut terampil teknologi

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Bintang Puspayoga. ANTARA/HO-Kemen PPPA/am.

Jakarta (ANTARA) - Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Bintang Puspayoga mendorong kaum perempuan untuk melanjutkan perjuangan Kartini, salah satunya dengan menguasai teknologi.

Menurut dia, penguasaan teknologi informasi dan komunikasi penting bagi kelangsungan hidup dan kesejahteraan di masa depan.

"Berkaca pada semangat R.A Kartini, tugas kita hari ini bukan hanya untuk menutup lubang ketidaksetaraan, namun juga berpikir dua, tiga langkah lebih maju dan memastikan perempuan Indonesia tidak lagi tertinggal di masa depan," kata Menteri Bintang melalui siaran pers yang diterima di Jakarta, Senin.

Baca juga: Perempuan "penyelamat" ekonomi di tengah pandemi

Menurut Bintang, cita-cita seluruh perempuan Indonesia masih harus diperjuangkan dengan segala daya dan upaya. Akses dan keterampilan perempuan terhadap TIK menjadi kesempatan emas yang harus diraih demi memberdayakan para perempuan pengusaha agar dapat bersaing di masa kini dan masa depan.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2019, persentase pengguna internet perempuan masih lebih rendah dari laki-laki, yaitu 46,87 persen dibandingkan 53,13 persen.

"Akses dan penguasaan terhadap TIK wajib dimiliki perempuan, karena tidak hanya akan bermanfaat di masa kini, tetapi juga esensial bagi kelangsungan hidup dan kesejahteraan di masa depan. Jika kita tidak berupaya keras untuk memberdayakan perempuan dalam dunia digital, perempuan akan semakin kehilangan akses, baik terhadap informasi, pendidikan, layanan kesehatan, bahkan jaring pengaman sosial dan pendapatan di masa depan," ujar Bintang.

Menteri Ketenagakerjaan Ida Fauziyah mengamini Menteri Bintang. Ida Fauziyah mengatakan bahwa meneladani semangat Kartini masih sangat relevan untuk dilakukan para Kartini masa kini.

Sementara Staf Khusus Presiden RI Bidang Sosial Angkie Yudistia berbagi pengalaman dalam memperjuangkan hak 38 juta jiwa penyandang disabilitas di Indonesia agar bisa mengakses program-program pemerintah, salah satunya melalui inisiasi Gerakan Indonesia Bisa. Melalui gerakan ini, para penyandang disabilitas bisa bekerja dan berusaha.

Sejak usia 10 tahun, Angkie kehilangan indera pendengarannya. Ia mengaku bisa ada di tahap ini karena ia mau menerima dirinya sendiri, menyayangi diri sendiri dan punya mimpi.

Baca juga: KPPPA: Perempuan perlu didukung tentukan pilihan hidupnya sendiri

Baca juga: Perempuan dinilai pegang peran besar dalam transformasi era digital


"Sebagai perempuan tentu kita memiliki peran. Jangan memilih antara keluarga atau karir. Sebagai perempuan kita bisa menjalankan keduanya. Kita bisa menjalankan peran bagi diri kita sendiri, peran sebagai anak untuk orang tua, peran sebagai istri untuk suami dan peran sebagai ibu untuk anak kita. Kita harus menikmati itu semua. Salah satu tugas kita adalah membimbing generasi berikutnya agar lebih hebat dari kita," tuturnya.

Pada kesempatan itu, ia berpesan agar para perempuan saling mendukung. "Sebagai perempuan kita bisa kuat dengan mendukung satu sama lain," ujar Angkie.

Pewarta: Anita Permata Dewi
Editor: Endang Sukarelawati
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Potensi perempuan dalam pembangunan tak boleh dipandang sebelah mata

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar