Hari Sepeda Internasional 2021 dan bersepeda aman di tengah pandemi

Oleh Lia Wanadriani Santosa

Hari Sepeda Internasional 2021 dan bersepeda aman di tengah pandemi

Ilustrasi seseorang bersepeda (Pixabay)

Jakarta (ANTARA) - Peringatan Hari Sepeda Internasional 2021 pada 3 Juni ini yang ditetapkan Persatuan Bangsa Bangsa (PBB) sejak April 2018, salah satunya berdasarkan pertimbangan pentingnya bersepeda bagi kesehatan dan kebugaran seseorang.

Bersepeda bahkan bisa menjadi salah satu pilihan kegiatan Anda atau bahkan gaya hidup untuk tetap aktif di tengah pandemi COVID-19 saat ini.

Agar Anda tetap bisa melakukan kegiatan ini secara aman, para pakar kesehatan mengingatkan Anda perlu tetap menerapkan protokol kesehatan terutama mengenakan masker dan menjaga jarak selama bersepeda.

Dari sisi manfaat, kegiatan jenis aktivitas aerobik ini memiliki sederet manfaat untuk kesehatan dan kebugaran Anda. Berikut sejumlah manfaatnya seperti dikutip dari Medical News Today, Kamis:

Baca juga: Belajar cara tepat bersepeda untuk kesehatan jantung lewat buku saku

Baca juga: Pusat Sepeda, kawasan untuk pengalaman bersepeda lengkap di Jakarta


1. Kesehatan kardiovaskular

Banyak peneliti mencatat, bersepeda dapat membantu meningkatkan kesehatan jantung. Sebuah studi pada tahun 2017, misalnya, menunjukkan orang yang bersepeda ke tempat kerja meningkat fungsi kardiovaskularnya.

Mereka yang bersepeda juga berisiko 46 persen lebih rendah terkena penyakit kardiovaskular dan 52 persen lebih rendah meninggal akibat kondisi tersebut.

Hasil penelitian juga menunjukkan, selain meningkatkan kesehatan jantung, bersepeda juga dapat mengurangi risiko terkena kanker.

2. Tekanan darah

Tekanan darah tinggi termasuk salah satu faktor risiko penyakit kardiovaskular pada beberapa orang. Beberapa ahli menyarankan aktivitas fisik seperti bersepeda sebagai terapi utama untuk mencegah kondisi ini.

Bersepeda juga dapat membantu mengurangi tekanan darah selama periode waktu tertentu. Studi memperlihatkan, setelah 3 bulan bersepeda, tekanan darah bisa turun 4,3 persen, dan setelah 6 bulan tekanan bisa turun 11,8 persen.

Sebuah studi tahun 2017 memperlihatkan, bersepeda adalah metode yang efektif untuk menurunkan tekanan darah pada penderita diabetes tipe 2.

3. Manajemen berat badan

Sebuah tinjauan sistematis pada 2019 menunjukkan, bersepeda membantu mengurangi lemak tubuh dan massa tubuh. Apabila seseorang ingin menurunkan berat badan, diet yang baik dan olahraga yang cukup menjadi penting.

Bersepeda dapat membantu seseorang mengatur berat badannya karena meningkatkan laju metabolisme, membangun otot, dan membakar lemak tubuh. Kegiatan ini juga adaptif, artinya seseorang dapat mengubah panjang dan intensitas latihan agar sesuai dengan kemampuan mereka.

4. Kesehatan paru-paru

Bersepeda juga dapat membantu meningkatkan kesehatan kardiorespirasi. Sebuah studi pada 2011 mencatat, bersepeda selama sekitar 170-250 menit per minggu dapat sangat meningkatkan kesehatan paru-paru.

Satu artikel menekankan, olahraga seperti bersepeda penting untuk menjaga paru-paru tetap sehat bagi orang dengan dan tanpa kondisi masalah paru-paru. Penelitian lain juga mencatat, aktivitas fisik dapat membantu sistem kekebalan melindungi seseorang dari infeksi pernapasan seperti SARS-CoV-2, yang menyebabkan COVID-19.

Bersepeda secara teratur juga dapat membantu meningkatkan fungsi paru-paru pada mereka yang memiliki kondisi paru-paru. Orang dengan penyakit paru obstruktif kronik dapat memasukkan bersepeda sebagai bagian dari program rehabilitasi paru mereka.

5. Kesehatan mental

Bersepeda juga dikaitkan dengan peningkatan kesehatan mental. Sebuah studi pada 2019 menyoroti hubungan antara keduanya, serta peningkatan dalam beberapa fungsi kognitif. Selain meningkatkan fungsi kognitif, olahraga teratur dapat membantu mengurangi kecemasan dan depresi.

6. Tingkat kebugaran

Banyak pedoman kesehatan yang merekomendasikan untuk melakukan latihan aerobik secara teratur, seperti bersepeda, berjalan, berlari, atau berenang karena sangat berguna untuk kebugaran dan orang dapat mengubah intensitasnya sesuai dengan kebutuhan mereka.

Satu studi pada 2017 menunjukkan, orang yang sering bersepeda biasanya lebih bugar daripada orang yang melakukan aktivitas fisik lainnya.

7. Dampak rendah

Bersepeda termasuk salah satu bentuk latihan berdampak rendah, menjadikannya pilihan yang aman untuk orang dewasa yang lebih tua dan orang-orang dengan persendian yang lemah atau rusak.

Ahli bedah ortopedi dapat merekomendasikan bersepeda di permukaan datar atau di dalam ruangan setelah operasi seperti artroplasti pinggul dan lutut total. Sifat latihan yang berdampak rendah dapat mengakomodasi berbagai cedera dan kecacatan sambil tetap memungkinkan seseorang untuk aktif.

8. Ramah lingkungan

Bersepeda adalah moda transportasi perkotaan yang paling berkelanjutan dan hampir tidak menyebabkan kerusakan lingkungan. Bersepeda juga membutuhkan sedikit ruang dan ekonomis untuk pengendara sepeda dan infrastruktur publik.

9. Keseimbangan dan koordinasi

Bersepeda dapat merangsang daerah motorik di sistem saraf pusat dan mengaktifkan korteks serebral, yang dapat membantu meningkatkan pembelajaran dan keseimbangan motorik.

Inilah alasan para ahli merekomendasikan bersepeda sebagai bagian dari program rehabilitasi yang efektif untuk orang-orang yang mengalami masalah keseimbangan dan masalah berjalan.

Bersepeda juga dapat membantu seseorang meningkatkan stabilitas inti mereka, yang dapat membantu mencegah cedera.

10. Mudah dilakukan

Bersepeda termasuk jenis aktivitas fisik yang relatif mudah dilakukan, karena memerlukan keterampilan utama, dan menggabungkan mobilitas dengan aktivitas fisik, sehingga dapat diakses oleh segmen besar populasi.

Orang-orang juga dapat memasukkan bersepeda ke dalam kehidupan mereka dengan banyak cara, seperti bersepeda di sekitar rumah, sebagai metode perjalanan, atau sebagai hiburan.

Baca juga: Kelly Tandiono jadikan bersepeda sebagai hobi di tengah pandemi

Baca juga: Rekomendasi tempat bersepeda aman untuk keluarga

Baca juga: Kelly Tandiono bagikan tiga kiat bersepeda untuk pemula

Oleh Lia Wanadriani Santosa
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar