Enam warga Sidomulyo Tulungagung terpapar antraks berangsur sembuh

Enam warga Sidomulyo Tulungagung terpapar antraks berangsur sembuh

Petugas menunjukkan foto infeksi kulit pada lengan warga pascakematian 26 ekor sapi akibat bakteri antraks di Desa Sidomulyo, Kecamatan Pagerwojo, Tulungagung, Jawa Timur, Senin (7/6/2021). ANTARA/Destyan Sujarwoko.

belum kering sepenuhnya, namun sudah jauh lebih baik
Tulungagung, Jatim (ANTARA) - Enam warga yang diduga terpapar penyakit antraks dari sapi mati di kampung mereka di Desa Sidomulyo, Kecamatan Pagerwojo, Tulungagung, Jawa Timur, Selasa, saat ini kondisinya berangsur sembuh.

Pengakuan ini disampaikan Agung Ari Saputra selaku Kepala Dusun Toro, Desa Sidomulyo yang juga terpapar bakteri antraks. Benjolan luka mirip bisul seukuran biji salak akibat paparan bakteri diduga antraks (Bacillus Anthracis) terlihat mulai kempes dan mengering.

Fisik Agung juga terlihat bugar dengan muka cerah. "Alhamdulillah ini kondisi saya sudah membaik. Belum kering sepenuhnya, namun sudah jauh lebih baik," tutur Agung Ari Saputra.

Agung merupakan satu dari enam penduduk Desa Sidomulyo yang mengalami gejala gangguan kulit dengan karakteristik atau ciri identik penyakit antraks.

Baca juga: Disnak Tulungagung dirikan posko gabungan pantau antraks
Baca juga: Enam warga alami gejala kulit melepuh, diduga penyakit antraks


Lima warga lain yang terkonfirmasi juga mengalami gejala yang sama, gatal dan melepuh di kulit, lalu diikuti panas tinggi, namun sekarang berangsur membaik. Hal ini seiring proses pengobatan yang terus-menerus, di bawah pantauan tim medis dari Dinkes Tulungagung dan RSUD dr. Iskak.

Gangguan kulit yang dialami seperti benjolan bisul. Awalnya bintik kecil, terus kian membesar hingga sebesar jempol dengan bagian tengah luka kering sehingga menghitam legam seperti arang batubara. Ciri ini merupakan karakteristik penyakit antraks.

"Sepertinya saya terinfeksi bakteri antraks saat membantu petugas kesehatan hewan dari Kementerian Pertanian, tim dari BB Veteriner Yogyakarta, serta disnak melakukan otopsi salah satu ternak sapi warga yang saat itu mati," tuturnya.

Baca juga: 168 hewan ternak di Gunung Kidul mati, ini penyebabnya
Baca juga: Gunung Kidul pastikan kasus antraks tak pengaruhi kunjungan wisatawan


Saat melakukan tindakan pembedahan itu, Agung sebenarnya sudah menggunakan alat pelindung diri sesuai standar penanganan pada hewan. Memakai sarung tangan, sepatu boots dan mencuci tangan usai tindakan.

Namun sepekan setelahnya Agung mulai merasakan bagian tangannya gatal dan terdapat bentol seperti bekas gigitan nyamuk.

"Saat otopsi sudah mengenakan sarung tangan karet tapi gak tahu kok masih bisa terpapar," ujarnya,

Sadar risiko penyakit kulit karena barusan menyentuh ternak mati tak wajar, Agung segera memeriksakan diri ke puskesmas. Apalagi Agung juga mengaku merasakan demam dan mual pada hari kedua.

Khawatir terjadi hal yang tidak diinginkan, Agung lalu memeriksakan kondisi ini ke petugas kesehatan. Terdapat lima warga yang juga menunjukkan gejala seperti Agung. Mereka kemudian diberi obat berupa salep dan antibody.

"Alhamdulillah ini sudah mengering dan tidak demam lagi, katanya kalau tidak diberi obat luka akan lebih besar lagi," tuturnya.

Agung mengaku kondisinya cepat membaik karena gejala antraks yang dia alami cepat ditangani. Ia juga rutin merawat luka dengan memberi salep serta obat telan sesuai resep dokter.

Baca juga: Dinkes Bantul instruksikan rumah sakit antisipasi penyakit antraks
Baca juga: Jadi 30 kasus, dua warga Gunung Kidul dinyatakan positif antraks

Pewarta: Destyan H. Sujarwoko
Editor: Budhi Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar