Yogyakarta (ANTARA News) - Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) meminta kepada masyarakat untuk tidak terprovokasi atas rumor yang beredar tentang pembakaran Al Quran pada peringatan runtuhnya gedung WTC di New York, Amerika Serikat (AS), 11 September 2010.

Menanggapi rumor pembakaran Al Quran secara internasional pada 11 September 2010, Sekretaris Majelis Ulama Indonesia (MUI) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Ahmad Muhsin Kamaludiningrat di Yogyakarta, Jumat, mengatakan bahwa jika kejadian itu benar memang seharusnya umat Islam menentangnya, sebab tindakan pembakaran kitab suci merupakan bentuk pelecehan dan penodaan bagi umat beragama.

"Jika benar rumor tersebut, maka Indonesia sebagai bangsa dengan umat muslim terbesar di dunia, jelas akan menentangnya, kerena itu merendahkan Islam. Al Quran dan Nabi Muhammad SAW itu merupakan simbol umat Islam," katanya.

Ia mengatakan, jika memang pada tanggal tersebut akan dilangsungkan acara refleksi mengenang runtuhnya gedung WTC di New York sembilan tahun lalu, maka tidak perlu dilakukan dengan cara membakar Al Quran. Jika hal itu yang terjadi, maka akan terjadi perpecahan besar-besaran di tingkat dunia internasional.

"Kalau mau meperingatinya silakan, tapi jangan sampai membakar Al Quran. MUI pun mengutuk keras tindakan terorisme di WTC, namun jangan sama artikan terorisme tersebut dengan Islam," katanya.

Namun demikian, Ahmad tetap menghimbau kepada umat muslim untuk tidak terpancing dengan rumor pembakaran Al Quran tersebut. MUI juga tidak berharap hal itu akan terjadi baik di tingkat internasional atau bahkan di Indonesia.

"Umat muslim di DIY ataupun di tanah air jangan terpancing emosi dengan kabar rumor tersebut. Itu baru sebatas rumor, bisa benar bisa juga salah. Namun, umat Islam tetap harus waspada dengan tindakan-tindakan yang merendahkan Islam," katanya.
(ANT/P003)

Editor: Priyambodo RH
Copyright © ANTARA 2010