Polisi ringkus pemalak sopir kontainer Marunda Center

Polisi ringkus pemalak sopir kontainer Marunda Center

Enam oknum pemalak sopir truk kontainer di Kawasan Industri Marunda Center Kabupaten Bekasi, Jawa Barat diamankan petugas Polres Metro Bekasi. (Foto: Pradita Kurniawan Syah).

Semalam petugas kami berhasil mengamankan enam orang di lokasi itu
Kabupaten Bekasi (ANTARA) - Kepolisian Resor Metropolitan Bekasi meringkus enam preman yang kerap memalak para sopir truk kontainer di Kawasan Industri Marunda Center, Jalan Marunda Makmur, Kecamatan Tarumajaya, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat.

"Semalam petugas kami berhasil mengamankan enam orang di lokasi itu," kata Kapolres Metro Bekasi Komisaris Besar Pol Hendra Gunawan saat ungkap kasus di Mapolres Metro Bekasi, Sabtu.

Enam preman yang diamankan petugas di antaranya UF, AAS, JP, RK, SB, dan FN. Mereka merupakan warga Kampung Turi Jaya yang lokasinya berdekatan dengan akses menuju kawasan industri Marunda Center.

Dari tangan keenam tersangka, polisi juga berhasil mengamankan barang bukti uang hasil pemalakan sebesar Rp39.500 berikut dua kardus air mineral yang digunakan para tersangka saat menjalankan aksinya.

Hendra mengaku pengungkapan kasus pungutan liar ini menindaklanjuti instruksi Presiden Joko Widodo kepada Kapolri terkait keluhan sopir truk yang mengaku kerap dipalak preman.

Kasat Reskrim Polres Metro Bekasi Ajun Komisaris Besar Andi Odang mengatakan penangkapan ini berawal dari informasi masyarakat yang diterima petugas terkait praktik pungutan liar.

Baca juga: Polrestro Jakarta Barat lakukan OTT terhadap 22 orang tersangka preman

Baca juga: Polri pastikan tindak preman-preman di seluruh Indonesia


"Unit Jatanras yang mendapat informasi langsung bergegas ke lokasi dan mengamankan enam oknum yang sedang memungut uang dari pengemudi truk yang memasuki kawasan industri itu," tutur-nya.

Modus operandi yang dijalankan pelaku adalah dengan menjual air mineral secara paksa kepada supir truk yang melintas seharga Rp7.000. Pengemudi yang menolak beli diwajibkan membayar uang senilai Rp3.000 dengan dalih jatah preman.

Berdasarkan keterangan tersangka, kata Odang, mereka membagi tugas menjadi beberapa shif kerja dengan jam operasi tiga jam secara bergantian.

"Hasil pemeriksaan sementara, dugaan kuat kami ada pengendali atau aktor utama yang menggerakkan para pelaku tersebut. Sedang didalami, petugas di lapangan juga masih menelusuri dan mencari kawanan preman lainnya yang terlibat," ucap-nya.

Odang mengimbau masyarakat yang mengetahui adanya praktik pungutan liar segera melaporkannya ke petugas guna membantu memutus rantai pungutan ilegal itu khususnya di wilayah hukumnya.

"Pungutan liar ini sangat meresahkan pengemudi juga masyarakat," ucap dia menegaskan.

Baca juga: 49 preman terduga pelaku pungli di Tanjung Priok ditangkap

Pewarta: Pradita Kurniawan Syah
Editor: Chandra Hamdani Noor
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Tanggul Citarum jebol, 30 rumah hancur dan warga masih mengungsi

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar