Pantau mutasi COVID-19, Pemerintah Aceh kirimkan sampel ke Jakarta

Pantau mutasi COVID-19, Pemerintah Aceh kirimkan sampel ke Jakarta

Kepala Dinas Kesehatan Aceh, dr Hanif bersama Sekda Aceh, Taqwallah saat rapat membahas perkembangan COVID-19 di Banda Aceh. (FOTO ANTARA/M Ifdhal/2021)

Pengiriman sampel ini bertujuan pemantauan strain mutasi COVID-19, yang selama ini disinyalir mulai muncul dengan tingkat penularan dan daya tahan yang lebih tinggi
Banda Aceh (ANTARA) - Pemerintah Aceh menyatakan telah mengirim sebanyak 20 sampel ke Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) Kementerian Kesehatan dalam upaya memantau mutasi COVID-19 di provinsi setempat.

“Pengiriman sampel ini bertujuan pemantauan strain mutasi COVID-19, yang selama ini disinyalir mulai muncul dengan tingkat penularan dan daya tahan yang lebih tinggi,” kata Kepala Dinas Kesehatan Aceh dr Hanif di Banda Aceh, Sabtu.

Ia menjelaskan di beberapa negara seperti India dan Inggris serta beberapa negara lain, telah ditemukan mutasi dari virus COVID-19 dan untuk mengantisipasi hal tersebut pihaknya telah menyampaikan ke Gubernur untuk mengirim sampel ke Balitbangkes Kemenkes di Jakarta.

“Balitbangkes mengirim surat dan menginstruksikan kita untuk mengirimkan sampel spesimen swab nasofaring dan sebanyak 20 sampel sudah kita kirimkan,” katanya.

Menurut dia surat Balitbangkes Kemenkes menyebutkan dalam rangka pemantauan strain mutasi virus SARS CoV-2, maka perlu dilakukan Surveilans Genom Virus SARS CoV-2 secara intensif dan seluruh wilayah Indonesia.

“Ada pun sampel spesimen yang kita kirim itu berasal dari kasus dengan kriteria penularan yang cepat di masyarakat/lokasi tertentu, mulai menginfeksi kelompok yang sebelumnya tidak rentan (anak-anak), orang sudah divaksin tapi terinfeksi, penyintas terinfeksi kembali, kematian dengan komorbid penyakit menular lain seperti HIV, TB, dan lainnya,” katanya.

Hanif menambahkan, kriteria spesimen yang dikirimkan adalah Tube VTM berisi swab nasofaring, memiliki ct (cycle threshold) di bawah 25, spesimen dikirimkan disertai formulir penyelidikan epidemiologi, pengiriman spesimen dilakukan segera setelah hasil pemeriksaan RT PCR diperoleh.

“Jadi, spesimen yang kita kirimkan adalah spesimen yang baru kita ambil,” demikian Hanif.

Baca juga: Ada mutasi virus Inggris, IDI ingatkan warga Aceh tak renggang prokes

Baca juga: Polda: Mulai 18 Mei, masuk Aceh wajib bawa surat tes antigen

Baca juga: Bertambah 26 orang, kasus COVID di Aceh mencapai 12.152


Baca juga: Dua warga Aceh Barat positif COVID-19 saat Idul Fitri

Pewarta: M Ifdhal
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Inovasi permanen atasi kebakaran di lahan gambut

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar