Pengarusutamaan kompatibilitas Pancasila butuh peran tokoh agama

Pengarusutamaan kompatibilitas Pancasila butuh peran tokoh agama

Ketua Komisi Kerukunan Antar Umat Beragama Majelis Ulama Indonesia (MUI) Dr KH Abdul Moqsith Ghazali M Ag. ANTARA/HO-Dok. BNPT.

Padahal dengan mengamalkan nilai-nilai dari Pancasila itu sendiri pada hakekat-nya juga sudah mengamalkan dari ajaran Islam yang 'rahmatan lil alamin'
Jakarta (ANTARA) - Ketua Komisi Kerukunan Antar Umat Beragama Majelis Ulama Indonesia (MUI) Dr KH Abdul Moqsith Ghazali M Ag mengungkapkan bahwa untuk pengarusutamaan kompatibilitas Pancasila dan ajaran agama di masyarakat dibutuhkan peran serta dari para tokoh agama

"Tokoh agama ini memiliki peran yang besar dalam pengarusutamaan kompatibilitas Pancasila dan ajaran agama, karena merekalah yang sehari-harinya bertemu langsung dengan masyarakat sehingga harus bisa mengkampayekan Pancasila tidak bertentangan dengan ajaran agama," ujar Moqsith dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Sabtu.

Apalagi, menurut dia, banyak bermunculan propaganda yang dilancarkan oleh oknum serta kelompok-kelompok yang tak bertanggung jawab berupa indoktrinisasi yang mengatakan bahwa Pancasila adalah biang masalah bangsa sehingga tidak relevan dengan ajaran agama, khususnya Islam.

"Kelompok tersebut getol mengampanyekan bahwa Pancasila adalah buatan manusia sehingga di sebut sebagai produk kafir dan lain sebagainya. Padahal bagi umat Islam, Pancasila adalah perasan dari ajaran Islam. Oleh karena itu tidak ada sila-sila dalam Pancasila ini yang bertentangan dengan nilai-nilai ajaran Islam," kata Wakil Ketua Lembaga Bahtsul Masail (LBM) Pengurus Besar Nahdatul Ulama (PBNU) ini.

Peraih Doktoral di bidang Tafsir Al Quran dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini mengungkapkan bahwa jika masih ada kelompok-kelompok yang sering membenturkan antara Pancasila dan agama ini menurutnya tentu memiliki perspektif serta pandangan keagamaan yang sempit.

Baca juga: Direktur CIAA apresiasi ajakan Puan jadikan Pancasila pemersatu bangsa

Baca juga: BPIP Dorong Pemuda Jadikan Pancasila Fondasi untuk Raih Cita-Cita Bangsa


"Padahal dengan mengamalkan nilai-nilai dari Pancasila itu sendiri pada hakekat-nya juga sudah mengamalkan dari ajaran Islam yang rahmatan lil alamin," ungkap-nya.

Moqsith mengatakan bahwa di dalam Musyawarah Nasional Alim Ulama Nahdlatul Ulama (NU) yang membahas masalah keagamaan yang digelar di Situbondo pada tahun 1983 silam, salah satunya keputusa-nya bahwa sila pertama dalam Pancasila itu mencerminkan tauhid dalam Islam itu sendiri.

"Tentunya ini sangat menjiwai sila-sila lainnya yang ada di dalam Pancasila itu sendiri. Jadi jangan dipertentangkan atau diperdebatkan lagi relevan atau tidak. Sudah dijelaskan di Munas Alim Ulama NU tahun 1983 lalu yang melahirkan deklarasi tentang hubungan Pancasila dengan Islam. Dalam deklarasi itu juga dijelaskan bahwa penerima dan pengamalan Pancasila merupakan perwujudan dari upaya umat Islam di Indonesia untuk menjalankan syari’at agamanya," tutur Kiai Moqsith, panggilan karibnya.

Selain itu, ia juga meminta keterlibatan seluruh lapisan bangsa khususnya pemerintah untuk memperkuat relasi harmoni antara Pancasila dan agama sebagai upaya penolakan terhadap oknum-oknum dan kelompok yang membenturkan antara keduanya.

"Ini perlu dilakukan demi menjaga persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia agar tidak terpecah belah. Aparatur pemerintah perlu menjadi ujung tombak dan menjadi uswatun hasanah menyangkut pengamalan Pancasila dalam pengelolaan pemerintahan dari atas sampai ke bawah," ujarnya.

Baca juga: BPIP apresiasi gerakan kebangsaan mengumandangkan Mars Pancasila

Baca juga: Alissa Wahid: Menjadi Pancasilais berarti menjadi muslim yang baik

Pewarta: Joko Susilo
Editor: Chandra Hamdani Noor
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Wapres ajak ulama dan tokoh agama Islam tangani COVID-19

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar