Jiwasraya: Data pemegang polis ritel banyak tidak teridentifikasi

Jiwasraya:  Data pemegang polis ritel banyak tidak teridentifikasi

Ilustrasi - Warga melintas di depan kantor Asuransi Jiwasraya di Jalan Juanda, Jakarta. ANTARA FOTO/Galih Pradipta/ama.

Kami sudah pakai komunikasi surat, nomor teleponnya tidak ada. Alamat rumah juga sudah berubah
Jakarta (ANTARA) - Tim Percepatan Restrukturisasi PT Asuransi Jiwasraya (Persero) mencatat terdapat sekitar 25 persen pemegang polis ritel yang belum mengikuti program restrukturisasi karena datanya tidak teridentifikasi atau unidentified.

Sementara, hingga Selasa (27/4) jumlah pencapaian program restrukturisasi untuk pemegang polis ritel telah mencapai 75,8 persen atau setara dengan 134.972 pemegang polis.

“Pemegang polis ritel yang tidak teridentifikasi (sekitar 25 persen) tersebut bukan karena tidak bersedia ikut program restrukturisasi, namun karena datanya belum clean. Kami sudah pakai komunikasi surat, nomor teleponnya tidak ada. Alamat rumah juga sudah berubah,” kata Ketua Koordinator Tim Percepatan Restrukturisasi Jiwasraya yang juga Direktur Utama Jiwasraya Hexana Tri Sasongko, dalam sebuah webinar di Jakarta, Rabu.

Hexana mengungkapkan apabila sampai batas akhir pemegang polis tersebut memang belum juga teridentifikasi maka cara terakhir yang akan dilakukan Tim Percepatan Restrukturisasi Jiwasraya adalah melakukan pengumuman secara publik.

Selain pemegang polis ritel, progres pencapaian program restrukturisasi pemegang polis lainnya pun diketahui terus mengalami peningkatan. Untuk pemegang polis Bancassurance yang ikut dalam restrukturisasi sudah 93 persen atau mencapai 16.223 polis. Sementara itu, pemegang polis korporasi yang ikut restrukturisasi mencapai 82,8 persen atau 1.774 polis.

Hexana menekankan bahwa program restrukturisasi bukanlah paksaan, melainkan sebuah tawaran kepada pemegang polis. Pada dasarnya, restrukturisasi merupakan tanggung jawab pemerintah sebagai pemegang saham Jiwasraya, untuk mengembalikan dana nasabah.

Restrukturisasi juga merupakan amanat dari Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) Nomor 71 tahun 2016 tentang Kesehatan Keuangan Perusahaan Asuransi dan Perusahaan Reasuransi. Berdasarkan Pasal 50 ayat 3 POJK itu, apabila ada polis bermasalah itu wajib dilakukan restrukturisasi. Apabila perusahaan mengalami insolven, maka perusahaan bisa melakukan penyesuaian tarif dan pengalihan portofolio.

“Dengan kondisi keuangan Jiwasraya saat ini, apa yang diharapkan? Ada opsi likuidasi, kemungkinan jika itu diambil semua tidak akan happy. Dan pemerintah bersama manajemen baru Jiwasraya mencari inisiatif dan solusi yang lebih baik yakni restrukturisasi,” ungkap Hexana.

Mengacu laporan keuangan Jiwasraya, sampai pada 31 Desember 2020 nilai aset yang dimiliki oleh Jiwasraya hanya tersisa Rp15,7 triliun dengan tekanan liabilitas (kewajiban perusahaan kepada pemegang polis) mencapai Rp54 triliun. Sehingga ekuitas negatif Jiwasraya tercatat mencapai Rp38,7 triliun.

Baca juga: 90 persen nasabah polis Bancassurance Jiwasraya terima restrukturisasi
Baca juga: PT Jiwasraya dan nasabah sepakat bentuk forum komunikasi
Baca juga: Wamen BUMN paparkan skenario pasca-penawaran restrukturisasi Jiwasraya


Pewarta: Royke Sinaga
Editor: Faisal Yunianto
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar