Kemenag sebut bimtek penceramah untuk perkuat moderasi beragama

Kemenag sebut bimtek penceramah untuk perkuat moderasi beragama

Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas saat menggelar konferensi pers soal pembatalan haji 1442 Hijriyah. ANTARA/HO/Humas Kemenag.

Fasilitasi pembinaan ini untuk meningkatkan kompetensi para dai dalam menjawab dan merespons isu-isu aktual
Jakarta (ANTARA) - Kementerian Agama segera menggelar bimbingan teknis (bimtek) kepada para dai atau penceramah untuk semakin memperkuat pemahaman mereka tentang moderasi beragama dan wawasan kebangsaan.

"Fasilitasi pembinaan ini untuk meningkatkan kompetensi para dai dalam menjawab dan merespons isu-isu aktual dengan strategi metode dakwah yang menitikberatkan pada wawasan kebangsaan atau sejalan dengan semboyan hubbul wathan minal iman," ujar Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas di Jakarta, Kamis.

Baca juga: Kemenag: Dai harus melek dunia digital untuk sebarkan dakwah

Proses bimtek ini akan menggandeng sejumlah organisasi masyarakat keagamaan seperti Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, Majelis Ulama Indonesia (MUI), serta sejumlah ormas agama lainnya.

Melalui bimtek ini, Menag berharap wawasan kebangsaan para penceramah semakin kuat dan akhirnya bermuara pada menebarkan ajaran agama yang penuh cinta kasih dan perdamaian terhadap sesama umat beragama.

Baca juga: MUI akan standarisasi para dai

"Saat ini moderasi beragama telah menjadi bagian dari kebijakan dan strategi dari pemerintah menuju revolusi mental dan pembangunan kebudayaan. Diharapkan para dai yang sudah dibina akan bertambah wawasan serta kompetensi keilmuannya dan memiliki integritas kebangsaan yang tinggi," kata dia.

Nantinya, penceramah yang telah mengikuti bimbingan teknis bakal mendapat sertifikat. Namun kata dia yang mesti digarisbawahi, sertifikat ini bukan menjadi modal atau syarat wajib dai untuk bisa berceramah.

Baca juga: Kapolda Lampung berikan penghargaan kepada Dai Kamtibmas

"Jadi bukan sertifikasi seperti yang dibayangkan. Jadi dai dikumpulkan sama Kementerian Agama dikasih wawasan kebangsaan, dikasih moderasi kemudian diberi sertifikat. Kemudian sertifikat ini menjadi modal atau syarat untuk bisa berceramah, tidak seperti itu," kata dia.

Kendati demikian, kompetensi wawasan kebangsaan ini tidak akan bermanfaat apabila masyarakat tidak terlibat di dalamnya. Masyarakat mesti cermat memilih dai yang akan diundang agar penyampaian ajaran-ajaran Islam menitikberatkan pada cinta kasih.

"Pemerintah dan kita semua harus berusaha untuk memberikan pemahaman tambahan wawasan kepada para dai," katanya.

Baca juga: Kemenag bina 8 ribu pendakwah cegah radikalisme

Pewarta: Asep Firmansyah
Editor: Agus Salim
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Wapres Ma'ruf Amin sebut Indonesia adalah negara kesepakatan

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar