BPPT: Produk inovasi DDR miliki peluang pasar komersial di Indonesia

BPPT: Produk inovasi DDR miliki peluang pasar komersial di Indonesia

Ilustrasi - Petugas medis mendata warga saat pemeriksaan rontgen sebagai prosedur Skrining Tuberkolusis di Gedung PKL, Kabupaten Garut, Jawa Barat, Selasa (10/11/2020). ANTARA FOTO/Candra Yanuarsyah/agr/aww.

Jakarta (ANTARA) - Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) mengatakan produk inovasi Direct Digital Radiography (DDR) untuk rontgen digital yang dikembangkan dalam negeri memiliki peluang pasar yang komersial di Indonesia.

"Direct Digital Radiography ini bisa menggantikan atau mengatasi kebutuhan rontgen dengan citra digital dan bisa ditempatkan di berbagai lokasi bahkan ke lokasi yang relatif terpencil dari kota besar," kata Direktur Pusat Pengkajian Industri Manufaktur, Telematika dan Elektronika Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Andhika Prastawa di Webinar "Ekosistem Inovasi Teknologi Penanganan COVID-19: Peta dan Upaya Penguatannya", Jakarta, Rabu.

Andhika menuturkan dari data Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten), terdapat 8.000 alat rontgen (X-ray). Sementara, 6.000 di antara alat rontgen tersebut berpotensi untuk digantikan dengan DDR.

Dengan demikian, ada sekitar 6.000 unit alat rontgen konvensional yang berpotensi digantikan dengan DDR, dan itu bisa cukup untuk satu skala produksi industri yang bisa berkembang menjadi industri yang komersial.

Baca juga: Mahasiswa Radiologi Unbrah ciptakan alat Fiksasi Rontgen

Baca juga: Warga Rusia impor narkoba dituntut 7,5 tahun


Andhika menuturkan DDR yang dikembangkan di Tanah Air diharapkan bisa dibeli dengan nilai yang relatif lebih terjangkau. Dibanding produk DDR dari China, harga yang dibanderol sekitar Rp1,8 miliar, sementara dari Jerman sekitar Rp5,7 miliar, dan produk dalam negeri yang sedang dalam pengembangan mungkin bisa kurang dari Rp1 miliar.

"Tentu ini sangat membantu berbagai rumah sakit untuk memiliki peralatan Direct Digital Radiography yang bisa diagnosa berbagai penyakit dalam khususnya penyakit yang berkaitan dengan pernapasan," ujarnya.

Di lain sisi, BPPT melihat kebutuhan tes antigen atau rapid diagnostic test (RDT) antigen untuk deteksi COVID-19 dalam negeri sudah mulai bisa diatasi dari produksi lokal sehingga mengurangi ketergantungan impor.

Andhika menuturkan kemampuan pasokan dalam negeri juga sudah melebihi dari perkiraan kebutuhan RDT antigen per bulan.

Kebutuhan tes antigen hanya 4,3 juta kit sedangkan ketersediaannya hingga 6,4 juta kit per bulan yang diproduksi oleh sejumlah produsen lokal di Tanah Air.

"Untuk produk-produk antigen saya kira tinggal bagaimana mempertahankan pasar dan juga kualitas dan kuantitas produksi dari masing-masing produsen dari antigen tersebut," ujarnya.*

 

Pewarta: Martha Herlinawati Simanjuntak
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar