Artikel

Kamson 'si penjaga gambut' di Sungai Beras

Oleh Nanang Mairiadi dan Sukmareni

Kamson 'si penjaga gambut' di Sungai Beras

Kamson (60) seorang warga yang menjaga hutan dari kebakaran hutan dan lahan atau karhutla di Jambi, dengan pola sekat kanal. ANTARA/HO/pri.

membangun sekat kanal, sejak 2016
Jambi (ANTARA) - Kamson (60) mengabdikan dirinya menjaga lahan gambut di kawasan Sungai Beras, Kecamatan Mendahara Ulu, Kabupaten Tanjungjabung (Tanjab) Timur, Provinsi Jambi agar hutan milik mereka tidak mengalami kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dan hal ini sudah dibuktikannya beberapa tahun terakahir ini hutan  di kawasan mereka tidak mengalami kebakaran.

Suasana panas terik yang menyengat kepala ketika musim kemarau di areal gambut itu, tidak menyurutkan jiwanya untuk tetap menjaga daerah gambutnya dengan menjalankan program sekat kanal yang dibangunnya dengan peralatan dan bahan baku yang seadanya.

Tanah rawa dengan air berwarna coklat masih mengalir dengan lambat. Areal yang cenderung datar itu, memang pergerakan air tidak terlalu terlihat. Sekat kanal yang di bangunnya dengan menggunakan papan dan sebagian dengan beton terlihat mampu mencegah air gambut mengalir ke Sungai Mendahara yang berada di ujung kanal.

Kondisi ini bisa dilihat di Desa Sungai Beras, Kecamatan Mendahara Ulu, Kabupaten Tanjung Jabung Timur Provinsi Jambi, dimana desa yang terletak di pinggiran Sungai Mendahara, sebagian wilayahnya masuk ke areal Hutan Lindung Gambut Sungai Buluh.

Awalnya masyarakat yang mulai mendiami wilayah itu sekitar 1972, datang dari wilayah hilir dan membuat areal persawahan di daerah rawa itu. Tidak tahu dengan kondisi lahan yang mereka garap.

Hanya saja mulai tahun 1990, dengan semakin banyaknya penduduk Sungai Beras usulan pembangunan jalan di desa itu tidak pernah dipenuhi. Rupanya sebagian pemukiman dan ladang di kawasan itu masuk ke dalam kawasan Hutan Lindung Gambut Sungai Buluh.

Berkat pendampingan dari KKI Warsi, akhirnya masyarakat kemudian menggeser pemukiman ke arah ilir dan berada dalam areal pemanfaatan lain sedangkan sebagian ladang masih berada di Areal Hutan Lindung Gambut, kata Humas KKI Warsi, Sukmareni.

Catatan Warsi, awal kedatangan penduduk ke desa ini, padi sawah mampu memberikan penghidupan namun pada 1985 terjadi banjir besar yang menghancurkan areal sawah mereka sehingga seusai banjir itu, masyarakat kesulitan untuk mengelola padi sawah. Tanaman padi tidak lagi tumbuh dengan baik.

Dugaannya seiring waktu areal gambut itu mulai di kanal-kanal sehingga senyawa dengan parit yang ada dalam lapisan gambut itu, teroksidasi dan akhirnya meracuni tanaman. Sejak itu, masyarakat mulai beralih ke tanaman perkebunan seperti pinang, kopi dan sejak kehadiran perkebunan sawit besar di sekitar desa, masyarakat juga mulai melakukan penanaman sawit.

Sukmareni mengatakan, semua itu berujung dengan pembuat kanal-kanal sehingga lahan bisa ditanami dan dari sinilah pembelajaran itu dipetik. Kanal, rawa dan juga jenis tanamannya sangat mempengaruhi hasil pertanian.

Kebakaran gambut mulai terjadi kala perusahaan-perusahaan besar dengan kanal-kanal besar hadir di sekitar desa, muka air gambut turun drastis di musim kemarau. Akibatnya di musim kemarau gambut menjadi sangat mudah terbakar. Tidak hanya itu, tanaman sawit dengan pokok-pokok yang besar ternyata juga tidak bisa tegak sempurna di areal gambut, ketika memasuki usia 10 tahun.

"Inilah yang kemudian membuat masyarakat desa untuk melakukan pengelolaan kawasan gambut secara lestari dan berkelanjutan dan dengan kehadiran Komunitas Konservasi Indonesia Warsi di kawasan itu, masyarakat Sungai Beras makin mantap untuk mengelola kawasan mereka secara arif dan bijak," kata Sukmareni.

Baca juga: 200 ribu pohon khas gambut ditanam di Tahura Orang Kayo Hitam

Baca juga: Optimalkan lahan gambut, BPTP Jambi ikuti workshop restorasi


Beralih tanam

Kamson adalah salah satu warga desa yang paling bersemangat untuk mengelola gambut lestari. Diawali dengan legalitas kawasan. Kawasan perladangan yang sebagian berada di Hutan Lindung gambut diusulkan dikelola dengan skema perhutanan sosial hutan desa.

Menteri Kehutanan memberikan izin melalui SK 707/menhut-II/2014 tentang Penetapan Areal Kerja Hutan Desa Sungai Beras seluas 2.200 ha. Areal inilah yang kemudian dikelola dengan menerapkan prinsip-prinsip pengelolaan lestari sekaligus memberikan dukungan ekonomi bagi masyarakatnya.

Kamson mengomandoi Lembaga Pengelola Hutan Desa Sungai Beras. Sejumlah kegiatan dirancang. Perusahaan Hutan Tamanan Industri dan Perkebunan sawit skala besar di sekeliling desa turut mempengaruhi air gambut di desa Sungai Beras. Itulah yang menjadi tugas kerja LPHD, mencegah air gambut dari Hutan Desa ikut keluar.

"Caranya dengan membangun sekat kanal, sejak 2016 dan dengan dukungan Warsi serta juga lembaga lain maupun swadaya masyarakat membangun sejumlah sekat kanal dimana pembangunan sekat kanal di areal hutan desa itu terbukti ampuh mencegah kehilangan air di areal gambut. sehingga desa ini aman dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla), termasuk pada kemarau panjang 2019 yang menghanguskan sejumlah hutan gambut di Provinsi Jambi," kata Sukmareni.

Tidak hanya itu, LPHD juga juga mulai memperkaya komoditi di hutan desa. Komoditi dipilih yang ramah dan adaptif dengan gambut. Kemudian ditanam jelutung rawa, merica, jernang dan kopi di hutan lindung ini.

"Kami juga mulai mengganti sawit, sawit di areal gambut setelah usia 10 tahun tidak lagi produktif, batangnya menjadi tinggi dan buahnya berkurang banyak, kami juga mulai miring-miring," kata Kamson.

Berkebun di areal gambut masyarakat sangat sadar konsekuensinya. Lahan gambut mengandung pirit (FeS). Senyawa kimia ini berada di bawah lapisan gambut. Senyawa kimia ini ketika berinteraksi dengan pupuk, akan menghasilkan racun, dan membuat tanaman di atasnya mati.

Kamson kini sudah mulai mengganti tanaman sawitnya dengan jelutung, seluas 2 ha. Kini jelutungnya sudah tumbuh baik, dan dalam beberapa waktu lagi bisa di panen dimana umur jelutung di hutan desa ini sudah hampir tujuh tahun, batang-batangnya sudah tumbuh subur.

"Insyaa Allah sebentar lagi, kami menanti waktu yang tepat untuk panen,”kata Kamson.

Dengan kegiatan yang dilakukan dan dukungan WARSI, targetnya adalah memulihkan kawasan hutan gambut dan memetik manfaat secara ekologi dan ekonomi serta mampu dilakukan oleh masyarakat. Untuk itulah secara bertahap mendorong masyarakat untuk menanam tanaman yang adaptif terhadap gambut.

Desa Sungai Beras, masuk dalam landscape gambut pantai timur Jambi yang membentang dari Hutan Lindung Gambut Sungai Buluh Hingga Hutan Lindung Gambut Londerang dengan luasan 311.264 Ha. Pada landscape ini terdapat 3 fungsi kawasan yaitu Area Penggunaan Lain (APL), Hutan Produksi (HP) dan Hutan Lindung Gambut (HLG).

Pada kawasan hutan produksi ini terdapat konsesi PT Wira Karya Sakti dan Diera Hutani Lestari. sedangkan pada kawasan APL tumbuh sejumlah perkebunan sawit, sedangkan pada kawasan hutan lindung gambut, terdapat hutan desa yang dikelola oleh masyarakat.

Di dalam HLG Londerang terdapat Hutan Desa Kota Kandis Dendang. Di dalam kawasan HLG Sungai Buluh Terdapat Hutan Desa Sungai Beras, Sinar Wajo Hutan Desa Pematang Rahim. Kehadiran perusahaan di sekitar desa menyebabkan kawasan gambut dibelah melalui kanal-kanal untuk menurunkan muka air gambut, sehingga bisa ditanami.

Kondisi ini yang menyebabkan gambut menjadi sangat rawan dan mudah terbakar di musim kemarau. Kebakaran yang pernah melanda pada tahun-tahun sebelumnya menyebabkan masyarakat sangat waspada dan berhati-hati dalam mengelola gambut mereka.

Semoga Kamson bisa menjadi contoh bagi masyarakat lainnya yang hidup diatas lahan gambut di Provinsi Jambi guna melestarikan hutan dan lahan pertanian mereka dari ancaman Karhutla.

Baca juga: Dansatgas: Lahan gambut di Jambi masih menyimpan bara api

Baca juga: BRG bangun 50 sumur bor di lahan gambut Tanjung Jabung Timur

 

Oleh Nanang Mairiadi dan Sukmareni
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Jambi resmi bersatus siaga darurat karhutla

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar