Artikel

Toriq Hadad pergi

Oleh Asro Kamal Rokan

Toriq Hadad pergi

Arsip foto. Direktur Utama PT Tempo Inti Media Tbk Toriq Hadad (tengah) bersama Ketua Dewan Pers Mohammad Nuh (kanan) dan Wakil Pemimpin Redaksi Kompas Tri Agung Kristanto (kiri), dalam diskusi "Bisnis Media Pada Revolusi Industri 4.0" di Gedung Dewan Pers, Jakarta, Selasa (23/7/2019). (ANTARA/Arindra Meodia)

Waktu cepat bergerak. Pagi tadi muncul kabar, Toriq telah tiada.
Jakarta (ANTARA) - Inna lillāhi wa inna ilaihi rājiun telah pulang sahabat baik, Thoriq Hadad, Sabtu (8/5) subuh tadi.

Kabar wafatnya Toriq Hadad (Direktur Utama Tempo Inti Media) cepat menyebar di grup-grup WA. Bahkan, juga di Malaysia. Sejumlah teman Malaysia menanyakan kebenaran info Thoriq wafat.

Pemimpin Redaksi Majalah Tempo (2006—2010) itu wafat di RS Pondok Indah pukul 005.15 karena sakit jantung. Toriq kelahiran Surabaya pada tahun 1960 pernah bypass jantung beberapa tahun lalu. Selamat jalan Toriq, sahabat baik....

Saya mengenal Toriq sejak pertengahan 1980-an. Kami bertemu dalam liputan sepak bola di Stadion Utama Senayan Jakarta. Toriq sebagai reporter Majalah Tempo saat itu, sedangkan saya repoter Harian Merdeka. Toriq mudah bergaul, ramah, murah senyum, dan tidak segan bertanya jika suatu masalah tidak diketahuinya.

Pada tahun 2006, Toriq memimpin redaksi Tempo, menggantikan Bambang Harimurti. Penempatan Toriq sebagai pemimpin redaksi itu menambah daftar reporter olahraga menjadi pemimpin redaksi dalam kurun waktu berdekatan, di antaranya Tommy Suryopratomo memimpin Kompas, dan setahun sebelumnya saya memimpin Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) Antara setelah Republika.

Awal 2007, sejumlah pemimpin redaksi media Indonesia, di antaranya Toriq, Arifin Asydhad (detikcom), Arys Hilman (Republika), dan saya berkesempatan wawancara dengan Perdana Menteri Abdullah Badhawi di Putrajaya, Malaysia.

Baca juga: Laba Tempo Inti Media melonjak 122,6 persen

PRU Malaysia

Setahun kemudian saat kampanye Pilihan Raya Umum (PRU) Malaysia, Maret 2008, Toriq, Arief Suditomo (RCTI), N. Syamsuddin Ch. Haesy, dan saya, selama lebih seminggu keliling Malaysia. Perjalanan jurnalistik yang menarik.

Kami menyaksikan ketegangan di kubu koalisi partai pemerintah Barisan Nasional (BN) yang di beberapa wilayah mulai tersaingi oposisi Partai Keadilan Rakyat (PKR) pimpinan Wan Azizah. Kami menemui Wakil PM Nadjib Razak di daerah pemilihannya di Pekan, Pahang. Malam itu, wajahnya tegang setelah menerima info dari PM Badawi bahwa Kualalumpur hampir pasti jatuh ke tangan oposisi.

Kami berpindah-pindah tempat, dari kota ke kota. Di Kedah, Menteri Penerangan Zainuddin Maidin--yang optimistis menang ketika berbincangan dengan kami sehari sebelumnya--kalah atas Johari Abdul, wakil PKR yang tidak begitu dikenal.

Secara umum Pilihan Raya Umum 2008 dimenangi Barisan Nasional (BN). Namun, beberapa kursi parlemen gagal mereka pertahankan, termasuk kursi Badawi, yang berlanjut dengan pergantian perdana menteri dari Badawi ke Najib Razak.

Dari Kedah, kami bergerak menuju Kuala Lumpur pada hari Sabtu (8/3). Di mobil yang dikendarai wartawan RTM Sabaruddin Ahmad, kami membahas nasib Barisan Nasional, yang hampir sama dialami Partai Golkar di awal reformasi. Jika Partai UMNO, penyongkong utama Barisan Nasional, tidak berubah, kami yakin pada pilihan raya umum berikutnya mereka kalah.

Baca juga: Aksi kekerasan meningkat jelang pemilu Malaysia

Masih tersisa 4 hari lagi kami di Malaysia. Di perjalanan dari Kedah menuju KL, tiba-tiba masuk telepon Pak Ahmad Rusdi ke handphone saya. Kepala Rumah Tangga Kepresidenan itu meminta saya kembali ke Jakarta, selambatnya besok pagi. Ini karena Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada hari Senin (10/3) berangkat ke Iran, Uni Emirat Arab, Senegal, dan Afrika Selatan.

Ini tidak biasa. Lazimnya, undangan kunjungan Presiden disampaikan 10 hari, selambatnya seminggu sebelumnya, sehingga memungkinkan berbagai persiapan. Apalagi ke Afrika, yang diharuskan suntik vaksin meningitis sepekan sebelumnya. Saya sampaikan kepada Pak Rusdi, jika bisa saya digantikan karena masih ada 4 hari liputan lagi di Malaysia. Pak Rusdi tetap minta saya pulang, ikut kunjungan Presiden SBY ke empat negara.

Minggu pagi, saya balik ke Jakarta, meninggalkan Toriq Hadad, Arief Suditomo, dan Syamsuddin Ch. Haesy. Perjalanan masih panjang.

Pada bulan April 2006, kami mengikuti kunjungan kenegaraan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ke Arab Saudi melaksanakan umrah, terus ke Qatar, Kuwait, Uni Emirat Arab, dan Yordania. Di Istana Raja Abdulllah ll di Amman, Toriq, Budiono Dharsono, dan saya diajak makan resmi di istana dan dipekenalkan Presiden SBY kepada Raja Abdullah ll.

Baca juga: Ketum PWI umumkan nama-nama pemenang Anugerah Adinegoro 2020 di TVRI

Pandemi

Sejak wabah Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) melanda tanah air, kami hampir tidak pernah bertemu tetapi tetap menjaga silaturahmi.

Ketika liputan Majalah Tempo berjudul "Jalan Pedang Dai Kampung" diumumkan sebagai pemenang Anugerah Adinegoro pada Hari Pers Nasional di Ancol, Jakarta, Februari 2021, saya ucapkan selamat kepada Toriq. Seperti biasa, kami pun bicara ngalor-ngidul soal politik dan lainnya.

Dua pekan lalu, kami hadir virtual zoom, acara Pak T.P. Rachmad. Saya melihatnya di layar namun kami tidak semat saling sapa. Dua hari lalu, Wahyu Muryadi, yang menggantikan Toriq sebagai Pemred Tempo, menyampaikan kabar Toriq dirawat di Rumah Sakit (RS) Pondok Indah.

Waktu cepat bergerak. Pagi tadi muncul kabar, Toriq telah tiada.
Ya Allah, mudahkan jalan sahabat baik ini ke jannatun naim. Aamiin yaa Robbal'Alaamiin. ..

*) Asro Kamal Rokan, wartawan senior

Oleh Asro Kamal Rokan
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar