INDEF: Ekosistem ultra mikro harus bisa turunkan bunga kredit

INDEF: Ekosistem ultra mikro harus bisa turunkan bunga kredit

Dokumentasi - Tangkapan layar - Wakil Direktur Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Eko Listiyanto saat memberikan paparan dalam diskusi daring bertajuk "Menakar 9 Tahun Peran Otoritas Jasa Keuangan dalam Menjaga Inklusi Jasa Keuangan Indonesia" di Jakarta, Kamis. ANTARA/Citro Atmoko.

Upaya untuk mendorong bunga jauh lebih rendah itu sangat penting dan ide pemerintah mendapat sambutan baik di kalangan UMKM karena “menjanjikan” dan kalau ada ekosistem ultra mikro bunga harusnya diturunkan
Jakarta (ANTARA) - Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) berharap ekosistem atau holding ultra mikro dapat mendorong pembiayaan yang lebih efisien dengan bunga kredit yang lebih rendah.

“Ketika ini mau dilakukan , catatan utamanya yang menjadi garansi bagi pelaku usaha adalah bisa mengakses kredit UMKM dengan bunga yang lebih rendah,” kata Wakil Direktur INDEF, Eko Listiyanto saat diskusi daring, Senin.

Eko mengatakan bunga kredit untuk UMKM Indonesia berkisar 10 persen dan jauh melampaui bunga kredit UMKM di China dan Korea Selatan yang hanya 5 persen dan 4 persen. Tingginya bunga kredit tersebut akan berdampak pada daya saing karena overhead cost-nya akan jauh lebih mahal.

“Upaya untuk mendorong bunga jauh lebih rendah itu sangat penting dan ide pemerintah mendapat sambutan baik di kalangan UMKM karena “menjanjikan” dan kalau ada ekosistem ultra mikro bunga harusnya diturunkan,” ungkap Eko.

Selain itu, Eko juga menyoroti dukungan kredit untuk Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di Indonesia masih sangat rendah dan cenderung sama dari tahun ke tahun yakni sebesar 19 persen, jauh tertinggal dibandingkan Korea Selatan, China, dan Thailand yang dukungan kreditnya masing-masing mencapai 81 persen, 65 persen, dan 50 persen.

“Total kredit di banknya itu lebih banyak mengalir ke UMKM, kalau di kita 80 persen malahan yang mengalir ke usaha besar, UMKM hanya kecipratan 20 persen,” ujar Eko.

Padahal, lanjut Eko, NPL (Non-Performing Loan) UMK Indonesia hanya 5 persen yang berarti relatif masih rendah jika dibandingkan negara-negara lain. Karenanya perlu dorongan agar perbankan mau menyalurkan kreditnya ke UMKM khusus pelaku usaha ultra mikro.

“Indonesia bukan yang mereka tidak bisa, mungkin karena belum tertarik atau perlu dorongan untuk bisa tertarik. Tetapi bukan karena kredit macet UMKM tinggi,” ungkap dia.

Melalui ekosistem ultra mikro, Eko juga berharap usaha ultra mikro, mikro , kecil, dan menengah dapat berkembang dan naik kelas. Pemulihan UMKM juga akan menjadi penentu pemulihan ekonomi nasional, sehingga upaya mengakselerasi dukungan pembiayaan sektor UMKM sangat diperlukan.

Adapun pemerintah menyinergikan tiga BUMN yakni PT BRI (Persero), PT PNM (Persero) dan PT Pegadaian (Persero) untuk mendukung bisnis UMKM yang dinamai Holding BUMN Ultra Mikro dan diharapkan mampu meningkatkan rasio penyaluran kredit ke UMKM yang jumlahnya mencapai 98 persen dari total pelaku usaha.

Pembentukan holding ultra mikro akan memberikan sejumlah manfaat, diantaranya memperluas jangkauan dalam meningkatkan layanan dan memberdayakan masyarakat di bidang ultra mikro secara berkelanjutan.

Baca juga: Ekonom : Pemerintah harus perbanyak kebijakan "demand side"
Baca juga: Indef: Lonjakan harga gila-gilaan buat investor lirik mata uang kripto
Baca juga: Indef proyeksikan inflasi April 2021 sebesar 0,16 persen

 

Pewarta: Kuntum Khaira Riswan
Editor: Biqwanto Situmorang
COPYRIGHT © ANTARA 2021

INDEF: potong gaji kepala daerah yang lambat realisasikan APBD

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar