Bank-bank besar bersiap untuk mengantisipasi pemulihan pascapandemi
New York (ANTARA) - Bank-bank besar AS bersiap untuk saldo kartu kredit mulai berdetak naik lagi tahun ini ketika pembatasan pandemi berkurang dan cek stimulus atau bantuan langsung tunai berhenti berdatangan, menyiapkan industri untuk lonjakan di salah satu bisnisnya yang paling menguntungkan.

Pemberi pinjaman, termasuk Capital One, Citigroup dan JPMorgan, telah mengirimkan lebih banyak promosi untuk mendaftarkan pelanggan baru dan mendorong peminjam untuk berbelanja, kata Andrew Davidson dari pelacak pemasaran Mintel Comperemedia. Sekitar 260 juta penawaran dikirim pada Maret, perusahaan memperkirakan.

Bank-bank juga telah meningkatkan pemasaran digital di Facebook, Instagram, situs video, dan Podcast, katanya.

"Bank-bank besar bersiap untuk mengantisipasi pemulihan pascapandemi," kata Davidson. "Mereka benar-benar berusaha memperbaiki kemunduran dari tahun lalu."

Pada saat yang sama, dikutip dari Reuters, pemberi pinjaman telah melonggarkan standar kredit, menurut survei Federal Reserve baru-baru ini dan komentar publik oleh eksekutif bank, termasuk dari Bank of America Corp.

Perubahan sikap adalah perbedaan mencolok dari tahun lalu ketika pemberi pinjaman menghentikan sebagian besar penawaran kartu dan menarik kembali batas kredit, khawatir bahwa pengangguran yang meroket akan menyebabkan kerugian pinjaman yang besar.

Kerugian tidak terjadi. Sebaliknya, pemerintah AS mengirimkan cek-cek stimulus, menawarkan peningkatan tunjangan pengangguran dan menopang pemilik usaha kecil dengan pinjaman lunak. Itu memungkinkan banyak orang Amerika yang bergantung pada kartu kredit untuk berbelanja sambil juga membayar saldo.

Yang lain bersandar pada harga perumahan yang lebih tinggi untuk meminjam dengan lebih murah dengan jaminan rumah mereka daripada menggunakan uang plastik. Semuanya itu membuat bisnis kartu kredit dalam kesulitan - masih menguntungkan, tetapi menghasilkan lebih sedikit pendapatan.

Saldo kartu merosot 14 persen selama pandemi, menurut data https://www.newyorkfed.org/microeconomics/hhdc dari Federal Reserve Bank di New York. Porsi rekening dengan saldo bergulir turun menjadi 39,7 persen pada akhir 2020 dari 44,1 persen pada tahun sebelumnya, menurut American Bankers Association.

Laporan keuangan kuartalan dari pemberi pinjaman kartu utama, termasuk JPMorgan Chase, Citigroup dan Capital One, menunjukkan tren tersebut. Tetapi, karena lockdown pandemi mulai mereda - kembalinya makan di dalam ruangan, pembatasan perjalanan dicabut, pengumuman konser, pembukaan kembali kantor dan pelepasan masker - para eksekutif telah menyatakan optimisme tentang pengeluaran konsumen dan pinjaman ke depan.

Itu terutama berlaku untuk rebound biaya kartu untuk perjalanan dan hiburan, yang terjun 80 persen pada awal pandemi, kata CEO Capital One Richard Fairbank kepada para analis bulan lalu.

Capital One mendorong kebangkitan belanja dengan secara bertahap meningkatkan batas kredit, katanya. "Itu merupakan bagian ekstra dari peluang pertumbuhan," kata Fairbank.

Baca juga: Pemerintah AS jual kepemilikan terakhir di Citigroup


Lebih menarik

Sekalipun saat saldo turun, jumlah rekening kartu meningkat selama dua kuartal terakhir dan penurunan saluran kredit berhenti pada kuartal Maret, menurut data Fed.

Bank-bank menolak berkomentar tentang rencana mereka di luar pernyataan publik mereka.

Apa artinya semua itu bagi peminjam kartu kredit? Ini sangat tergantung pada apakah mereka akan dapat mempertahankan pendapatan yang cukup untuk menutupi pengeluaran mereka ketika mereka dapat pergi makan malam dan bepergian lagi.

Setiap kekurangan akan menjadi titik manis bagi bank. Suku bunga rata-rata kartu kredit lebih dari 16 persen, dengan yang tertinggi di 25 persen, menurut CreditCards.com.

Persentase bunga tahunan (APR) tetap tinggi, bahkan ketika Fed mempertahankan suku bunga acuan mendekati nol dan ketika sebagian besar suku bunga KPR konvensional harganya sedikit di atas 3,0 persen.

Itu membantu bank mendapatkan pengembalian aset dua kali lipat dengan kartu dibandingkan dengan bisnis lain. Sekarang industri memiliki perasaan yang lebih baik tentang ekonomi, bank akan mencoba membuat pelanggan meminjam lebih banyak dengan kartu, kata analis Portales Partners Charles Peabody.

"Mereka memiliki pemahaman yang baik tentang perilaku konsumen," katanya. "Mereka akan membuatnya lebih menarik."

Baca juga: G7 hampir capai kesepakatan perpajakan perusahaan terbesar dunia
Baca juga: JP Morgan suntik dana Rp87 triliun untuk Liga Super Eropa
Baca juga: CEO Citi Indonesia respons pengumuman Citigroup keluar dari RI

Penerjemah: Apep Suhendar
Editor: Kelik Dewanto
Copyright © ANTARA 2021