Serikat sebut petani sawit belum nikmati tingginya harga CPO

Serikat sebut petani sawit belum nikmati tingginya harga CPO

Pekerja memuat TBS dalam mobil pikap di kawasan kebun kelapa sawit milik masyarakat Kecamatan Kuala Batee, Aceh Barat Daya. (ANTARA/Suprian)

Jakarta (ANTARA) - Sekjen Serikat Petani Kelapa Sawit Indonesia (SPKSI) Mansuetus Darto menyebut petani kelapa sawit mandiri belum menikmati tingginya harga crude palm oil (CPO) global yang hampir menyentuh level all time high (ATH) beberapa waktu terakhir karena masih menjual hasil panen ke tengkulak.

"Nyatanya situasi saat ini dari sejak dulu petani swadaya selalu menjual ke tengkulak," kata Darto dalam diskusi daring mengenai tantangan dan progres Program Biodisel B30 yang dipantau di Jakarta, Rabu.

Darto menyebut terdapat 5,5 juta petani kelapa sawit swadaya yang menggarap lahan yang dimilikinya sendiri dengan kapasitas dan pendanaan juga secara mandiri. Darto menyebut sebagian besar petani mandiri itu masih menjual hasil kebun ke tengkulak alih-alih langsung memasoknya pada industri atau pabrik dalam rangka penyelenggaraan Program Biodisel B30.

Baca juga: Ekspor minyak sawit hasilkan devisa 3,74 miliar dolar AS pada Maret

Namun, Darto menekankan bahwa harga yang dibayarkan oleh tengkulak lebih rendah 30 persen dibandingkan harga yang ditetapkan oleh pemerintah. Menurutnya, penyebab petani masih menjual hasil kebun ke tengkulak dikarenakan tidak terhubungnya rantai pasok dari petani swadaya kepada industri.

"Bayangkan loss income petani swadaya yang jumlahnya 5,5 juta petani itu sekitar 30 persen per bulan dari pendapatan produksi mereka," kata Darto.

Namun jika yang terjadi hal sebaliknya, yaitu terdapat skema kerja sama yang adil antara industri dan juga koperasi petani swadaya untuk membangun kemitraan dalam konteks rantai pasok biodisel, dipastikan akan bisa memberikan manfaat secara ekonomi kepada petani.

Baca juga: Ketua DPD RI puji upaya Pemprov Bengkulu stabilkan harga TBS sawit

Ditambah lagi hasil dari pendapatan produksi kebun sawit para petani swadaya juga harus dipotong untuk Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) yang nilainya mencapai 250 dolar AS per ton.

"Kesimpulan saya program biodisel sekarang belum memperbaiki ekonomi petani perkebunan swadaya. Dilihat dari konteks harga karena rantai pasok tidak bisa berubah di lapangan, sejak dulu petani sawit jual ke tengkulak dengan disparitas harga sekitar 30 persen jika dibandingkan dengan harga pemerintah," kata Darto.

Namun Darto tak menampik bahwa Program Biodisel B30 yang ditetapkan pemerintah sangat membantu menjaga kestabilan harga CPO di dalam negeri agar tidak jatuh lantaran hasil sawit Indonesia yang sudah over produksi. Menurutnya, harga sawit di dalam negeri bisa jatuh andaikan tidak ada program biodisel yang dilakukan oleh pemerintah.

Pewarta: Aditya Ramadhan
Editor: Budi Suyanto
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Menkop Teten ungkap tiga kunci UMKM berbasis sawit dapat tumbuh

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar