PB Perpari: Kesalahpahaman tentang asma di masyarakat masih kuat

PB Perpari: Kesalahpahaman tentang asma di masyarakat masih kuat

Tangkapan layar - Ketua Pengurus Besar Perhimpunan Respirologi Indonesia (PB Perpari) Arto Yuwono Soeroto dalam temu media terkait Hari Asma Sedunia tahun 2021 di Jakarta, Jumat (7/5/2021). ANTARA/Zubi Mahrofi.

Perilaku pencegahan paparan faktor risiko asma lebih diutamakan
Jakarta (ANTARA) - Pengurus Besar Perhimpunan Respirologi Indonesia (PB Perpari) menilai mitos dan kesalahpahaman tentang asma di masyarakat yang masih kuat berakibat tidak optimalnya manfaat dari kemajuan tatalaksana asma.

"Tatalaksana asma sekarang sudah sangat maju dibandingkan dengan dua dekade yang lalu. Namun karena adanya mitos manfaat tatalaksana yang sudah modern menjadi tidak optimal oleh penyandang asma," ujar Ketua PB Perpari Arto Yuwono Soeroto dalam temu media terkait Hari Asma Sedunia tahun 2021 di Jakarta, Jumat.

Ia menyampaikan, terdapat beberapa mitos yang beredar di masyarakat diantaranya adalah asma merupakan penyakit anak-anak dan akan hilang saat usia bertambah. Padahal, asma bisa timbul di usia anak, dewasa, hingga lansia.

"Asma itu tidak dapat disembuhkan, tapi dapat dikelola dengan baik. Artinya bisa ditatalaksana dengan baik sehingga gejalanya tidak timbul," katanya.

Mitos lainnya, ia menyampaikan, penyandang asma tidak boleh dan tidak mampu berolahraga.

Faktanya, lanjut dia, kalau penyandang asma dapat mengendalikan penyakitnya, penyandang tetap dapat melakukan latihan fisik bahkan melakukan olahraga berat.

"Contohnya, David Beckham, dia asma, tahun 2009 dia tertangkap photo menggunakan alat inhaler. Dia asma sejak muda tapi mampu menjadi atlet top, bahkan kaki kanan-kiri saja diasuransikan saking hebatnya," katanya.

Baca juga: Wamenkes: Asma tidak bisa disembuhkan namun dapat dikendalikan

Baca juga: Masyarakat diminta tingkatkan kesadaran terhadap penyakit asma


Karena mitosnya penyandang asma tidak mampu dan tidak boleh berolahraga, Arto mengatakan, penyandang menjadi benar-benar tidak bisa melakukan olahraga.

Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Dante Saksono Harbuwono mengingatkan bahwa asma tidak bisa disembuhkan, namun dapat dikendalikan.

"Perilaku pencegahan terhadap paparan faktor risiko asma lebih diutamakan ketimbang pengobatan," ujar Wamenkes.

Ia mengatakan intervensi awal dalam mengurangi paparan risiko asma sangat dibutuhkan bagi penderita.

Ia menyampaikan pencegahan terhadap faktor risiko asma, diantaranya menghindari paparan alergen dari tungau, bulu binatang, debu, asap rokok, udara dingin dan lain sebagainya.

Baca juga: Mengidap batuk Asma? silakan mengonsumsi tablet vitamin D

Baca juga: Rumah Berjamur Picu Asma dan Alergi


 

Pewarta: Zubi Mahrofi
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Tak khawatir virus corona, perburuan codot lanjut terus untuk obati asma

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar