Artikel

Menjaga diplomasi untuk jamin stok dan kejar target vaksinasi COVID-19

Oleh Agus Salim

Menjaga diplomasi untuk jamin stok dan kejar target vaksinasi COVID-19

Lansia berusia 102 tahun, Inna Wati mengikuti vaksinasi COVID-19 di Puskesmas Poris Plawad, Kota Tangerang, Banten, Minggu (11/4/2021). ANTARA FOTO/Fauzan/rwa.

Embargo pengiriman vaksin terjadi menyusul melonjaknya kasus positif COVID-19 di India
Jakarta (ANTARA) - Pemerintah perlu terus melaksanakan diplomasi untuk menjamin ketersediaan vaksin COVID-19 dan mengejar target vaksinasi COVID-19, apalagi saat ada embargo pengiriman vaksin dan makin ketatnya perebutan mendapatkan vaksin COVID-19.

Embargo pengiriman vaksin terjadi menyusul melonjaknya kasus positif COVID-19 di India sehingga produsen terbesar vaksin COVID-19 AstraZeneca itu menunda pengiriman vaksin dengan alasan untuk memenuhi kebutuhan domestik dan.regional.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengemukakan rencana pengiriman vaksin AstraZeneca periode Maret dan April 2021 ke Indonesia ditunda akibat embargo yang terjadi di India.

"Kita sudah dapat vaksin gratis dari COVAX-GAVI, sudah dapat vaksin AstraZeneca gratis sebanyak 1,1 juta dosis. Rencananya kita dapat 2,5 juta lagi pada 22 Maret 2021, kemudian April 2021 dapat lagi7,8 juta dosis. Namun ternyata ditunda, karena ada isu India embargo vaksin," kata Menkesi.

Situasi itu terjadi karena India sedang mengalami kenaikan kasus positif COVID-19 sehingga tidak mengizinkan vaksin tersebut keluar dari negara mereka, padahal India memiliki kemampuan produksi vaksin AstraZeneca paling besar di dunia.

COVAX-Global Alliance for vaccine and Immunization (GAVI) selaku penyedia vaksin AstraZeneca di Indonesia berupaya menjadwalkan ulang pengiriman vaksin AstraZeneca ke sejumlah negara.

COVAX-GAVI merupakan organisasi internasional yang merundingkan dan mendanai vaksin untuk negara berpenghasilan rendah dan menengah. Indonesia menjadi salah satu negara yang dibantu organisasi itu.

Menkes bersama Kementerian Luar Negeri melakukan pembicaraan dengan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) guna mengupayakan vaksin AstraZeneca bisa dikirim ke Indonesia pada Mei atau Juni 2021. "Saya bersama Menlu segera membicarakan ini dengan WHO, dan mudah-mudahan Mei atau Juni sudah bisa lagi dilakukan pengiriman," katanya.

Jumlah peserta vaksinasi di Indonesia sudah mencapai sekitar 10 juta orang hingga akhir Maret 2021 dengan kecepatan vaksinasi di Indonesia sudah sesuai dengan ketersediaan vaksin.

"Peserta vaksinasi menembus 10 juta orang, dengan kecepatan harian sudah mendekati 500 ribu penyuntikan per hari. Pada Maret dan April, ketersediaan vaksin sebanyak 15 juta per bulan dan sudah sesuai dengan kecepatan penyutikannya," kata Menkes.

Ia berharap pada Hari Kemerdekaan RI 17 Agustus 2021, pemerintah sudah bisa memberikan hadiah bagi ulang tahun Republik Indonesia ini di mana jumlah orang yang divaksinasinya sudah cukup banyak sehingga Indonesia bisa mengendalikan pandemi COVID-19.

Terkait kompetisi mendapatkan vaksin COVID-19, Menkes menyatakan saat ini kompetisi mendapatkan vaksin COVID-19 semakin keras di tingkat global namun Indonesia memiliki sumber pasokan pengadaan vaksin COVID-19 yang aman terjaga.

"Memang sekarang di seluruh dunia rebutan vaksin itu semakin keras. Alhamdulillah Indonesia itu sumber vaksinnya ada empat," katanya.

Baca juga: Pemerintah waspadai keterbatasan stok vaksin COVID-19 karena embargo

Baca juga: Akibat embargo, vaksinasi tahap tiga kemungkinan bergulir Juni/Juli


Empat sumber pengadaan vaksin bagi Indonesia itu adalah produsen dari China, Inggris, Amerika Serikat dan Jerman-Amerika Serikat. Dengan demikian, jika ada salah satu pasokan terganggu, Indonesia dapat mengandalkan sumber pasokan lainnya."Nah, salah satu yang lancar ini dari China. Jadi rutin mereka memang setiap dua minggu itu ada pengiriman," kata Menkes.


Pada Minggu (18/4/2021), China melalui perusahaan farmasi Sinovac Biotech Ltd mengirimkan bahan baku vaksin (bulk) sebanyak enam juta bulk sebagai bagian pengiriman 140 juta bulk. Pengiriman itu merupakan kedatangan tahap kedelapan vaksin COVID-19 di Indonesia. Bahan baku vaksin itu akan diolah PT Bio Farma Persero menjadi vaksin jadi.

"Pengirimannya datang kemarin itu 6 juta bahan baku. Itu akan jadi 80 persen-nya atu 4,8 juta satu bulan kemudian di bulan Mei. Jadi kita sekarang walau agak rem karena memang ada hambatan untuk yang AstraZeneca, tapi alhamdulillah yang China masih masuk sehingga April ini insya Allah harusnya terpenuhi, dan kita juga sudah menyiapkannya untuk bulan Mei," kata Menkes.


Diplomasi

Pemerintah terus melakukan diplomasi untuk menjamin ketersediaan vaksin agar program vaksinasi terus berjalan termasuk adanya tambahan pengiriman vaksin COVID-19 jadi buatan AstraZeneca sebanyak 3.852.000 dosis melalui fasilitas kerja sama vaksin multilateral COVAX dalam pengiriman gelombang kedua yang tiba di Tanah Air pada Senin (26/4).

“Kita menerima vaksin jadi AstraZeneca sebanyak 3.852.000 dosis. Pengiriman batch pertama vaksin multilateral dari COVAX Facility telah diterima Indonesia pada 3 Maret 2021 yaitu sebanyak 1,1 juta dosis,” kata Menteri Luar Negeri, Retno Marsudi.

Menlu menjelaskan bahwa dengan demikian jumlah vaksin COVID-19 buatan AstraZeneca yang diterima Indonesia melalui skema multilateral COVAX yakni sebanyak 4.965.600 dosis dan semuanya diperoleh secara gratis.

Jika jumlah tersebut digabungkan dengan semua vaksin yang telah tiba di Indonesia, baik yang didapatkan melalui jalur multilateral maupun bilateral, maka total vaksin yang telah tiba di Tanah Air yakni sebanyak 67.465.600 dosis.

Retno menjelaskan bahwa di tengah upaya pemerintah Indonesia untuk memastikan pemenuhan kebutuhan vaksin di dalam negeri, pihaknya terus memperjuangkan kesetaraan akses vaksin bagi semua negara, melalui peran aktif dalam pembahasan isu vaksin dunia terutama sebagai salah satu ketua COVAX AMC Engagement Group.

“Kita prihatin menyaksikan terjadinya gelombang baru di banyak negara di dunia, serta ditemukannya varian-varian baru di beberapa negara,” kata Menlu.

Dia juga mengatakan melihat semakin meningkatnya kebutuhan vaksin global, namun pada saat yang bersamaan terjadi pula perlambatan pengiriman vaksin ke seluruh penjuru dunia. Oleh karena itu, Pemerintah Indonesia terus bekerja keras guna mengamankan ketersediaan vaksin yang cukup bagi rakyat Indonesia.

“'Day and night' kita terus berupaya program vaksinasi nasional dapat terus berjalan, siang dan malam kita terus melakukan diplomasi agar kebutuhan vaksin kita terpenuhi,” ujarnya.

Menkes Budi Gunadi Sadikin menyampaikan terima kasih kepada Kementerian Luar Negeri yang telah melakukan perundingan ulang dengan GAVI) sehingga Indonesia mendapat tambahan dosis vaksin COVID-19 merek Sinovac dan AstraZeneca itu.

"Di bulan April ini kita mendapatkan tambahan vaksin dari Sinovac dan juga terima kasih Menlu sudah merenegosiasi juga dengan GAVI sehingga kita mendapatkan tambahan vaksin dari GAVI," katanya.

Menurut dia pada Senin (26/4) malam datang 3,8 juta dosis vaksin AstraZeneca dalam skema GAVI dan pada Mei 2021 akan datang lagi 2 x 3,8 juta dosis.

Menkes juga menyatakan Presiden Jokowi telah melakukan diskusi dengan Perdana Menteri China Xi Jinping bahwa ada tambahan vaksin Sinovac yang akan masuk ke Indonesia sebanyak 10-15 juta dosis untuk April dan Mei 2021.

Dengan datangnya tambahan dosis vaksin COVID-19 tersebut ke Indonesia, maka pemerintah kembali melakukan percepatan vaksinasi massal COVID-19 setelah sebelumnya sedikit intensitas vaksinasi berkurang untuk menjaga ketersediaan stok vaksin di dalam negeri."Kemarin kan agak kita sedikit (kurangi intensitasnya) karena suplainya kurang, tapi sekarang suplai untuk Mei akan cukup banyak. Untuk itu segera kita kembalikan fase penyuntikannya, seperti sebelumnya," katanya.

Pemerintah menargetkan 11,7 juta dosis AstraZeneca datang secara bertahap hingga Mei 2021 sebagai hasil kerja sama multilateral Aliansi Global untuk Vaksin dan Imunisasi (GAVI) COVAX Facility. Fasilitas tersebut merupakan kerja sama pengembangan vaksin antara Badan Kesehatan Dunia (WHO) dan GAVI.

Dengan percepatan pelaksanaan vaksinasi COVID-19, pemerintah berharap jumlah warga negara yang disuntikkan vaksin COVID-19 terus meningkat drastis setiap harinya. Pemerintah menargetkan dapat menyuntikkan vaksin COVID-19 kepada 181,5 juta penduduk Indonesia untuk menciptakan kekebalan kelompok.

Sementara itu Satuan Tugas (Satgas) Penanganan COVID-19 melaporkan sebanyak 12.112.088 orang telah menjalani vaksinasi di seluruh Indonesia hingga Rabu (28/4) pukul 12.00 WIB. Adapun jumlah tersebut berasal dari penambahan sebanyak 131.854 orang yang telah mendapat vaksin COVID-19 dosis pertama.

Kemudian sebanyak 195.690 orang telah mendapatkan vaksin COVID-19 dosis kedua sehingga jumlah penerima vaksin lengkap yakni 7.374.458 orang.

Masih banyaknya penduduk yang harus menjalani vaksinasi COVID-19 mengharuskan pemerintah mengupayakan berbagai cara untuk menjamin ketersediaan vaksin COVID-19.

Salah satunya pemerintah perlu terus melaksanakan diplomasi dengan pihak asing untuk mendapatkan vaksin COVID-19 apalagi saat ada embargo pengiriman vaksin dan makin ketatnya perebutan mendapatkan vaksin COVID-19.

Baca juga: Kemlu: Indonesia tak sulit negosiasi vaksin dengan banyak negara

Baca juga: Menkes: Pemerintah tambah pesanan vaksin Sinovac antisipasi embargo

Baca juga: Bio Farma minta Kemenlu bantu diplomasi India soal embargo vaksin

Baca juga: Kedatangan 100 juta vaksin tidak pasti karena embargo, kata Menkes


Oleh Agus Salim
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Alumni Akpol 97 vaksinasi 1.000 warga Donggala

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar