Dolar bangkit dari terendah 9-minggu seiring kenaikan imbal hasil

Dolar bangkit dari terendah 9-minggu seiring kenaikan imbal hasil

Ilustrasi - Mata uang utama dunia, euro, dolar Hong Kong, dolar AS, yen, poundsterling, dan yuan. ANTARA/REUTERS/Jason Lee/am.

New York (ANTARA) - Dolar bangkit dari level terendah sembilan minggu pada akhir perdagangan Kamis (Jumat pagi WIB), terangkat oleh kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS setelah pemerintah melaporkan pertumbuhan ekonomi yang kuat untuk kuartal pertama dan peningkatan klaim pengangguran baru di minggu terakhir.

Imbal hasil obligasi pemerintah AS 10-tahun AS naik dua basis poin pada Kamis (29/4/2021), menjadi 1,639 persen, didorong oleh laporan ekonomi yang positif.

Produk domestik bruto meningkat pada tingkat tahunan 6,4 persen di kuartal pertama, data menunjukkan, pertumbuhan tercepat kedua sejak kuartal ketiga 2003. Pertumbuhan kuartal pertama didukung oleh belanja konsumen, yang melonjak 10,7 persen dibandingkan dengan laju 2,3 persen di kuartal keempat.

Sebuah laporan terpisah pada Kamis (29/4/2021) menunjukkan klaim awal AS untuk tunjangan pengangguran turun 13.000 menjadi 553.000 yang disesuaikan secara musiman selama pekan yang berakhir 24 April.

“Tentu saja, bagian besar dari pergerakan dolar adalah kenaikan imbal hasil hari ini. Ada korelasi yang cukup erat antara valas dan suku bunga,” kata Erik Nelson, ahli strategi makro di Wells Fargo Securities di New York.

Baca juga: Dolar tergelincir setelah Fed pupus harapan pangkas pembelian obligasi


“Semua orang puas dengan pergerakan suku bunga yang lebih rendah dan dolar hancur pada April. Sekarang imbal hasil naik dan sedikit stabil, kita akan melihat beberapa penguatan dolar,” tambahnya.

Pertumbuhan ekonomi yang kuat biasanya meningkatkan nilai dolar: pertumbuhan yang lebih tinggi mendorong lebih banyak pengeluaran, yang pada gilirannya meningkatkan harga-harga. Ketika harga-harga naik, Federal Reserve secara historis melakukan intervensi dengan menaikkan suku bunga untuk mencegah inflasi.

Dalam perdagangan sore, indeks dolar, ukuran nilai greenback terhadap enam mata uang utama lainnya, naik 0,1 persen menjadi 90,596. Sebelumnya, indeks mencapai level terendah sejak 26 Februari. Penurunan sebelumnya dalam dolar juga mendorong euro ke level tertinggi sembilan minggu, meskipun mata uang tunggal tersebut telah stabil menjadi sekitar 1,2116 dolar, turun 0,1 persen.

Dolar pada Rabu (28/4/2021) turun setelah Ketua Fed Jerome Powell meredam spekulasi tentang pengurangan awal program pembelian obligasi bank sentral AS, mengatakan lapangan kerja masih jauh dari target.


Baca juga: Dolar jatuh karena imbal hasil melemah, euro catat kenaikan ekstra


Dovish The Fed sangat kontras dengan bank sentral Kanada (BoC), yang telah mulai mengurangi pembelian asetnya, mengirim dolar AS meluncur ke palung tiga tahun terhadap dolar Kanada. Greenback terakhir turun 0,2 persen terhadap mata uang Kanada pada 1,2281 dolar Kanada.

Dolar AS juga berjuang semalam setelah dorongan Presiden Joe Biden untuk mendapatkan 1,8 triliun dolar AS lagi dalam pengeluaran yang berisiko memperluas anggaran AS dan defisit perdagangan, sebuah tekanan untuk greenback.

Namun yen berjuang melawan dolar, masih terguncang setelah bank sentral Jepang awal pekan ini mengatakan inflasi akan gagal mencapai target utama 2,0 persen hingga awal 2023.

Dolar terakhir naik 0,3 perdsen versus yen di 108,88 yen.

Di pasar mata uang kripto, ethereum, mata uang digital terbesar kedua dalam hal kapitalisasi pasar, mencapai rekor tertinggi lain pada Kamis (29/4/2021) di 2.800,89 dolar. Terakhir turun 0,7 persen pada 2.732,09 dolar.


Baca juga: Dolar AS menguat, ditopang data ekonomi dan kebijakan ECB

Baca juga: "Rebound" dolar terhenti pasca-Kanada isyaratkan kenaikan suku bunga

 

Penerjemah: Apep Suhendar
Editor: Subagyo
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Bank Indonesia waspadai kenaikan imbal hasil obligasi AS

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar