Gaya hidup minim sampah dimulai dari memilah sampah

Gaya hidup minim sampah dimulai dari memilah sampah

Ilustrasi sampah (Pexel)

Kemasan yang dimaksud nantinya harus memenuhi standar dapat didaur ulang atau dikomposkan
Jakarta (ANTARA) - Kepala Seksi Bina Peritel, Direktorat Pengelolaan Sampah, Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Agus Supriyanto mengatakan menerapkan gaya hidup minim sampah bisa dimulai dari hal sederhana yakni memilah sampah.

"Kenali jenis sampah, pisahkan dan manfaatkan sampah organik dan non-organik. Sampah organik bisa dijadikan kompos, akan tetapi sampah non-organik seperti sachet minuman sekali pakai, baterai, dan sebagainya sangat sulit untuk di daur ulang," kata Agus dalam webinar "Creative Talk Pojok Literasi" bertajuk "Gaya Hidup Minim Sampah, Yuk Pilah Sampahmu!" yang ditayangkan di kanal YouTube YouTube Direktorat Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik (Ditjen IKP).

Dalam pernyataan pers, dikutip Sabtu, Agus menyebut tingkat ketidakpedulian masyarakat terhadap sampah cukup tinggi (0,72 poin), akan tetapi mulai ada indikasi positif terhadap perubahan perilaku masyarakat.

Baca juga: Perempuan pejuang gaya hidup nol sampah

Agus menambahkan 3R merupakan bagian utama dari Hirarki Pengelolaan Sampah karena memuat empat aktivitas penting yang menjadi dasar pengelolaan sampah yang berkelanjutan, yaitu pencegahan (prevention), pembatasaan (minimisation), penggunaan ulang (reuse), dan pendauran ulang (recycle).

"Persoalan sampah memang bukan persoalan yang sederhana di Indonesia. Meskipun sudah banyak masyarakat yang mindset-nya mengurangi penggunaan plastik, namun nyatanya jumlah timbulan sampah yang ada masih sangat besar, sekitar 67,8 juta ton pada tahun 2020," katanya.

Angka tersebut diprediksi masih akan terus bertambah seiring pertumbuhan jumlah penduduk dan perubahan gaya hidup dengan kesejahteraan masyarakat yang semakin meningkat.

Selain Agus, hadir sebagai narasumber dalam webinar adalah Direktur Informasi dan Komunikasi Perekonomian dan Maritim (IKPM) Kemenkominfo Septriana Tangkary.

Baca juga: Hidup minim sampah tapi tetap fashionable dengan menyewa baju

"Kondisi-kondisi seperti ini yang perlu kita kelola dengan baik, yang direfleksikan dalam langkah-langkah, komunikasi, informasi, dan penyadar-tahuan atau edukasi (KIE)", kata Septriana.

Septriana menjelaskan bahwa kebijakan Permen LHK Nomor P.75 Tahun 2019 mengenai Peta Jalan Pengurangan Sampah oleh Produsen pun diterbitkan sebagai salah satu upaya pengurangan sampah plastik.

"Permen tersebut mengatur kemasan produk yang dikeluarkan produsen. Kemasan yang dimaksud nantinya harus memenuhi standar dapat didaur ulang atau dikomposkan."

Baca juga: Siklus Refill jadi solusi kurangi sampah plastik rumah tangga

Chapter Leader Trash Hero Jakarta, I Gusti Krishna Aditama menjelaskan bahwa daur ulang sebenarnya bukan solusinya untuk permasalahan sampah, tetapi bagaimana kita berupaya sebaik mungkin untuk mengurangi sampah.

Terakhir, Koordinator Perekonomian I, Direktorat Informasi dan Komunikasi Perekonomian dan Maritim, Kemenkominfo, Eko Slamet R mengatakan kegiatan literasi dan edukasi "Pojok Literasi" seperti ini perlu di amplifikasi, sharing informasi dan konten positif kepada seluruh masyarakat.

"Kementerian kominfo selalu mengajak masyarakat untuk menyebarluaskan informasi yang baik dan bermanfaat agar bisa terbangun budaya yang baik pula," kata Eko.

Kegiatan Webinar Pojok Literasi ini diselenggarakan oleh Direktorat Informasi dan Komunikasi Perekonomian dan Maritim Kemenkominfo diikuti 20 orang peserta yang hadir secara offline dan 195 peserta daring.

Baca juga: "Pulau Plastik", sebuah alarm darurat sampah plastik

Baca juga: Langkah sederhana mencintai bumi dari rumah


Pewarta: Ida Nurcahyani
Editor: Suryanto
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Melalui 5G, Telkomsel dorong trasformasi digital pendidikan

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar