Yayasan KAN: Alih fungsi lahan rusak hutan mangrove

Yayasan KAN: Alih fungsi lahan rusak hutan mangrove

Warga membawa bibit bakau untuk ditanam di perairan pantai Pulau Harapan, Kabupaten Kepulauan Seribu, DKI Jakarta, Sabtu (22/5/2021). Penanaman bakau oleh Yayasan Kehati dan lembaga Divers Clean Action (DCA) di Pulau Harapan tersebut menjadi bagian dari rangkaian kegiatan Hari Keanekaragaman Hayati Sedunia sekaligus sebagai kampanye pelestarian hutan bakau (mangrove) sebagai pelindung kawasan pesisir dan habitat bagi aneka ragam hayati. ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra/wsj.

Jakarta (ANTARA) - Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) mengatakan alih fungsi lahan menyebabkan banyak mangrove ditebang dan dirusak sehingga menurunkan kontribusinya terhadap lingkungan dan penyerapan karbon.

"Salah satu kerusakan mangrove yang banyak terjadi adalah terjadinya konversi dari hutan mangrove kepada tambak, salah satunya adalah tambak udang," kata Development dan Marketing Director YKAN Ratih Loekito dalam dialog virtual Mangrove untuk Masa Depan, di Jakarta, Jumat.

Mangrove memiliki peranan penting dalam lingkungan dan mendukung kehidupan makhluk hidup lain, di antaranya tempat berkembang biak biota-biota laut, membantu untuk mencegah terjadinya abrasi, menghambat kekuatan destruktif dari gelombang besar laut, mencegah terjadinya intrusi air laut ke daratan​​​​​​ dan tempat persinggahan dari burung-burung migrasi.

Ratih menuturkan ketika seseorang memiliki lahan 1.000 meter per segi, maka yang terjadi adalah semua mangrove di luasan lahan itu dibabat habis untuk dijadikan tambak udang. Padahal, sebenarnya, jika bisa menerapkan praktik-praktik terbaik, maka cukup 20 persen dari luasan itu yang dibuka menjadi tambak udang, sementara 80 persennya dibiarkan untuk mangrove tetap tumbuh dan berkembang.

"Karena sebenarnya dengan membiarkan mangrove hidup di situ, yang ada produktivitas dari tambak udang tadi sebenarnya bisa lebih dibandingkan kita membuka semuanya," tutur Ratih.

Oleh karena itu, Ratih berharap hutan mangrove yang ada di Indonesia saat ini harus dipertahankan, dipulihkan, dikembangkan dan dilestarikan.

Saat ini ada sekitar 3,5 juta hektare hutan mangrove di Indonesia, atau nomor satu di dunia, atau kurang lebih sekitar 23 persen dari luasan ekosistem mangrove dunia.

Hingga saat ini diperkirakan 600.000 hektare mangrove Indonesia dalam keadaan rusak atau kritis, sehingga diperlukan rehabilitasi atau pemulihan kembali.

Yayasan Konservasi Alam Nusantara juga mengatakan selain penanaman mangrove perlu konsentrasi terhadap pemeliharaan mangrove, sehingga bibit mangrove yang ditanam benar-benar dipastikan terpelihara dan dipantau untuk berkembang dengan baik.

Sebelum melakukan penanaman mangrove, Ratih menuturkan juga perlu dilakukan kajian-kajian seperti kondisi lingkungan, sedimentasi, dan jenis mangrove yang sesuai kebutuhan lingkungan setempat sehingga tidak asal menanam mangrove begitu saja, lalu meninggalkannya tanpa pemantauan.

Pewarta: Martha Herlinawati Simanjuntak
Editor: Masuki M. Astro
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Konservasi dan restorasi mangrove efektif menekan emisi karbon​​​​​​​

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar