Bungkus alat "rapid test" mesti dibuka di depan pasien

Bungkus alat "rapid test" mesti dibuka di depan pasien

Tak hanya alat rapid test, petugas vaksinasi pun memastikan alat suntik yang digunakan baru untuk setiap orang yang divaksin. (ANTARA/Novi Abdi)

Balikpapan (ANTARA) - Satuan Tugas (Satgas) Penanganan COVID-19 Balikpapan memberikan petunjuk untuk memastikan "test pack" atau perangkat "rapid test" antigen yang akan digunakan adalah baru.

“Minta dibuka dari bungkusnya di depan kita,” kata Juru Bicara Satgas COVID-19 Balikpapan yang juga Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Balikpapan dr Andi Sri Juliarty, Jumat.

Tips ini muncul setelah terungkap kejadian petugas klinik di Bandara Kualanamu di Deli Serdang, Sumatera Utara, menggunakan alat tes yang sama untuk beberapa pasien (re-use). Padahal alat tes cepat tersebut adalah alat sekali pakai (single use) dan sesudah dipakai harus dibuang (disposal) karena sudah menjadi limbah medis yang termasuk kategori limbah beracun dan berbahaya (B3).

“Selain itu kami segera mengetatkan pengawasan di lapangan,” kata Juliarty.

Selain itu, Satgas akan semakin mengetatkan pengawasan ke sejumlah fasilitas pelayanan "rapid test" antigen maupun swab PCR, terutama di Bandara Sepinggan--karena "re-use" di Kualanamu terjadi di klinik bandara.

Dalam pengawasan kepada laboratorium atau pelayanan "rapid test" seperti di bandara, diperiksa prosedur standar mulai dari cara pelayanan pasien hingga ketersediaan alat uji dan perlakuan atas limbah medis.

"Semua laboratorium wajib memiliki SOP pelayanan rapid antibodi, antigen dan PCR,” kata Kadinkes.

Baca juga: Kapolda sebut tersangka alat uji cepat bekas raup untung Rp1,8 miliar
Baca juga: Kimia Farma pecat oknum petugas Antigen yang jadi tersangka


Dalam prosedur pelayanan, misalnya, petugas memastikan bahwa orang yang dites memang orang yang sesuai dengan data di kartu identitas yang diperlihatkan.

Selain itu plastik alat rapid antigen harus masih baru dan dibuka di depan konsumen. Kemudian setelah pemeriksaan dilakukan, maka alat dirusak atau dipatahkan agar tidak dapat dipakai ulang.

Demikian juga plastik pada GeNose dirusak dulu sebelum diimasukan ke tempat penampungan limbah B3.

Limbah medis B3 ini mesti ditangani khusus oleh unit yang memiliki keahlian. Rumah sakit biasanya memiliki unit tersendiri untuk penanganan limbah ini.

Untuk laboratorium yang bukan bagian dari rumah sakit maka biasanya bekerjasama dengan pihak ketiga yang ahli dalam hal tersebut.

Laboratorium juga wajib mencatat jumlah persediaan dan pemakaian alat kesehatan yang dimilikinya sebagai tertib data dan administrasi. 
 

Pewarta: Novi Abdi
Editor: Sri Muryono
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Pemerintah larang  pengambilan spesimen tanpa pengawasan medis

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar