Artikel

Memulai laksanakan makna hakiki Ramadhan

Oleh Triono Subagyo

Memulai laksanakan makna hakiki Ramadhan

Sejumlah umat Shalat Idul Fitri 1442 Hijriah di Masjid Al Mardiyah Labuhanratu, Kota Bandarlampung, menanti dimulainya waktu shalat, Kamis (13/5/2021). ANTARA/Triono Subagyo.

Pelarangan mudik tahun ini pun menimbulkan kondisi "kecewa", namun di sisi lain mereka juga berusaha memahami aturan yang dibuat oleh pemerintah
Bandarlampung (ANTARA) - Ramadhan telah berlalu ditandai dengan masuknya bulan Syawal yang dirayakan dengan Idul Fitri atau masyarakat kita menyebut Lebaran.

Selama Ramadhan, umat Muslim yang beriman diwajibkan untuk berpuasa --seperti perintah di QS Al Baqarah: 183 yang artinya: "Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”.

Allah SWT, Tuhan Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang, memberikan kebebasan bagi makhluknya apakah mau menjalankan puasa atau tidak, sebab nilai ibadah dari puasa adalah langsung kepada-Nya.

Ibadah puasa ini, dalam pelaksanaannya hanya Allah dan pelaku yang mengetahuinya. Berbeda dengan ibadah lainnya, yang pihak atau orang lain bisa melihat atau mengetahuinya.

Di dalam bulan Ramadhan, umat Muslim yang beriman melakukan kebaikan-kebaikan seperti berbagi ke tetangga, mengirim takjil untuk berbuka di masjid atau mushalla, hingga ke pemulung yang ditemui di pinggir jalan dan ke berbagai panti asuhan.

Maka tak heran, selama Ramadhan, hampir semua panti asuhan yang mengurus anak yatim Muslim mendapat sedekah dari berbagai pihak, baik perorangan maupun kelompok, termasuk organisasi kemahasiswaan.

Sedangkan sebagai individu, Muslim yang beriman banyak melaksanakan kegiatan yang meningkatkan mutu ibadah dengan tujuan mendapatkan rida Allah SWT, seperti banyak menjalankan ibadah shalat sunah, membaca Al Quran dan meningkatkan wawasan melalui pengajian, baik secara langsung maupun melalui media televisi --yang banyak ditayangkan.

Selama Ramadhan pula, meski dibatasi dengan protokol kesehatan karena negeri ini masih dilanda pandemi, tetap meningkatkan dan menjaga mutu silaturahim dengan tetangga, dengan saling menyapa dan beriringan menuju masjid atau mushalla, terutama saat akan menjalankan Shalat Isya dan Tarawih berjamaah, serta yang paling "ramai" bersua tetangga ketika menuju tanah lapang atau masjid untuk menjalankan Shalat Id.

Kini Ramadhan telah berlalu dan bagi Muslim yang bertakwa ada kesedihan dengan berlalunya bulan penuh hikmah itu.

Baca juga: Khatib Shalat Id di Aceh ajak masyarakat lawan pandemi COVID-19

Di sisi lain, dengan berlalunya Ramadhan dan memasuki 1 Syawal, umat Muslim merayakan Idul Fitri dan menyambut gembira sebagai hari kemenangan. Ya, di antaranya kemenangan dalam menahan hawa nafsu. Sebab, selama Ramadhan beragam kegiatan yang bisa dilakukan manusia (Muslim) di siang hari di bulan lain dilarang seperti makan, minum, hingga berhubungan suami-istri.

Di Idul Fitri atau Lebaran, umat Muslim baik yang menjalankan puasa maupun tidak tetap merayakannya, dengan menyapa mengucapkan Selamat Idul Fitri secara langsung maupun melalui media sosial dan memohon maaf atas segala khilaf selama ini..

Kemudian, mengunjungi sanak keluarga yang lokasinya tidak berada di lain kota karena adanya penyekatan pemudik dengan tujuan untuk meminta maaf dan saling mendoakan dengan suasana gembira.

Maka, hampir di sepanjang jalan terlihat lalu lalang kendaraan baik roda empat maupun roda dua yang pengendara dan yang diboncengnya mengenakan baju baru, mengenakan kopiah bagi yang pria dan kerudung bagi perempuan. Bagi anak-anak, yang dikenakan pun semua serba baru pula.

Meski wajah mereka tertutup masker namun suasana ceria tetap terlihat manakala saat bersua dengan orang yang dikenal akan berhenti dan saling bermaafan.

Terkait dengan berlalunya Ramadhan, khatib pada Shalat Id di Masjid Al Mardiyah Kelurahan Labuhanratu Raya, Kecamatan Labuhanratu, Kota Bandarlampung, Ismet Zarkasih, mengajak umat Muslim untuk melanjutkan dan meningkatkan makna hakiki yang ada di bulan Ramadhan.

Makna hakiki tersebut, menurut dia,  segala kebaikan untuk terus dilanjutkan dan bila perlu ditingkatkan mutunya, seperti suka berbagi, rajin beribadah, dan mudah memaafkan kepada sesama dengan silaturahim.

Sifat suka berbagi jika diteruskan akan memberi efek kebaikan yang berkelanjutan, di mana bagi yang memberi akan merasa lega bisa membantu sesama, sedangkan bagi yang menerima akan terbantu kebutuhannya sekaligus mendoakan agar pemberi dilipatgandakan rezekinya.

Sedangkan meningkatkan mutu silaturahim juga akan memberikan efek bahagia, baik bagi yang mengunjungi maupun dikunjungi. Namun, di tengah pandemi ini, silaturahim tidak harus bertemu muka secara langsung.

Karena itu, khatib pun mengajak umat Muslim untuk menjaga dan meningkatkan mutu silaturahim dengan memanfaatkan teknologi.

Baca juga: Nadiem belajar kebersamaan dengan Lebaran di rumah

Kemajuan teknologi yang begitu pesat dapat mempermudah semua orang untuk bertatap muka walau tak langsung yakni menggunakan "video call".

Silaturahim bertemu langsung yang oleh mayoritas warga tidak bisa akibat larangan mudik akan memberikan berbagai dampak.

Namun, psikolog dari Universitas Lampung Dian Utaminingsih, S.PSi, MA., mengatakan dukungan keluarga menjadi kunci utama membuat situasi lebih baik akibat larangan tersebut.

Dukungan faktor lingkungan --yang di dalamnya pun terdapat keluarga-- merupakan salah satu hal yang bisa membuat situasi menjadi lebih baik sehingga masyarakat bisa memaknai Idul Fitri secara utuh walaupun kehilangan momentum mudik.

Dia menjelaskan pelarangan mudik yang diterapkan sebagai upaya pencegahan penyebaran virus corona jenis baru itu memberikan berbagai dampak psikologis di kalangan masyarakat.

Pelarangan mudik tahun ini pun menimbulkan kondisi "kecewa", namun di sisi lain mereka juga berusaha memahami aturan yang dibuat oleh pemerintah.

Dengan kondisi ini antara "real condition" yang dihadapi dan "ideal condition" yang diinginkan membuat masyarakat mau tidak mau melakukan "bargaining position" terhadap keadaan.

Diah menjelaskan seiring dengan kemajuan teknologi maka banyak cara yang bisa dilakukan sebagai ajang silaturahim. Misalnya dengan menggunakan "video call", tidak hanya telepon. Atau jika memungkinkan bisa melakukan Zoom bersama-sama dengan anggota keluarga besar.

Sekarang, tinggal bagaimana selaku Muslim yang bertakwa, apakah akan terus melanjutkan dan menerapkan makna hakiki yang dijalani selama Ramadhan? Atau hanya akan berhenti setelah Lebaran?

Selamat Idul Fitri 1 Syawal 1442 Hijriah, mohon maaf lahir dan batin!

Baca juga: Secara daring, Presiden bersilaturahmi dengan Wapres
Baca juga: Menkes: Jaga orang yang dicintai dari penularan COVID-19
Baca juga: Bamsoet: Idul Fitri momentum perkuat solidaritas-soliditas kebangsaan

Oleh Triono Subagyo
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Ridwan Kamil sebut peningkatan kasus COVID-19 di Jabar masih terkendali

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar