Konsumsi pada akhir Ramadhan mulai bergeliat

Konsumsi pada akhir Ramadhan mulai bergeliat

Sejumlah warga berbelanja pakaian di Blok B Pusat Grosir Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat, Minggu (2/5/2021). ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra/foc. (ADITYA PRADANA PUTRA/ADITYA PRADANA PUTRA)

Perlu ada upaya mengalirkan likuiditas kredit ke perekonomian secara memadai
Jakarta (ANTARA) - Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) menyebut konsumsi masyarakat pada akhir Ramadhan mulai bergeliat dibandingkan awal Ramadhan yang cenderung landai.

“Di hari-hari terakhir Ramadhan ini sebenarnya beberapa sudah melihat agak kelihatan sedikit naik tapi angkanya. BPS melalui angka inflasi yang tadi diumumkan, secara bulanan angkanya sedikit mengalami kenaikan dibandingkan tahun kemarin,” kata Wakil Direktur INDEF, Eko Listiyanto dalam webinar daring, Senin.

Eko mencontohkan bukti konsumsi masyarakat yang menggeliat pada akhir Ramadhan dengan penumpukan masyarakat yang berbelanja di Tanah Abang, Jakarta Pusat pada Sabtu (2/5).

Ia juga mengatakan pada Ramadhan 2021 lebih baik dibandingkan Ramadhan 2020 ketika Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) diberlakukan dan berdampak pada konsumsi masyarakat. Sehingga pada Ramdahan ini mampu mendorong inflasi menjadi 0,13 persen dibandingkan tahun lalu yang sebesar 0,08 persen.


Baca juga: Survei : Indeks konsumsi naik 17 persen pada April 2021
 

“Ramadhan kali ini sebetulnya sedikit-banyak sudah ada peningkatan konsumsi, situasinya juga lebih berbeda ya dibandingkan dengan tahun lalu. Inflasi selama bulan Ramadan di tahun ini sudah sedikit naik yang menggambar daya belinya juga terangkat,” ujar Eko.

Selain itu, Eko menyampaikan bahwa optimisme perbaikan ekonomi juga terlihat pada tren Indeks Keyakinan Konsumen yang meningkat. Utamanya pada pembelian durable goods (barang tahan lama) bulan pada Maret 2021 mencapai indeks 80,0 naik dibandingkan Februari dan Januari 2021 yang masing-masing 76,9 dan 76,6.

“Kalau uangnya terbatas dia kan yang penting untuk kebutuhan primer dulu kan yang penting maka. Kalau konsumsinya udah ke pakaian, elektronik, perabot rumah tangga, berarti orang sudah berpikir kalau capacity dia untuk tetap survive dalam konteks kebutuhan primernya,” jelasnya.

Kendati demikian, ia menyarankan pemerintah agar tak hanya mengandalkan dorongan belanja fiskal jika ingin pertumbuhan ekonomi triwulan II di atas 5 persen.


Baca juga: Menko Airlangga: Belanja masyarakat kian menggeliat pada April ini
 

“Perlu ada upaya mengalirkan likuiditas kredit ke perekonomian secara memadai,” kata dia.

Adapun Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pergerakan inflasi pada April 2021 sebesar 0,13 persen, sedikit lebih baik dari periode sama tahun lalu yang melambat.

"Inflasi pada April sebesar 0,13 persen ini meningkat dibandingkan April lalu sebesar 0,08 persen," kata Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Setianto.

Dengan terjadinya inflasi pada April, maka inflasi tahun kalender Januari-April 2021 tercatat sebesar 0,58 persen dan inflasi tahun ke tahun (yoy) 1,42 persen.


Baca juga: Peneliti : Pemerintah perlu fokus perbaiki tingkat konsumsi masyarakat

Baca juga: Mendag sebut pemerintah berupaya dorong konsumsi masyarakat


Pewarta: Kuntum Khaira Riswan
Editor: Subagyo
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Polrestabes Bandung ringkus 116 pelaku kejahatan selama Ramadhan

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar