AS bahas hak intelektual dengan eksekutif Pfizer dan AstraZeneca

AS bahas hak intelektual dengan eksekutif Pfizer dan AstraZeneca

Ilustrasi - Botol kecil dengan label vaksin penyakit virus korona (COVID-19) Pfizer-BioNTech, AstraZeneca, dan Moderna terlihat dalam foto ilustrasi yang diambil Jumat (19/3/2021). ANTARA FOTO/REUTERS/Dado Ruvic/Illustration/hp/cfo/am.

Washington (ANTARA) - Perwakilan Perdagangan Amerika Serikat (USTR) Katherine Tai pada Senin melakukan pertemuan virtual dengan para eksekutif tingkat tinggi dari pembuat obat-obatan Pfizer dan AstraZeneca PLC untuk mendiskusikan pengesampingan yang diusulkan atas hak kekayaan intelektual tertentu dalam respon terhadap pandemi COVID-19.

Para anggota Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), dijadwalkan untuk mendiskusikan permintaan yang dibuat oleh India dan Afrika Selatan untuk mengesampingkan sejumlah ketentuan dalam Kesepakatan WTO terkait Aspek-Aspek Dagang yang terkait dengan Hak atas Kekayaan Intelektual (TRIPS) pada 30 April, namun Amerika Serikat dan sejumlah negara besar lainnya telah memblokade langkah tersebut.

Para anggota parlemen Demokratik, kelompok-kelompok masyarakat sipil, 60 mantan pemimpin negara dan 100 pemenang Penghargaan Nobel telah mendesak Presiden Joe Biden untuk mendukung pengesampingan itu. Sekretaris Pers Gedung Putih Jen Psaki pada Senin mengatakan dirinya tak memiliki informasi terbaru terkait isu tersebut.

Pertemuan Tai dengan para eksekutif Pfizer dan AstraZeneca mencerminkan keterlibatannya yang intens dengan isu tersebut, dan menyusul pertemuan-pertemuan serupa dengan kelompok-kelompok advokasi, para eksekutif industri dan pihak-pihak lain.

Pada awal bulan ini, Tai mengatakan dalam pertemuan WTO bahwa kesenjangan yang menganga antara akses negara maju dan berkembang terhadap obat-obatan "sama sekali tidak dapat diterima" dan industri perlu berkorban pada masa krisis. Dalam diskusinya dengan Direktur Utama Pfizer Dr Albert Bourla, Tai menekankan komitmennya untuk bekerja dengan anggota WTO lainnya dalam menanggapi krisis secara global, kata kantornya dalam sebuah pernyataan.

Itu termasuk "peran negara berkembang dalam solusi apa pun yang mengatasi kesenjangan kritis dalam produksi dan distribusi vaksin global," kata USTR.

Tai juga membahas masalah ini dengan Dr. Ruud Dobber, kepala bisnis AstraZeneca di AS, serta keputusan Gedung Putih untuk membagikan hingga 60 juta dosis vaksin COVID-19 AstraZeneca dengan negara-negara yang membutuhkan.

USTR mengatakan Tai dan Dobber membahas "peningkatan produksi vaksin, masalah kesehatan global dan pengesampingan yang diusulkan.”

Sumber: Reuters
Baca juga: Brazil dalam pembicaraan beli 100 juta lebih dosis vaksin Pfizer
Baca juga: Inggris hampir sepakat beli puluhan juta dosis vaksin Pfizer
Baca juga: Pfizer setuju pasok dosis tambahan vaksin COVID untuk Jepang


Penerjemah: Aria Cindyara
Editor: Atman Ahdiat
COPYRIGHT © ANTARA 2021

IDI Lhokseumawe siap dukung vaksin Pfizer untuk pelajar

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar