PDPI: ICU di rumah sakit vertikal dan BUMN penuh

PDPI: ICU di rumah sakit vertikal dan BUMN penuh

Ketua Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) Agus Dwi Susanto saat memberikan keterangan kepada wartawan secara virtual di Jakarta, Rabu (5/5/2021). (ANTARA/Andi Firdaus).

ada potensi lonjakan yang berlangsung sejak April
Jakarta (ANTARA) - Ketua Pokja Infeksi Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) Erlina Burhan melaporkan situasi unit perawatan intensif baik di rumah sakit vertikal maupun Badan Usaha Milik Negara (BUMN) saat ini telah penuh.

"Situasi rumah sakit saat ini sebenarnya relatif landai, tapi grafiknya bukan ada di bawah, tapi bukan juga melonjak. Tepatnya ada potensi lonjakan yang berlangsung sejak April," katanya kepada wartawan dalam agenda jumpa pers secara virtual, Rabu.

Erlina mengatakan situasi pelayanan rumah sakit saat ini mengalami kecenderungan peningkatan pasien COVID-19.

Jumlah orang yang dirawat inap berdasarkan laporan Kementerian Kesehatan dalam sepekan terakhir, kata Erlina, meningkat sebesar 1,28 persen. Sedangkan peningkatan angka kematian mencapai 20,73 persen.

Baca juga: Dokter paru sebut rumah sakit butuh tambahan oksigen dan IGD

Baca juga: Pakar: Lepas masker di AS karena kepesertaan vaksinasi tinggi


Jika sebelum pandemi masih banyak rumah sakit yang merawat inap pasien bergejala ringan, kata Erlina, namun sekarang hanya pasien yang bergejala sedang dan berat saja yang bisa dirawat inap di rumah sakit.

"Rumah sakit vertikal, rumah sakit BUMN ICU-nya penuh. Artinya, pasien dengan gejala berat itu banyak yang dirawat," katanya.

Ketua Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) Agus Dwi Susanto menambahkan di Indonesia saat ini telah muncul klaster perkantoran, klaster buka puasa bersama, klaster takziah, bahkan sudah ada klaster mudik di Pati, Jawa Tengah pada akhir April 2021.

"Melirik perilaku masyarakat dua pekan ke belakang, dengan semakin kentalnya suasana Ramadhan, semakin banyak pula kegiatan kumpul massa seperti buka puasa bersama, berdesak-desakan di pusat perbelanjaan, hingga mudik ke kampung halaman yang sayangnya dilakukan tanpa kepatuhan terhadap protokol kesehatan yang baik," katanya.

Hal ini dikhawatirkan Agus bisa menjadi potensi terjadinya ledakan kasus baru COVID-19, seperti yang sudah terjadi di India.

"Jangan sampai tragedi di India terulang di Indonesia, apalagi sudah terdeteksi kasus varian baru di Indonesia. Kita belum mengetahui secara persis sifat varian baru ini, apakah varian tersebut dapat meningkatkan penularan, atau dapat menurunkan efektivitas vaksin atau meningkatkan keparahan manifestasi COVID-19," katanya.

Baca juga: Dokter: Peningkatan D-dimer terjadi pada pasien COVID-19 berat

Baca juga: Dokter paru: Pasien COVID-19 rentan terkena happy hypoxia

Pewarta: Andi Firdaus
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Dokter Paru: CT Value itu patokan dokter menentukan pengobatan suportif

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar