Erick Thohir: Pengembangan EBT perlu sinkronisasi dan bertahap

Erick Thohir: Pengembangan EBT perlu sinkronisasi dan bertahap

Menteri BUMN Erick Thohir menyampaikan keterangan pers di Gedung Kementerian BUMN, Jakarta, Rabu (2/6/2021). ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/hp.

Sekarang pemasukan yang terbesar Indonesia dalam mencari dolar adalah sawit dan batu bara
Jakarta (ANTARA) - Indonesia memiliki sumber Energi Baru Terbarukan (EBT) yang melimpah dari mulai air, matahari, angin, panas bumi, hingga gelombang laut dengan potensi skala nasional mencapai 417 gigawatt, namun pengembangannya belum maksimal hanya 2,75 persen atau sekitar 11,5 gigawatt.

Menteri BUMN Erick Thohir dalam pernyataannya di Jakarta, Rabu, menjelaskan proyek energi baru terbarukan perlu uang dan pemanfaatan energi fosil yang selama ini dinikmati Indonesia membutuhkan sinkronisasi dengan proyek energi bersih agar tidak terjadi konflik.

"Kita harus melakukan sinkronisasi dan bertahap karena perubahan dari energi fosil ke energi baru terbarukan perlu uang dan investasi," kata Menteri BUMN Erick Thohir.

Mantan bos Inter Milan ini menerangkan bahwa pengoperasian pembangkit energi fosil tidak bisa dihentikan seketika, tetapi harus terjadwal berdasarkan peta jalan yang disusun pemerintah.

Selama masa peralihan energi, kata dia, Indonesia harus membangun pembangkit EBT untuk menggantikan pembangkit energi fosil yang pensiun.

Baca juga: Menko Luhut: Pemerintah bertahap bakal pensiunkan pembangkit batu bara

Pemerintah mengumumkan bahwa secara bertahap akan menghentikan operasional pembangkit listrik berbahan bakar batu bara dan fokus mengembangkan energi baru terbarukan.

Pada 2060 Indonesia diharapkan bisa mencapai target nol emisi karbon melalui pemanfaatan energi ramah lingkungan.

"Oh yang itu dimatikan enggak bisa, oh yang di situ tiga tahun lagi harus mati, karena tiga tahun lagi harus mati maka kita harus bangun energi terbarukan. Ini yang harus disinkronisasikan, enggak bisa langsung mati," ujar Erick Thohir.

Baca juga: IESR: Indonesia mampu capai nol emisi karbon pada 2050

Dia mengatakan Indonesia saat ini memerlukan dukungan pendanaan dari penjualan sawit dan batu bara dalam bentuk devisa untuk dipakai membangun pembangkit EBT.

Namun embargo kelapa sawit yang dilakukan banyak negara karena komoditas itu dianggap menjadi penyumbang penyusutan hutan tropis membuat permintaan ekspor turun.

Selain itu, kata dia, komitmen negara-negara dunia dalam menurunkan emisi gas rumah kaca melalui upaya mengurangi konsumsi batu bara turut berdampak terhadap neraca ekspor batu bara Indonesia.

"Sekarang pemasukan yang terbesar Indonesia dalam mencari dolar adalah sawit dan batu bara. Selama ini bermanfaat, kami harus melakukannya...Ini bukan berarti kami anti green economy," ujar Erick Thohir.

Baca juga: Turunkan emisi, RI butuh investasi besar bangun pembangkit EBT 56 GW

Pewarta: Sugiharto Purnama
Editor: Risbiani Fardaniah
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Bali jadi tuan rumah G20, Menteri BUMN: COVID-19 harus terkontrol

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar