Artikel

Menjaga Jawa tetap landai penyebaran COVID-19 pascalebaran

Oleh Budhi Santoso

Menjaga Jawa tetap landai penyebaran COVID-19 pascalebaran

Foto aerial sejumlah truk memasuki kapal fery untuk menyeberang ke Pulau Sumatera saat hari pertama larangan mudik lebaran 2021 di Pelabuhan Merak, Banten, Kamis (6/5/2021). ANTARA FOTO/Galih Pradipta/foc.

Jakarta (ANTARA) - Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy menilai pelaksanaan kebijakan peniadaan mudik Lebaran 2021 secara umum telah berjalan cukup bagus, salah satu indikasinya adanya penurunan angka pemudik khususnya dari wilayah Jabodetabek.

Ia juga mengakui, kebijakan peniadaan mudik ini tidak berhasil 100 persen karena masih ada yang lolos untuk mudik tanpa persyaratan yang sudah ditentukan, tapi hal itu bukan berarti gagal sama sekali.

Data dari survei Kementerian Perhubungan mendapat gambaran jika kebijakan mudik diberlakukan maka 33 persen orang akan pergi mudik, dan setelah ada pengumuman larangan mudik tercatat yang berminat mudik turun menjadi 11 persen. Begitu kebijakan larangan mudik ditetapkan masih ada 7 persen (18 juta warga) yang tetap berkeinginan mudik. Namun melalui kebijakan penyekatan di sejumlah jalur mudik yang lolos mudik dari Jabodetabek sekitar 1,5 juta.

Angka yang lolos ini diluardugaan karena perkiraan sebelumya sekitar 3 sampai 4 juta orang akan bisa lolos mudik tahun ini sehingga sejumlah epidemiolog mengingatkan angka sebesar itu akan berisiko meningkatkan kasus penyebaran virus corona di daerah tujuan mudik.

Baca juga: Ampuhkah Bakauheni jadi gerbang pemutus pandemi?

Jabodetabek menjadi sorotan karena kasus COVID secara prosentase jumlah kasus di DKI Jakarta paling tinggi dimana per 16 Mei 2021 mencapai 419.047 (24, 1 persen) jika ditambah Kota Bogor dan Kabupaten Bogor, Kota Depok, Kota Tangerang, Kota Tangerang Selatan, Kabupaten Tangerang, Kota Bekasi, dan Kabupaten Bekasi, maka angkanya bisa mencapai 30 persen dari kasus secara nasional.

Potensi sebaran virus corona dari mobilitas di wilayah aglomerasi Jabodetabek itu menjadi ancaman daerah lain saat arus mudik, dan sekarang sebaliknya mereka yang sudah mudik juga akan kembali ke wilayah itu dan menjadi ancaman jika mereka yang kembali tidak dilakukan skrining ketat melalui uji cepat antigen.


Belum Dipastikan

Lonjakan pasti pergerakan kasus harian COVID belum bisa disimpulkan dalam beberapa hari ini karena harus menunggu dua minggu ke depan, apakah benar-benar sudah dikendalikan atau memang masih menyimpan bom waktu.

Dari jumlah angka spesimen yang diperiksa sesuai laporan Satgas COVID-19 dalam beberapa hari terakhir ini juga menunjukkan penurunan dan angkanya tidak sebanyak satu bulan sebelumnya sehingga masih belum menggambarkan adanya upaya testing yang meningkat di sejumlah daerah.

Angka spesimen secara nasional pada 13 sampai 16 Mei 2021 masing-masing tercatat 31,550; 18.540 ; 29.587; 37.473, artinya rata-rata hanya 29.287 spesimen per hari, sementara saat larangan mudik angka spesimen masih cukup tinggi seperti pada tanggal 10 sampai 12 Mei 2021 tercatat masing-masing 49.483; 75,416; 62.258 atau rata-rata 62.2385 spesimen.

Ini artinya ada penurunan spesimen yang diperiksa sampai 50 persen lebih saat libur lebaran, padahal sudah selayaknya testing lebih dilipatgandakan untuk memberikan peta sebaran di daerah tujuan mudik.

Pelandaian kasus harian COVID-19 di Indonesia yang antara lain karena angka testing yang masih rendah belum menggambarkan peta sebenarnya dan ini bisa mengindikasikan tidak ada upaya daerah untuk meningkatkan testing covid selama libur lebaran, misalnya testing acak di sejumlah titik masuk dan tempat wisata.

Sejumlah epidemiolog menyuarakan pentingnya peningkatan testing yang dilanjutkan dengan tracing dan treatment saat peningkatan mobilitas penduduk karena penyebaran virus ini berbanding lurus dengan angka mobilitas warga.

Mobilitas warga tidak hanya tergambar dari pelaku perjalanan mudik tetapi juga kenaikan mobilitas akibat kegiatan silaturahim dan berlibur ke objek wisata yang angka mobilitasnya dua kegiatan itu bisa lebih tinggi lagi.

Tempat wisata menjadi ancaman baru bagi penyebaran COVID-19 pada libur lebaran kali ini walaupun di sejumlah daerah banyak lokasi wisata yang ditutup tetapi di lokasi lain di sejumlah daerah mengalami lonjakan yang luar biasa. Sayangnya warga juga masih mengabaikan protokol kesehatan seperti jaga jarak dan menggunakan masker.

Baca juga: 225.269 wisatawan kunjungi Gunung Kidul saat libur Lebaran

Pengawasan masyarakat yang ikut memviralkan kepadatan pengunjung di lokasi wisata patut diapresiasi karena akhirnya sejumlah lokasi wisata itu ditutup paksa Satgas COVID-19 setempat.

Selain itu, mobilitas silaturahim dan liburan di wilayah Jabodetabek selama Hari Raya Idul Fitri 1442 Hijriah dan tiga hari sesudahnya juga melonjak cukup tinggi. Dua hari pertama Lebaran di sejumlah ruas jalan pinggiran Jakarta terjadi kemacetan yang luar biasa termasuk akses keluar tol.

Nafsu mudik yang dibatasi akhirnya disalurkan dengan silaturahim jarak dekat dan liburan di lokasi wisata terdekat.

Kawasan Puncak di Kabupaten Bogor dan Kabupaten Cianjur masih menjadi tujuan utama warga Jabodetabek untuk berlibur, namun penyekatan yang ketat membuat kawasan menuju puncak mengalami kepadatan lalu lintas yang luar biasa, apalagi petugas juga menjaga jalur alternatif menuju puncak.

Kawasan lain yang menjadi tujuan liburan adalah kawasan wisata pantai mulai dari Anyer sampai pantai Carita di Banten. Sejumlah foto kerumunan di lokasi yang sempat viral membuat Gubernur Banten kemudian menutup kawasan wisata itu mulai Sabtu (15/5) malam sampai 30 Mei 2021.



Covid Sumatra Naik


Pemerintah menilai penyebaran COVID-19 di Sumatra menunjukkan adanya kenaikan menjelang Lebaran, salah satu faktor pelonjak adalah adanya pemudik dini ke sejumlah tujuan mudik di Sumatera yang menghindari waktu larangan mudik yang diberlakukan mulai 6 Mei 2021.

Pemudik dini inilah yang diduga menularkan virus corona yang membuat sejumlah provinsi di Sumatera mengalami lonjakan angka harian covid. Akibatnya keterisian ruangan khusus COVID-19 juga semakin meningkat.

Saat Ramadhan, Kepala BNPB Doni Monardo sampai berkeliling ke sejumlah daerah di Sumatra untuk mengendalikan penyebaran COVID-19 sekaligus meminta pemerintah daerah agar tidak terdadak dalam menyiapkan sarana dan prasana untuk menangani pasien termasuk ruang isolasi di sejumlah rumah sakit.

Doni mengingatkan keterisian di rumah sakit di sejumlah provinsi di Pulau Jawa juga sempat kritis akibat lonjakan penyebaran COVID-19 pada awal tahun 2021. Ia tak ingin kejadian serupa terulang di Sumatera apalagi saat kunjungan itu arus mudik belum melonjak.

Baca juga: Cerita pemudik pengguna kereta api berwisata di Jakarta

Prakiraan Doni juga tepat karena beberapa daerah juga mengalami lonjakan keterisian seperti di Kepri yang per 16 Mei 2021, Dinas Kesehatan Provinsi Kepri mengungkap tempat tidur isolasi dan tempat tidur ICU COVID-19 di empat rumah sakit di daerah itu sudah penuh. Keempat rumah sakit dimaksud yakni RS Graha Hermina, RS Sudarsono Dharmosuwito, RS Keluarga Husada Batam, dan RSKI Galang.

Sementara saat ini grafik penyebaran COVID-19 di Pulau Jawa cenderung landai sehingga Pemerintah tidak ingin pelandaian ini terganggu oleh arus balik pemudik dari Sumatera yang saat ini mempunyai banyak zona merah dan oranye.

Saat ini banyak daerah berstatus kuning dan hijau di Jawa, sementara banyak daerah di Sumatera berstatus oranye dan merah. Jadi menurut Doni jangan sampai terjadi “ping pong” antara Jawa dan Sumatra dalam hal penyebaran virus corona ini.

Kementerian Perhubungan mencatat jumlah pemudik ke Sumatera melalui Pelabuhan Merak pada musim mudik 2021 mencapai 440.000 orang dan jumlah yang sama diperkirakan akan kembali ke Pulau Jawa sehingga harus ada antisipasi jangan sampai mereka yang kembali juga membawa virus di tubuhnya.

Pemerintah menyiapkan skenario untuk mewajibkan tes cepat antigen di dua pintu masuk ke Pulau Jawa yaitu di Pelabuhan Bakaheuni. Lampung dan Pelabuhan Gilimanuk, Bali sementara di sejumlah titik masuk lainnya dilakukan tes cepat antigen secara acak termasuk di ibu kota provinsi di Jawa.

Untuk pemudik asal Jawa yang bergerak melalui Jalur Pantura akan dipusatkan tes cepat antigen di Balonggandu, Karawang, Jawa Barat atau sekitar 17 kilometer arah timur, Simpang Jomin. Di sejumah rest area jalan tol juga akan dilakukan tes cepat secara acak.

Baca juga: Ratusan kendaraan wisatawan tujuan pantai selatan dipulangkan petugas

Kementerian Perhubungan meminta setiap daerah melakukan penyekatan bagi arus balik untuk mengecek apakah pemudik sudah dilengkapi dengan surat negatif COVID-19 baik melalui tes cepat atau GeNose. Ini akan meringankan pemeriksaan di pos penyekatan di Bakauheni dan Gilimanuk serta posko menjelang masuk Jabodetabek.

Gencarnya pemeriksaan pemudik yang kembali itu bukan untuk mempersulit tetapi sebagai upaya pengendalian pandemik agar pemudik tidak kembali dengan membawa virus yang akhirnya bisa memunculkan kluster baru.

Pemudik yang merasa mempunyai gejala COVID-19 juga lebih baik segera memeriksakan diri sebelum memaksakan kembali karena bisa membahayakan keselamatannya dan potensi penularan ke orang lain.

Pemerintah juga meminta bantuan semua lapisan masyarakat untuk saling mengingatkan protokol kesehatan di rumah, di lingkungan warga dan tempat umum sehingga lonjakan kasus corona tidak terjadi seperti kasus usai Lebaran tahun lalu.

Semua berharap grafik landai kasus harian COVID-19 khususnya di Pulau Jawa bisa terjaga sampai Agutus 2021 dan menjadi kado Hari Kemerdekaan RI yang ke-76.

Oleh Budhi Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Positif COVID-19, 48 santri di Pekalongan dievakuasi

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar