Carbis Bay (ANTARA) - Presiden Prancis Emmanuel Macron mengatakan kepada Perdana Menteri Inggris Boris Johnson pada Sabtu bahwa hubungan Prancis-Inggris hanya dapat diatur ulang jika dia mendukung kesepakatan pemisahan Brexit yang dia tandatangani dengan Uni Eropa.

Sejak Inggris menyelesaikan keluarnya dari Uni Eropa akhir tahun lalu, hubungan dengan blok itu dan khususnya Prancis telah memburuk, dengan Macron menjadi kritikus paling vokal atas penolakan London untuk menghormati ketentuan bagian dari kesepakatan Brexit-nya.

Pada pertemuan di Kelompok Tujuh negara ekonomi paling maju di dunia di Inggris barat daya, Macron mengatakan kepada Johnson bahwa kedua negara memiliki kepentingan yang sama, tetapi hubungan itu hanya dapat meningkat jika Johnson menepati janjinya tentang Brexit.

"Presiden memberi tahu Boris Johnson bahwa perlu ada pengaturan ulang hubungan Prancis-Inggris," kata sumber itu, yang berbicara dengan syarat anonim.

"Ini bisa terjadi asalkan dia menepati janjinya dengan orang Eropa," kata sumber itu, menambahkan bahwa Macron berbicara dalam bahasa Inggris kepada Johnson.

Johnson akan bertemu Kanselir Jerman Angela Merkel pada Sabtu. Dia juga dapat meningkatkan perselisihan tentang bagian dari kesepakatan perceraian EU, yang disebut protokol Irlandia Utara.

Pemimpin Inggris itu, yang menjadi tuan rumah pertemuan G7, menginginkan KTT untuk fokus pada isu-isu global, tetapi telah berdiri teguh pada perdagangan dengan Irlandia Utara, menyerukan Uni Eropa untuk lebih fleksibel dalam pendekatan untuk mengurangi perdagangan ke provinsi itu dari Inggris.

Sumber: Reuters

Baca juga: Presiden Macron ancam tutup perbatasan Prancis-Inggris

Baca juga: PM Inggris kemukakan posisinya di brexit pada PM Macron

Baca juga: Presiden Prancis akan bahas Brexit dengan PM Inggris

Penerjemah: Mulyo Sunyoto
Editor: Atman Ahdiat
Copyright © ANTARA 2021

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.