Pemilih muda Korsel yang marah karena pekerjaan ancam warisan Moon

Pemilih muda Korsel yang marah karena pekerjaan ancam warisan Moon

Ratusan pasangan peserta nikah massal mengenakan masker untuk mencegah wabah virus corona saat acara nikah massal di Unification Church at Cheongshim Peace World Centre, Gapyeong, Korea Selatan, Jumat (7/2/2020). ANTARAFOTO/REUTERS/Heo Ran/foc.

Sangat sulit untuk melihat ke masa depan ketika Anda tidak dapat mengandalkan uang orang tua Anda dan semua yang Anda hasilkan untuk sewa dan makanan, itu hanya akan ludes
Seoul (ANTARA) - Di luar jam pelajaran, Kim Kyung-wook mengantarkan makanan dengan berjalan kaki ke blok apartemen di dekat universitasnya di Seoul timur, sambil terus-menerus memeriksa teleponnya untuk berdagang saham, mata uang kripto, dan menggunakan sepatu kets Nike.

Itu mungkin tidak akan membantunya mendapatkan pekerjaan bergaji tinggi ketika dia lulus akhir tahun ini, tetapi Kim mengatakan pekerjaan sampingan seperti itu adalah "hal yang lebih cerdas untuk dilakukan" dalam menghadapi peluang kerja yang semakin suram dan kesenjangan pendapatan yang meluas di bawah Presiden Moon. Jae-In.

Kim adalah salah satu wajah dari generasi yang hilang yang dilihat banyak orang sedang muncul sebagai kelompok suara kunci yang dapat jadi penentu dalam pemilihan presiden tahun depan. Dia dan pemilih seperti dia sudah membantu kemenangan partai oposisi utama pada pemilihan sela April untuk wali kota Seoul.

"Sepertinya pemerintah mengunci semua orang yang belum mendapatkan pekerjaan tetap atau tidak memiliki properti. Memilih orang lain adalah hal yang paling tidak bisa saya lakukan untuk menunjukkan kepada mereka bahwa segala sesuatunya tidak berjalan dengan baik," kata Kim.

Gedung Biru Kepresidenan menolak berkomentar.

Dengan satu tahun tersisa dalam masa jabatan lima tahun tunggalnya, janji Moon untuk masyarakat yang lebih adil, penuh kasih dan setara bagi banyak orang terdengar hampa. Tetapi kemerosotan yang disebabkan oleh pandemi telah sangat merugikan mereka yang berusia 20-an dan 30-an.

Korea Selatan sekarang memiliki proporsi tertinggi berusia 25-34 tahun dengan gelar pendidikan tinggi di antara negara-negara Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD).

Meskipun menjadi generasi yang paling berpendidikan tinggi dalam sejarah negara itu, hampir satu dari setiap empat orang Korea dalam kelompok usia 15-29 secara efektif menganggur pada Mei, jauh lebih tinggi daripada 13,5% untuk populasi pekerja lainnya.

Harga rumah melaju

Untuk Lee Jung, 27 tahun , yang mengambil bidang studi utama seni liberal, laporan berita bahwa karyawan pengembang perumahan negara menggunakan informasi orang dalam untuk mendapatkan keuntungan dari harga rumah yang melaju pada Maret adalah pukulan terakhir.

"Cukup sulit untuk melihat harga apartemen yang gila-gilaan. Menjjual informasi istimewa seperti itu, setelah memotong penawaran rumah dan hipotek, betapa nekat mereka, itu menjijikkan," kata Lee, yang sedang menabung untuk membeli studio di pinggiran Seoul.

Harga apartemen di Seoul telah melonjak sekitar 60% sejak Moon menjabat pada 2017, meskipun ada sekitar dua lusin putaran pembatasan pasar perumahan.

Lee mengatakan berbagai sanksi pajak untuk mencegah pembelian spekulatif dan aturan yang diperketat pada pengembangan renovasi akhirnya merugikan penyewa.

Kenaikan upah minimum sebesar 35% sejak 2017 adalah kebijakan lain yang dibahas secara luas, yang menurut para kritikus menyebabkan penurunan pekerjaan bergaji rendah di seluruh sektor pengecer dan jasa.

"Sangat sulit untuk melihat ke masa depan ketika Anda tidak dapat mengandalkan uang orang tua Anda dan semua yang Anda hasilkan untuk sewa dan makanan, itu hanya akan ludes," kata Lee, yang mengatakan dia menghabiskan sekitar setengah dari apa yang dia hasilkan untuk sewa dan berencana untuk memilih oposisi.

Merosotnya daya beli masyarakat untuk perumahan telah mengikis peringkat dukungan kepada Moon, sekarang mencapai sekitar 38% dari tertinggi 71% pada Mei tahun lalu, menurut jajak pendapat oleh Gallup Korea, karena lebih banyak anak muda Korea mengalihkan dukungan mereka ke oposisi konservatif.

Saat pemilihan mendekat, kontestan liberal terkemuka untuk menggantikan Moon bersaing untuk mendapatkan kembali kepercayaan para pemilih di usia 20-an dan 30-an, yang membentuk sekitar sepertiga dari suara pemilih.

Lee Jae-myung, gubernur provinsi Gyeonggi yang memimpin jajak pendapat, pada Mei mengusulkan pemberian 10 juta won (Rp 127 juta) voucher "plesir dunia" kepada lulusan sekolah menengah yang memilih untuk tidak melanjutkan ke perguruan tinggi.

Chung Se-kyun dan Lee Nak-yon, keduanya mantan perdana menteri di bawah Moon, juga berjanji untuk menawarkan uang awal untuk investasi atau subsidi sewa guna membantu kaum muda memulai kehidupan.

Tokoh-tokoh di antara oposisi utama Partai Kekuatan Rakyat (PPP) mengatakan langkah seperti itu tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan pemilih yang lebih muda.

"Ini seperti memberikan Advil (obat anti radang) ketika ada kanker yang tumbuh di tubuh Anda," kata Lee Jun-seok, seorang ahli komputer lulusan Harvard berusia 36 tahun, yang merupakan pesaing utama untuk kontes kepemimpinan oposisi Jumat ini.

Dia dan anggota PPP lainnya mengatakan mereka ingin memilih lebih banyak pejabat dari generasi muda untuk lebih mencerminkan pandangan dari generasi muda, dan mendukung usaha rintisan teknologi.

Sumber: Reuters


Baca juga: Korea Selatan pertimbangkan memvaksin pekerja di perusahaan besar

Baca juga: Upaya vaksinasi Korsel bertambah cepat, kasus COVID sedikit melambat

Penerjemah: Mulyo Sunyoto
Editor: Fardah Assegaf
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Pacu pertumbuhan ekonomi, Kalsel jalin kerja sama dengan Korsel

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar