Telaah

Memotret potensi wisata medis di Bali

Oleh Adi Lazuardi

Memotret potensi wisata medis di Bali

Para wisatawan mancanegara mengikuti Bali Spirit, di Ubud, kabupaten Gianyar, yang sudah menjadi kegiatan dan kalender tahunan para pecinta yoga di dunia. Yoga dan meditasi di Bali sebagai bagian dari wisata medis sudah mendapatkan kepercayaan dari dunia. ANTARA/Dokumen Bali Spirit

tiga kota yang akan menjadi destinasi wisata kesehatan, dan menjadi alternatif bagi yakni Bali, Jakarta dan Medan. Wisatawan kesehatan Indonesia memang banyak berasal dari Sumatera, dan Jawa
Gianyar, Bali (ANTARA) - ​​​Belum lama ini, pemerintah mempromosikan Bali menjadi sentra wisata kesehatan. Menko Maritim dan Investasi Luhut Pandjaitan dan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno gencar mengkampanyekan Pulau Dewata untuk menjadi sentra wisata kesehatan atau medis di Indonesia.

Kebijakan itu didasarkan karena Indonesia ternyata merupakan negara dengan pasien rumah sakit terbesar di dunia, bahkan mengalahkan Amerika, itu berdasarkan Riset PricewaterhouseCoopers (PwC) Indonesia.

Hasil riset PwC Indonesia pada tahun 2015 mengungkapkan bahwa sekitar 600.000 orang per tahun warga Indonesia menjadi wisatawan medis, merupakan jumlah yang sangat besar di dunia bahkan mengalahkan Amerika Serikat dengan 500.000 orang wisatawan medis.

Sudah jadi rahasia umum, orang kaya Indonesia dan para pejabat lebih senang berobat ke luar negeri, di antaranya ke Singapore, Malaysia dan Thailand. Bagi warga Medan, Riau dan Aceh berobat ke Singapura atau Malaysia memang lebih dekat dari pada ke Jakarta. Alasannya, pelayanan kesehatan di luar negeri lebih professional dan relatif lebih murah, dan nyaman untuk wisata.

Berapa uang yang dihabiskan oleh wisatawan medis Indonesia di luar negeri? Rata-rata pengeluaran wisatawan medis sebesar 3.000 – 10.000 dollar AS per orang. Itu biaya yang dihabiskan sebelum pandemi COVID-19. Saat ini, biaya itu naik drastis, apalagi pasien harus masuk karantina dahulu di negara tujuan selama beberapa hari dan biaya ditanggung wisatawan.

Soal devisa yang dihamburkan wisatawan medis Indonesia untuk berobat keluar negeri, Menko Luhut Pandjaitan mengungkapkan dalam setahun bisa mencapai 6 miliar hingga 7 miliar dolar AS.

Tapi selama pandemi COVID-19, wisatawan medis Indonesia tidak bisa lagi berobat ke luar negeri karena berbagai keterbatasan dan hambatan perjalanan wisata. Sudah tentu ini menjadi peluang bagi Indonesia untuk menggarap wisatawan medisnya agar berobat ke dalam negeri saja.

Oleh sebab itu, Bali dipilih sebagai sentra atau pusat untuk wisatawan medis asal nusantara. Bali merupakan pilihan yang tepat, selain sudah menjadi destinasi wisata kelas dunia, Pulau Dewata ini juga sudah sering terpilih sebagai destinasi wisata nomor satu di dunia mengalahkan destinasi lainnya. Kini tinggal pemerintah menambah nilai tambah Bali sebagai sentra destinasi wisata medis.

Menko Maritim Luhut Pandjaitan pun menegaskan ada tiga kota yang akan menjadi destinasi wisata kesehatan, dan menjadi alternatif bagi yakni Bali, Jakarta dan Medan. Wisatawan kesehatan Indonesia memang banyak berasal dari Sumatera, dan Jawa.

Di masa pandemi ini adalah momentum yang tepat mulai membenahi sistem pelayanan kesehatan dalam negeri, dan memanfaatkan potensi pasar wisawatan medis nusantara.
Baca juga: Kemenko Marves ungkap perkembangan jadikan Bali hub wisata medis
Baca juga: Bali dicanangkan sebagai sentra wisata medis

 

Akreditasi

Bali sebenarnya sudah sejak lama menjadi destinasi wisawatan kesehatan, terutama untuk wisatawan medis mancanegara. Beberapa rumah sakit swasta di Bali juga sudah mendapatkan akreditasi dari luar negeri. Biayanya pun relative lebih murah. Namun, wisata medis yang selama ini ditangani lebih kepada kecantikan.

Dalam sebuah seminar wisata medis di Bali 2020, GM Indonesia Medical Tourism Board (IMTB) Bali Putu Deddy Suhartawan, mengatakan Bali berpotensi untuk dikembangkan sebagai tujuan wisata medis karena didukung sumber daya yang mumpuni.

Menurut dia, lebih dari 15 rumah sakit di Bali sudah terakreditasi secara nasional oleh Komisi Akreditasi Rumah Sakit​​​ (​​​​KARS) paripurna, sementara empat rumah sakit sudah terakreditasi internasional. Dan ada satu rumah sakit yang sudah disertifikasi ACHS atau Australian Council Health Service. yang merupakan satu-satunya di Indonesia.

Bali sejak peristiwa Bom Bali I dan II hingga sebelum pandemi COVID-19, terus meningkatkan kemampuan wisata kesehatannya. Maka, tak heran bila banyak warga asing yang bersedia mencoba layanan medis sembari berlibur di Pulau Dewata.

Layanan kesehatan di Bali yang sudah mendapatkan kepercayaan dari wisatawan mancanegara itu bervariasi, tetapi yang dominan adalah layanan kecantikan, baik untuk bedah plastik, face implant, face lift, liposuction, hingga yang bersifat non-invasif seperti suntik botox, filler, dan thread lift. Jumlahnya bisa mencapai 60 pasien per bulan dengan pendapatan mencapai Rp1,2 miliar.

Tahun 2019, wisatawan medis mancanegara dari Australia, China, dan India merupakan tiga teratas pelanggan wisata medis di Bali. Namun, pandemi tak memungkinkan wisatawan asing mengunjungi pulau dewata sehingga IMTB pun menggeser sasaran ke wisatawan domestik.

Tapi, pelayanan kesehatan bukan hanya medis saja. Bali sudah dikenal dunia sebagai tempat meditasi, yang mampu mengatasi stress, mengelola emosional dan kecemasan serta menimbulkan ketenangan dan kenyaman hidup.

Bali terkenal sebagai wisata spa kelas dunia. Di berbagai pelosok Pulau Dewata itu banyak penawaran pengobatan spa dan massage (pijat) tradisional yang merupakan bagian dari pelayanan kesehatan fisik dan non fisik. Dan wisata medis spa dan massage ini banyak menyerap tenaga kerja lokal dan pengobatan herbal ramuan tradisional Bali.

Ubud sebagai salah satu destinasi wisata di kabupaten Gianyar, Bali, telah bertaraf internasional untuk kegiatan yoga dan meditasi. Kegiatan tahunan “Bali Spirit” telah menjadi kalender dunia bagi para pecinta Yoga di dalam negeri dan luar negeri.

Langkah Menparekraf Sandiaga Uno melibatkan Universitas Udayana dalam mengembangkan dan memantapkan Bali sebagai sentra wisata medis di Indonesia sangatlah tepat.

Rektor Universitas Udayana Prof Dr.dr AA Raka Sudewi telah mengarahkan wisata medis untuk penyembuhan dengan melibatkan desa wisata dan pengobatan tradisional.

Univeristas Udayana akan membawa Bali sebagai sentra wisata medis di Indonesia yang memiliki keunikan, mengadopsi kearifan lokal, mengikuterstakan desa wisata, keindahan alam yang sudah terkenal di dunia, dan sudah pasti menyerap banyak tenaga lokal serta mengangkat pengobatan tradisional.

Langkah pemerintah menjadikan Bali sebagai sentra wisata medis sangat tepat karena akan mampu menurunkan wisatawan Indonesia berobat ke luar negeri dan menekan keluarnya devisa negara. Pulau Dewata memiliki infrastruktur kesehatan memadai karena memiliki rumah sakit terakreditasi nasional, bahkan internasional.

Wisatawan medis mancanegara pun sudah banyak mempercayai wisata medis di Bali. Sehingga dapat meningkatkan kepercayaan kepada wisatawan medis nusantara untuk berobat di negara sendiri, di Bali, selain berobat juga berwisata ke destinasi wisata kelas dunia.
Baca juga: Menteri BUMN: Pengembangan wisata medis dimulai di Bali
Baca juga: Mau kembangkan wisata medis, Luhut minta BKPM cari investor



Oleh Adi Lazuardi
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Praktisi kesehatan nilai vaksin dengan izin BPOM dipastikan aman

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar