Jakarta (ANTARA) - Dokter spesialis paru, Erlina Burhan, mengemukakan persiapan vaksinasi COVID-19 berupa general check up bagi peserta dengan komorbid atau penyakit bawaan adalah pilihan yang berlebihan.

"Yang namanya general check up kan keseluruhan, ya, menurut saya berlebihan. Misalnya seseorang punya sakit jantung, lalu ragu divaksinasi. maka lebih baik konsultasi kepada dokternya demi mendapatkan informasi apakah kondisi jantungnya bermasalah atau enggak," katanya dalam agenda webinar "Diskusi Media Virtual", Jumat.

Dokter paru dari Divisi Infeksi Departemen Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia itu mengatakan Kementerian Kesehatan memiliki rambu bagi peserta vaksinasi dengan penyakit bawaan menurut faktor usia.

"Dan kalau ada komorbid, apakah komorbid ini terkontrol atau tidak, stabil atau tidak, biasanya pasiennya tahu," katanya.

Baca juga: PDPI: ICU di rumah sakit vertikal dan BUMN penuh

Baca juga: Dokter paru sebut rumah sakit butuh tambahan oksigen dan IGD


Erlina mengatakan general check up sebelum vaksin membutuhkan dana besar yang bisa membebani keuangan peserta bahkan negara bila hal itu dilakukan sebagai prosedur awal vaksinasi.

"Kalau kita sebagai individu merasa ada yang perlu dipertimbangkan penyakit yang dialami, sebaiknya diperiksakan hal itu," katanya.

Terkait dengan laporan kejadian pembekuan darah terkait vaksin AstraZeneca, kata Erlina, kejadian itu hanya dialami berkisar empat dari 1 juta orang di dunia. "Jadi rendah sekali, tetapi kita tetap hati-hati bilamana seseorang merasa punya pengentalan darah," katanya.

Erlina mengatakan sikap pemerintah menghentikan sementara peredaran vaksin untuk keperluan analisa keamanan bagi pengguna, merupakan prosedural dari prinsip kehati-hatian.

"Itu hanya prosedural dan dilakukan untuk semua hal, bukan hanya vaksin tapi juga obat. Jadi, negaranya sendiri, UK produsennya, begitu ada Kejadian Ikutan Pasca-Imunisasi (KIPI) yang berat, mereka segera vaksinasi dihentikan sampai dibuktikan oleh para ilmuwan, para ahli apakah kasus berhubungan dengan vaksin atau tidak," katanya.*

Baca juga: Pakar: Lepas masker di AS karena kepesertaan vaksinasi tinggi

Baca juga: IDI minta media publikasikan hubungan rokok dan COVID-19

Pewarta: Andi Firdaus
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
Copyright © ANTARA 2021