Citeureup, Bogor (ANTARA News) - PT Indocement Tunggal Prakarsa (Tbk) tetap berkomitmen mengembangkan tanaman jarak pagar (Jathropa curcas) sebagai salah satu alternatif sumber energi terbarukan (renewable energy resources) meski dari belum mencapai nilai keekonomisan.

"Kami memang mengambil posisi harus berani mengembangkan (untuk menanam jarak pagar) di lahan marjinal bekas tambang, meski dari segi pembiayaannya memang cukup besar ketimbang memakai bahan energi yang sudah ada," kata Direktur Sumberdaya Manusia (SDM) Indocement Kuky Permana di Citeureup, Kabupaten Bogor, Jawa Barat (Jabar), Rabu malam.

Disela-sela acara buka bersama dengan masyarakat di 12 desa binaaan pabrik Citeureup, ia menjelaskan bahwa pihaknya memang memilih terus mengembangkan jarak pagar itu karena melihatnya tidak hanya dari sisi ekonomi semata.

"Ke depan, jarak pagar sebagai sumber energi terbarukan masih prospektif, sedangkan di sisi lain, dengan tumbuhnya tanaman ini, maka terjadi penghijauan di mana tanaman mampu menyerap karbondioksida atau CO2 sehingga lingkungan menjadi lebih baik,"
katanya menambahkan.

Kuky Permana menyatakan bahwa hingga kini memang sudah ada pengakuan dari segi keekonomisan, pemakaian jarak pagar sebagai sumber energi alternatif pengganti energi bahan bakar minyak (BBM) dan energi fosil memang belum terbukti, karena penelitiannya sedang dan terus dikembangkan.

Menurut dia, sejak dikembangkan pertama kali tahun 2007 bekerja sama dengan Institut Pertanian Bogor (IPB), dengan menanam jarak pagar pada lahan marjinal bekas tambang seluas 70 hektare di pabrik Citeureup, ternyata hingga kini tumbuh cukup baik.

"Tujuan utama dari program pengembangan jarak pagar itu, memang melihat apakah bisa tumbuh dengan baik dulu, dan ternyata hingga kini hasilnya terbukti baik," katanya.

Sementara itu, Safety Security CSR Division Manager Indocement pabrik Citeureup Iwan Sabar menambahkan, sejak ditanam pada tahun 2007, telah berhasil dipanen empat kali.

"Dari 70 hektare jarak pagar yang ditanam di lahar marjinal bekas tambang itu, sekurangnya mampu menghasilkan 1 ton setiap tahun," katanya.

Hanya saja, diakuinya bahwa panen yang dihasilkan tidak serentak, namun berbeda-beda pada lahan yang terpisah, namun jumlah totalnya bisa mencapai 1 ton setiap tahun.(*)
(A035/R009)

Editor: Ruslan Burhani
Copyright © ANTARA 2010