Menteri LHK bahas pendanaan iklim dengan Presiden COP26 Alok Sharma

Menteri LHK bahas pendanaan iklim dengan Presiden COP26 Alok Sharma

Tangkapan layar - Presiden COP26 Alok Sharma (kiri) dan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya (dua kanan) didampingi Wakil Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Alue Dohong (kanan) memberikan keterangan pers di Manggala Wanabakti, Jakarta, Senin (31/5/2021). (ANTARA/Virna P Setyorini)

kami punya problem yaitu pada sektor energi
Jakarta (ANTARA) - Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya mendapat kunjungan dari Presiden Conference of Parties 26 (COP26) Alok Sharma dan berkesempatan membahas komitmen dukungan pendanaan hingga teknologi untuk mengatasi perubahan iklim.

"Dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan tadi dibicarakan dan memang faktor utamanya sebetulnya adalah dukungan finansial dan teknologi. Karena secara umum mengenai perangkat-perangkat sistem teknik pelaporan dan lain-lain kita sudah kerja keras sejak 2016," kata Siti memberikan keterangan pers secara daring bersama Alok Sharma di Manggala Wanabakti, Jakarta, Senin.

Siti mengatakan sektor kehutanan sudah siap mencapai nol emisi (net zero emission) di 2030, bahkan diperkirakan sudah bisa positif menyimpan 140 juta ton karbon dioksida ekuivalen.

"Tapi kami punya problem yaitu pada sektor energi. Ini sektor yang relatif berat karena kan konsumsi listrik rakyat kita relatif kecil, kalau negara sejahtera itu konsumsi listriknya harus di atas 3.500 sampai 5.400 (kilowatt hour/kWh). Sekarang rata-rata (konsumsi) listrik kita baru 1.100 (kWh), paling tinggi 1.300 (kWh). Jadi kita masih kerja keras," ujar Siti.

Baca juga: Menteri LHK harap pemanfaatan EBT meningkat hingga 50 persen di 2050

Baca juga: Sekjen PBB desak para pemimpin dunia deklarasikan 'darurat iklim'


Oleh karena itu, menurut Siti, dirinya telah meminta Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) untuk bersama-sama bekerja keras melakukan menjalankan.

"Pak Presiden sebetulnya sudah memerintahkan untuk dibuat roadmap bagaimana mengurangi PLTU-PLTU yang didukung batu bara. Jadi memang masalah utamanya ada di batu bara kalau teknologinya jelek dan dengan finansialnya jelak," ujar dia.

Sementara itu, Presiden COP26 Alok Sharma mengatakan pertemuan dengan Menteri Siti untuk mendiskusikan tujuan COP26 yang akan digelar pada 1-12 November di Glasgow, dan bagaimana memperkuat hubungan kerja yang baik yang sudah dimiliki dengan Pemerintah Indonesia tentang perubahan iklim.

"Saya telah menyampaikan ini kepada Menteri dalam diskusi kami, bagaimana saya menyampaikan pesan konsisten ke seluruh negara-negara tentang apa yang perlu kita capai menjelang dan di COP26 dalam lima bulan ke depan," ujar Sharma.

Tujuan menyeluruh pada COP26, menurut dia, untuk tetap dalam jangkauan prospek pembatasan kenaikan suhu global hingga 1,5 derajat Celsius. Dan itu yang ditandatangani oleh para pemimpin sebagai bagian dari Pemufakatan Paris (Paris Agreement) enam tahun lalu.


Baca juga: Indonesia dorong kolaborasi internasional capai target penurunan GRK

Baca juga: Laporan Lancet Countdown: Perubahan iklim ancaman bagi kesehatan

Pewarta: Virna P Setyorini
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komitmen Indonesia di Perjanjian Paris, turunkan emisi karbon 29%

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar