Dua strategi Bukit Asam hadapi pelemahan pasar energi fosil

Dua strategi Bukit Asam hadapi pelemahan pasar energi fosil

Dokumentasi. Direktur Utama PTBA yang baru Suryo Eko Hadianto memberikan keterangan pers secara virtual setelah RUPST di Jakarta, Senin (5/4). (ANTARA/Dolly Rosana/21)

Dunia saat ini sangat peduli dengan lingkungan, itu terlihat dari besarnya tekanan terhadap energi fosil dan dorongan untuk segera bergeser ke energi baru terbarukan
Jakarta (ANTARA) - PT Bukit Asam Tbk (Persero) perusahaan yang bergerak dalam bisnis pertambangan batu bara telah memproyeksikan pelemahan pasar energi fosil di masa depan akibat kesepakatan yang mengikat 188 negara dengan tujuan utama mengurangi emisi karbon.
 
Direktur Utama Bukit Asam Suryo Eko Hadianto mengatakan pihaknya telah menyiapkan dua strategi dalam menghadapi perubahan tren konsumsi energi global dari awalnya fosil menjadi energi baru terbarukan.
 
"Dunia saat ini sangat peduli dengan lingkungan, itu terlihat dari besarnya tekanan terhadap energi fosil dan dorongan untuk segera bergeser ke energi baru terbarukan," kata Suryo dalam konferensi pers yang dipantau di Jakarta, Jumat.
 
Strategi pertama, Bukit Asam melakukan optimasi secara fundamental terhadap biaya produksi dan biaya usaha agar penurunan harga ataupun pelemahan bisnis batu bara tidak terlalu berpengaruh terhadap kondisi finansial perusahaan di masa depan.
 
Optimasi menjadi cara untuk menjaga dan mencatatkan kinerja positif di tengah volatilitas harga dan berkurangnya permintaan pasokan batu bara baik di pasar domestik maupun internasional.
 
Strategi kedua, Bukit Asam akan masuk ke ranah bisnis yang memang diinginkan masyarakat dunia, yaitu bisnis energi baru terbarukan melalui beberapa program pengembangan dari mulai listrik surya hingga biofuel.
 
Emiten berkode saham PTBA ini berencana menggarap proyek pengembangan pembangkit listrik tenaga surya di lahan pasca tambang milik perusahaan yang berada di Ombilin, Sumatera Barat; dan Tanjung Enim, Sumatera Selatan
 
Total lahan yang disiapkan untuk proyek PLTS tersebut seluas 400 hektare dengan kapasitas daya listrik masing-masing sebesar 200 megawatt.
 
Saat ini PLTS sedang dalam tahap pembahasan dengan PLN untuk bisa menjadi independent power producer agar bisa menyuplai listrik ke sistem transmisi milik pemerintah.
 
Bukit Asam juga akan mengembangkan bahan bakar nabati biofuel seiring potensi lahan perkebunan kelapa sawit yang dimiliki perseroan cukup besar.
 
Selain itu, Bukit Asam juga memilih tanaman-tanaman reboisasi yang bisa menyerap karbon secara baik. Melalui program ini, perseroan akan masuk ke dalam bisnis manajemen karbon.
 
"Di sisi lain, kami sudah masuk ke portofolio bisnis yang tidak hanya berbasis pada batu bara (tetapi energi baru terbarukan) supaya ada portofolio pendapatan, sehingga going concern Bukit Asam tetap bisa terjaga secara jangka panjang," tutup Suryo.

Baca juga: Bukit Asam akan bagikan dividen tunai Rp835 miliar
Baca juga: PTBA siapkan Rp3,8 triliun untuk diversifikasi bisnis batu bara
Baca juga: Kuartal I-2021, Laba bersih Bukit Asam tergerus curah hujan tinggi

Pewarta: Sugiharto Purnama
Editor: Biqwanto Situmorang
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Menteri BUMN terima bantuan alkes dari China

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar