Kebijakan stimulus ekonomi harus lebih berorientasi kepada ritel UMKM

Kebijakan stimulus ekonomi harus lebih berorientasi kepada ritel UMKM

Direktur Eksekutif Indonesia for Global Justice, Rachmi Hertanti. ANTARA/HO-Dokumentasi Pribadi

dengan semakin menjamurnya e-commerce maka pelaku usaha kecil saat ini bisa melakukan transaksi langsung ke konsumen yang juga membuat efeknya semakin positif bagi kelancaran ekonomi
Jakarta (ANTARA) - Kebijakan stimulus perekonomian di tengah pandemi harus lebih berorientasi untuk membantu ritel di tingkat UMKM dan bukannya berfokus ke pelaku ritel besar, karena sekarang dengan bantuan digitalisasi, usaha kecil dan menengah bisa lebih berjaya.

"Solusi yang dibutuhkan hari ini, sebenarnya masyarakat tidak butuh ritel besar, tetapi ritel yang cukup sustain (berkelanjutan)," kata Direktur Eksekutif Indonesia for Global Justice, Rachmi Hertanti kepada Antara, Sabtu.

Rachmi mengingatkan bahwa sejumlah kajian menunjukkan bahwa sebelum maraknya era digitalisasi, pelaku usaha kecil dan menengah tidak mudah untuk masuk menjadi pemasok sejumlah supermarket yang termasuk usaha besar.

Namun, dengan semakin menjamurnya e-commerce maka pelaku usaha kecil saat ini bisa melakukan transaksi langsung ke konsumen yang juga membuat efeknya semakin positif bagi kelancaran ekonomi.

Untuk itu, ia tidak sepakat bahwa solusi terkait dampak pandemi kepada bidang ritel perekonomian domestik adalah meningkatkan pemberian bantuan langsung tunai guna meningkatkan daya beli, tetapi lebih kepada kebijakan yang memberdayakan pelaku UMKM di tengah pandemi.

Sebagaimana diwartakan, Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan (Kemendag) Oke Nurwan mengatakan stimulus ekonomi berupa pembiayaan berbunga kompetitif bagi pelaku usaha sudah digelontorkan, meskipun hal tersebut nyatanya tak dapat membendung tutupnya sejumlah ritel modern.

“Dengan stimulus pembiayaan berbunga kompetitif bagi pelaku usaha di berbagai bidang artinya sudah mencakup semua aspek,” kata Oke kepada Antara dihubungi di Jakarta, Jumat (28/5).

Menurut Oke Nurwan, stimulus tersebut merupakan salah satu upaya terbaik pemerintah untuk membantu dunia usaha agar tetap bertahan dari dampak pandemi COVID-19.
Baca juga: Riset sebut bisnis perdagangan independen modern tetap bertumbuh
Baca juga: "Go-digital" keharusan bagi UMKM


Kendati demikian, Oke mengatakan bahwa penutupan beberapa gerai ritel merupakan keputusan internal. “Rupanya bagi beberapa perusahaan belum bisa membantu sehingga harus menutup sebagian gerainya karena pandemi yang berdampak multidimensi,” ujarnya.

Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto memastikan pemberian anggaran bagi Program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) juga mencakup stimulus bagi Usaha Mikro Kecil dan Menengah untuk bertahan dari dampak pandemi COVID-19.

Airlangga dalam Dialog Spesial indonesia Bicara: Digitalisasi dan UMKM di Jakarta, Senin (24/5), memastikan pemberian stimulus PEN bagi UMKM dalam APBN 2021 mencapai Rp191,3 triliun, dengan realisasi hingga akhir April sudah mencapai Rp37,7 triliun.

Menko Perekonomian memastikan pemberian stimulus PEN tersebut penting karena UMKM merupakan soko guru perekonomian nasional dengan jumlah saat ini mencapai mencapai 64 juta, atau sekitar 99 persen dari struktur usaha di Indonesia.
Baca juga: Transformasi digital solusi meningkatkan pertumbuhan UMKM
​​​​​​​
Baca juga: Giant tutup, Hero Group fokus kembangkan IKEA dan Guardian

​​​​​​​
 

Pewarta: M Razi Rahman
Editor: Royke Sinaga
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Ragam investasi bagi generasi milenial

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar