Benarkah bidan itu bawahan dokter?

Benarkah bidan itu bawahan dokter?

Ilustrasi pemeriksaan Ibu hamil.

Jakarta (ANTARA) - Perwakilan Dana Penduduk Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNFPA) Dr.dr. Melania Hidayat menampik pendapat sebagian orang di Indonesia yang menyebut sebagai bawahan dari dokter, termasuk obgyn atau dokter spesialis obstetri dan ginekologi.

"Bidan dianggap asistennya para obgyn atau asistennya dokter. Asisten itu konotasinya bawahan. Ini sebetulnya bidan itu profesi sendiri setara dengan profesi kesehatan lainnya, yang memiliki rule, fungsi, kompetensi," kata dia dalam sebuah webinar, Selasa.

Baik bidan dan dokter memiliki posisi setara termasuk dalam mencapai tujuan menyelamatkan ibu dan bayi. Melania mengatakan, Federasi Ginekologi dan Obstetri Internasional (FIGO) sendiri sudah menyatakan komitmennya bekerja sama erat dengan para kolega bidan untuk bersama-sama menyediakan sistem layanan kesehatan global yang kuat untuk perempuan, bayi baru lahir dan remaja.

Baca juga: Waspadai depresi yang mengintai ibu pasca melahirkan

"Sayangnya di kita (Indonesia), karena historically, masih seringkali para bidan dianggap sebagai bawahan dokter, padahal mereka harusnya setara untuk mencapai kesuksesan kita menyelamatkan ibu. Ini sedikit mengingatkan dan memberi semangat pada bidan dan dokter untuk sama-sama kita setara dalam memerangi tingginya kematian ibu," tutur Melania. 

Hal senada juga diungkapkan dokter spesialis obstetri dan ginekologi, Boy Abidin. Dia menyatakan, kesetaraan antara bidan, dokter, obgyn harus dibuat supaya tidak ada yang superior dan inferior. 

Lebih lanjut, khususnya dalam memerangi angka kematian ibu (AKI), Melania, merujuk pada laporan situasi kebidanan dunia (State of the World's Midwifery Report atau SoWMy) edisi ketiga tahun 2021, mengungkapkan bidan sebenarnya bisa berkontribusi dalam 67 persen penurunan AKI dan 64 persen penurunan kematian neo-natal. Capaian ini terjadi apabila para bidan sudah mampu menyelenggarakan pelayanannya maksimal dan optimal. 

Lebih lanjut, apabila ini tercapai maka pada tahun 2035, bidan diperkirakan mampu menyelamatkan 4,3 juta nyawa per tahun di tingkat global. 

"Kalau hanya 25 persen saja peningkatan coverage dari yang ada sekarang, bidan bisa menyelamatkan 2,5 juta nyawa. Kalau situasinya meningkat minim misalnya 10 persen, kontribusi bidan bisa menyelamatkan 1,3 juta," tutur Melania. 

Walau begitu, bidan tidak bisa melakukan perannya sendiri melainkan membutuhkan dukungan berbagai hal termasuk sistem kesehatan yang memahami kebutuhan profesi mereka. 

Baca juga: Bidan berperan penting dalam kesehatan ibu dan bayi

Baca juga: Ikatan Bidan: Pasien buat janji sebelum berobat cegah COVID-19

Baca juga: Penurunan angka kematian ibu dan anak jadi parameter kemajuan negara

Pewarta: Lia Wanadriani Santosa
Editor: Maria Rosari Dwi Putri
COPYRIGHT © ANTARA 2021

40 Nakes se Kecamatan Belinyu ikuti pelatihan PONED 

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar