Pedagang di "rest area" curhat dampak larangan mudik bagi mereka

Pedagang di "rest area" curhat dampak larangan mudik bagi mereka

Suasana tempat istirahat di kilometer 102 Tol Cipali-Subang, Jawa Barat, Jumat (7/5/2021). Kebijakan pelarangan mudik di masa pandemi COVID-19 menyebabkan penurunan volume kendaraan yang melintas di Tol Cipali, sehingga berdampak terhadap menurunnya jumlah pengunjung di sejumlah tempat istirahat. (ANTARA/Sugiharto Purnama)

Tahun ini lebih parah dibanding tahun lalu, karena pengemudi travel enggak diizinkan bawa penumpang, makanya jualan enggak laku
Subang (ANTARA) - Para pedagang yang berjualan di tempat istirahat atau rest area di sepanjang ruas Tol Trans Jawa mengeluhkan kebijakan pelarangan mudik karena memangkas pendapatan mereka. "Sejak pagi hingga sore ini belum ada satupun dagangan yang laku terjual," kata Eem, penjual makanan di tempat istirahat kilometer 102 Tol Cipali, Subang, Jawa Barat, Jumat.

Bahkan, kemarin, pendapatan setelah seharian berjualan hanya Rp20.000 karena sedikit warga yang melakukan perjalanan dan mampir ke tempat istirahat.

"Tahun ini lebih parah dibanding tahun lalu, karena pengemudi travel enggak diizinkan bawa penumpang, makanya jualan enggak laku," kata Eem.

Baca juga: Polri putar balikkan 23.573 kendaraan di hari pertama larangan mudik

Meski pendapatan selama pelarangan mudik kali ini minim pemasukan tapi pedagang telah meraup untung sebelum kebijakan itu diterapkan, yakni tanggal 3-5 Mei lalu karena ada banyak pemudik curi start.

"Sehari berjualan bisa dapat Rp4 juta, ada yang dapat Rp10 juta, bahkan Rp11 juta, karena banyak orang duluan mudik pada tanggal itu," kata Eem.

Selama penerapan kebijakan pelarangan mudik pada 6-17 Mei 2021, pedagang di tempat istirahat hanya bisa bertahan dengan menggunakan sebagian keuntungan yang didapat sebelumnya untuk biaya operasional.

Mereka tidak menutup toko meski dagangan tidak laku terjual.

Baca juga: Hari pertama larangan mudik, 648 mobil diputar balik di Tol Cikampek

"Sekarang yang bisa kami lakukan hanya bertahan dan tetap membuka toko," kata Teguh, pedagang batik dan aksesori di tempat istirahat kilometer 360 ruas Tol Semarang-Batang, Jawa Tengah.

Pada periode larangan mudik 6-17 Mei 2021, semua kendaraan angkutan penumpang mulai dari mobil pribadi, bus hingga sepeda motor dilarang beroperasi.

Jika masyarakat nekat melanggar, maka petugas akan memberikan sanksi berupa putar balik ataupun hukuman sesuai ketentuan berlaku.

Kebijakan itu dilakukan guna mencegah penularan COVID-19 yang sering naik saat libur panjang.

Meski pemerintah tegas melarang mudik, namun ada beberapa jenis kendaraan yang tetap diperbolehkan melintas, yakni kendaraan pelayanan distribusi logistik, keperluan kerja atau dinas, kunjungan keluarga sakit, kunjungan keluarga duka, ibu hamil dengan didampingi satu anggota keluarga, dan kepentingan persalinan.

Baca juga: KSP mendorong "rest area" jalan tol sebagai etalase UMKM daerah

Pewarta: Sugiharto Purnama
Editor: Risbiani Fardaniah
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Pelarangan mudik selesai, Bandara Malikussaleh dipadati penumpang

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar