Rektor UI: Sektor industri sumbang 20 persen PDB

Rektor UI: Sektor industri sumbang 20 persen PDB

Suasana Kuliah Umum Menperindag Agus Gumiwang Kartasasmita di FEB UI secara daring. (ANTARA/Foto: Humas UI)

Diproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal II, III dan IV tahun ini berada di zona positif. Alhasil, ekonomi Indonesia tahun 2021 secara akumulasi, akan tumbuh positif dibandingkan tahun 2020 lalu
Depok (ANTARA) - Rektor UI, Prof. Ari Kuncoro mengatakan bahwa sampai saat ini sektor industri masih merupakan salah satu sektor unggulan Indonesia karena menyumbang hampir 20 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) negara.

"Selama pandemi, sektor industri telah menunjukkan daya tahannya dengan pertumbuhan positif yang terlihat dari peningkatan nilai ekspor, nilai investasi asing, dan nilai purchasing index pada kuartal keempat di tahun 2020," kata Rektor dalam keterangannya, Rabu.

Dikatakannya selain upaya pemerintah, hal yang tidak kalah penting dalam meningkatkan kinerja sektor industri adalah dukungan dari pelaku usaha.

"Resiliensi atau daya tahan sektor industri Indonesia memang merupakan salah satu kunci kesuksesan pemerintah melakukan pemulihan ekonomi di tengah pandemi," katanya.

Sementara itu Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita ketika menjadi narasumber utama seminar daring bertajuk “Industri Unggulan Indonesia untuk Mempercepat Reindustrialisasi" mengatakan terdapat tiga kebijakan yang menjadi sumber utama daya tahan tersebut

Yaitu kebijakan pemberian Izin Operasional dan Mobilitas Kegiatan Industri (IOMKI), penurunan harga gas industri sebesar 6 dollar AS per juta metrik british thermal unit, dan kebijakan stimulus dan insentif bagi sektor-sektor industri tertentu. “Kebijakan IOMKI bukannya tanpa kritik."

"Kami sempat dijuluki pembunuh berdarah dingin oleh berbagai pihak karena tetap mengizinkan operasional industri sambil tetap menjalankan protokol kesehatan," katanya.

"Namun, kami tetap harus melakukan ini karena kami paham betul bahwa sekali industri di-shutdown, akan sangat sulit untuk memulai kembali dan ini justru akan menimbulkan efek jangka panjang yang tidak baik bagi negara," katanya.

Agus menjamin bahwa kebijakan IOMKI ini disertai dengan upaya pengawasan yang tinggi dari pemerintah. Para pelaku industri diwajibkan untuk memberikan laporan secara berkala sebanyak dua kali dalam sebulan mengenai paparan COVID-19 di lingkungan mereka, serta upaya mitigasi yang dilakukan. “Bila selama tiga kali berturut-turut mereka tidak melakukan pelaporan, maka izin operasional mereka akan kami cabut, dan ini sudah kami tegakkan berkali-kali.

Ia menyebutkan bahwa saat ini terdapat sembilan isu tantangan pembangunan industri nasional, yaitu: kekurangan bahan baku; kekurangan infrastruktur; kekurangan utility (listrik, air, gas, dan pengolahan limbah); kurangnya tenaga ahli; tekanan produk impor; spesifikasi yang terlalu ketat untuk produksi kertas, plastik, dan baja bekas yang menyulitkan industri; permasalahan pembiayaan; logistik sektor industri; dan belum terbangunnya basis data yang baik.

Untuk mengatasi hal-hal tersebut, pemerintah telah melakukan beberapa upaya, yaitu dikeluarkannya Peraturan Pemerintah No. 28 tahun 2021 sebagai turunan Undang-Undang Cipta Kerja yang mengatur tentang penyederhanaan birokrasi perizinan industri dan juga mengatur terkait kemudahan industri mendapatkan bahan baku.

Baca juga: Sektor industri ini banyak cari karyawan seiring pemulihan ekonomi
Baca juga: BPPT harapkan penerapan AI masuki sektor industri unggulan
Baca juga: Industri 4.0 dorong sektor farmasi lebih kompetitif

 

Pewarta: Feru Lantara
Editor: Biqwanto Situmorang
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Ketua MPR: P4 dihapus, ulama dan nasionalis dibenturkan

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar